DICARI: Cangkang kelapa sawit kualitas Dumai atau Palembang. Dibutuh dalam jumlah banyak, sekitar 10.000-25.000 ton/bulan. Harga $23/ton dan kepada para supplier yang berminat bisa menghubungi email fadly_pwk@yahoo.com atau fadlypwkftub@gmail.com atau hubungi 085645042850 atau 085233339728. Kebutuhan cangkang untuk industri pengganti batu bara. Untuk negosiasi dan lain sebagainya dibicarakan selanjutnya sebelum tanda tangan dan kontrak. SEGERA
Selasa, 09 Februari 2010
DICARI: Cangkang Kelapa Sawit
DICARI: Cangkang kelapa sawit kualitas Dumai atau Palembang. Dibutuh dalam jumlah banyak, sekitar 10.000-25.000 ton/bulan. Harga $23/ton dan kepada para supplier yang berminat bisa menghubungi email fadly_pwk@yahoo.com atau fadlypwkftub@gmail.com atau hubungi 085645042850 atau 085233339728. Kebutuhan cangkang untuk industri pengganti batu bara. Untuk negosiasi dan lain sebagainya dibicarakan selanjutnya sebelum tanda tangan dan kontrak. SEGERA
Aku dan Cinta Laura
Umi: "Abi, sudah makan?"
Aku: "sudah tadi siang!"
Umi: "nggak makan malam? diet ya..."
Aku: "emm, abi lagi nggak butuh makan, tapi butuh cinta!" *pasang wajah mupeng*
Umi: "cinta apaan?" *pura-pura gak paham*
Aku: "yah cinta lah, malam-malam gerimis begini"
Umi: "owww, butuh cinta doang yah, nggak butuh makan malem. Umi abisin ya sayurnya"
Aku: "....silent..." (betulan nggak disisain makan malem nih sepertinya)
Umi: "....silent..." (sibuk menghabiskan cap cay catering siang tadi)
Aku: "mi, sebenarnya abi butuh cinta yang benar-benar cinta"
Umi: "....silent..." (hanya melirikku dengan ujung matanya karena mulutnya masih sibuk dengan cap cay yang sepertinya nikmat separuh hidupku)
Aku: "Cinta Laura maksudnya"
Umi: "Oh, Cinta Laura... em, nggak apa-apa koq kalau Abi suka sama Cinta Laura"
Aku: "beneran nggak cemburu???"
Umi: "jiaaah, ngapain juga mesti cemburu... kalau Cinta juga suka sama abi yah silahkan"
Aku: "wak kak3x... terang ajah diijinin, wong namanya Cinta Laura juga belum tentu suka sama abi, ya kan mi..."
Umi: "tipis dah, pokoknya tipis banget kemungkinan Cinta Laura mau sama Abi"
Aku: "hmmmffff $%#&*@(*^$@*&%" *manyun bibir maju 2 centi*
Umi: "Cantik, lucu, imut, cerdas, tenar, masih muda pula... goblik banget dia kalu sampe jatuh cinta sama abi, ckak kak3x..."
Aku: "wak kak3x.. berarti Cinta masih normal mi, masih cinta pada masa depannya.. dan kalau sampe dia jatuh cinta sama abi berarti sudah hilang akal sehatnya dan ingin hidup penuh sahaja bersama abi... wak kak3x..." *aku cekikikan sambil mencubit pipi umi yang telah berhasil meledekke*
Umi: "Adduuuuhhhhh, tatiiiitt tauuuuukkk"
Aku: "huffff, iya sori... ntar diliat Cinta, cemburu pulak dia.. hi3x.."
Senin, 01 Februari 2010
Publis di negeri jiran
Gut lak aja dah buat JADPS, semoga bener-bener bisa terbit di Malaysia. Hepi buanget kalo bisa terbit di sana, secara sudah siapin JADPS2, yang ke 2 nanti terbit di Malaysia aja dah.. need your do'a pren, sumpe.. apalah aku tanpa kalian semua... halah
Jumat, 29 Januari 2010
Katanya sih begitu
Di luar norma kelaziman
Tidak lazim, bahkan di luar batas kelaziman orang-orang pada umumnya. Sebenarnya apa urusanku mendo'akan mereka??? Hmmfffff, aku hanya tidak ingin terjadi kemudharatan pada diri mereka karena pernah menyusahkan aku, berulang aku bermunajat padaNya, "ya ALLAH, apalah aku, kalau tidak adanya aku lebih Engkau sukai, aku ingin agar diriku dihapus saja dari muka bumi ini, tapi bila adanya aku di bumi ini mendatangkan kesukaanmu, jangan biarkan aku menjadi mudharat pada orang lain, disengaja maupun tidak disengaja. Ya ALLAH, selesaikanlah masalah umat ini dengan caraMu, hanya dengan caraMu saja.. amiiin"
Senin, 25 Januari 2010
Materi Interview Beasiswa S3
Persiapan wawancara, tentu saja tentang mental, dan secara teknis jangan pernah melupakan berkas yang dulu pernah di bawa seperti Letter of Acceptance, Letter of Recomendation, Form A, living cost estimation, dan sebagainya. Jika ada data terbaru tentang LoA, nilai TOEFL, dan sebagainya maka segera dibawa juga untuk memperbaiki point penilaian.
Saat wawancara, saya dapet nomer urut 23.. fuiiihhhh, untung saja ada 3 meja, jadi sesi wawancara mulai dari jam 8 sampai ketemu nomer urut 23 membuat aku diwawancara sekitar pukul 12.15 karena seorang kandidiat akan diwawancara sekitar 20-30 menit.
Sekarang tentang konten dan materi wawancara, hampir semuanya berkutat pada Research Proposal, lalu tentang status pernikahan, kesiapan professor di negara asal, dan pertanyaan pendukung lainnya. Yang mewawancara saya kemarin ada 2 orang, Prof Haryo dari ITS (ini mah kenal banget, dosen saya saat kuliah di Arsitektur ITS cuiy), dan seorang lagi Prof dari Universitas Padjajaran.
Haryo: "Selamat, karena anda sudah sampai pada sesi wawancara untuk beasiswa ini"
Saya: "ya Pak, terima kasih"
Haryo: "proposal penelitianmu tentang tsunami di Pacitan, kenapa tsunami?"
Saya: "sebenarnya ini tentang disaster management Pak, resiko gelombang tsunami di sepanjang pantai selatan Pulau Jawa selalu ada, karena barada di patahan (plate) yang aktif dan selalu bergerak"
Haryo: "apa sudah mempelajari kasus di Aceh"
Saya: "emmm, yang ingin saya pelajari tentang pendekatan non fisik, karena setahu saya pendekatan mitigasi bencana yang ada sering berorientasi pada penyelesaian teknis dan pendekatan fisik saja"
Haryo: "bagaimana kamu mau memindahkan masyarakat yang sudah tinggal di sana sejak lama, apa masih feasible?"
Saya: "itu memang tugas panjang, karena merubah paradigma bermukim, dan beberapa usulan dalam hipotesa riset saya adalah memasukkannya ke dalam kurikulum pembelajaran sekolah sejak SD, SMP dan seterusnya sehingga masyarakat mengenal bencana sejak dini"
Haryo: "koordinasi terakhir dengan professor murakami dari universitas miyazaki tentang proposal risetmu, kapan?"
Saya: "minggu lalu beliau menemui saya dan saya ajak ke Pacitan untuk melihat kondisi terkini di Pacitan dan sekitarnya"
Haryo: "OK, dari saya cukup sekian"
Saya: "ya Pak, terima kasih"
UNPAD: "berapa banyak jurnal yang kamu tulis"
Saya: "kalau untuk urusan menulis, setiap tahun saya membuat dua tulisan"
UNPAD: "ini tentang jurnal???"
Saya: "kalau jurnal baru 2 Pak, tapi kalau urusan seminar, conference, simposium berkaitan dengan disaster management, planning, da pelestarian, setiap tahun saya nggak pernah absen"
UNPAD: "ok, sekarang tentang keluarga.. selama menempuh studi di Jepang, apakah keluarga akan di bawa serta?"
Saya: "tidak Pak, agar saya bisa berkonsentrasi menyelesaikan Doktor saya on schedule"
UNPAD: "anak ada berapa?"
Saya: "ada 3 dari istri pertama..." (jawabku santai)
Mendengarkan jawaban dariku, mereka berdua saling pandang dan tertawa bareng, hi3x... sempat-sempatnya guyon saat wawancara...
UNPAD: "Hayooo, punya istri lain ya???"
Haryo: "beneran nih, dari istri pertama?"
Saya: "lhaaa, kan memang dari istri pertama" (jawabku sambil tertawa lebar)
Haryo: "ok, ini pertanyaan serius... jika nanti di Jepang kamu bertemu seorang gadis berparas cantik, baik hati dan suka sama kamu.. apakah kamu akan menyambutnya? katakanlah seperti artika dewa dan atau desi ratnasari???"
Saya: "maaf Pak, bukan tipe saya.. kecuali dia bisa membantu saya menterjemahkan bahasa Inggris saya ke bahasa Jepang sehingga bisa dipublikasikan di Jurnal berbahasa Jepang.. mungkin akan saya pertimbangkan gadis cantik itu..."
mereka: (speachless, nggak bisa ngomong apa-apa)
Saya: "tidak lah pak, hanya bercanda... saya akan konsentrasi dengan urusan studi saya saja" (jiaaaah, gaya amat omongan gua??? otong butuh plester nih sepertinya)
UNPAD: "baiklah, sepertinya cukup"
Haryo: "iyah, sepertinya cukup..."
Saya: "terima kasih pak, terima kasih banyak"
Byuuuuhhhh, ngobrol ngalor ngidul... yaaahhh, walaupun dalam sesi wawancara tapi dibawa santai saja. Bahasa Inggris mereka cukup mudah dicerna, tidak seperti orang Jepang kalau bicara seperti kumur-kumur dengan spelling yang nggak karuan, tapi karena orang Indonesia yang ngomong Inggris, alhamdulillah... so far so good...
Tahun depan masih ada 2011 untuk pendaftaran dan wawancara, yang belum terdaftar segera daftar... karena dana yang disediakan rata-rata 1-2M rupiah per kandidat doktor, tapi ingat.. ini uang negara, gunakan kesempatan ini sebaik mungkin...
Selasa, 12 Januari 2010
ngalor ngidul tapi keren
"Pak Kyai, tau kan tentang cerita saya dikerjain kemarin itu" aku memulai percakapan
"iya, memangnya kenapa..???" sahut beliau singkat
"wah, pokoknya parah banget..." hi..hi.. blow up nih ceritanya , biar tambah penasaran
"memangnya kenapa???" dengan wajah rada jengkel
"tadinya dia bilang bersedia, lalu kalimatnya berubah jadi mengijinkan.. OK lah kalau beg beg beg, OK lah kalau begitu.. (hi3x.. nggak mungkin banget bisa bilang beg beg beg di depan kyai)... tapi, seharusnya kalau tidak bersedia bilangnya kan di muka dan bukan di akhir"
"Oooooww (panjang nih bilang ow nya) begitu, lalu masalahnya dimana"
"malunya itu lho Pak, nggak ketulungan.. hmmm, secara itung-itungan matematik sebenarnya saya sudah yakin banget Bapaknya apalagi Ibunya akan bilang TIDAK, tapi saya tetep saja ngotot nyamperin ke rumahnya" celotehku panjang lebar
Beliau hanya mantuk-mantuk.. mbuh yo, paham opo nggak.. *ragu dot com*
"yang lebih menyakitkan, dia tidak mau minta maaf sama sekali... uggghhhhhh, sombongnya... karena kesal saya sampai keluarkan do'a yang berat, 'Ya ALLAH, selesaikan dengan caraMu, perlakukan dia sebagaimana Engkau mau memperlakukanNya'... mungkin dia tidak merasa bersalah dan begitu pula keluarganya, tapi malu ini bekas banget di wajah" halah, hiperbolik nih kalau sudah begini
Lalu beliau mengeluarkan nasihatnya atas nama orang lain, "Kyai Abdul Aziz pernah bilang bahwa orang miskin di dunia ini dibagi ke dalam dua golongan besar, pertama miskin tapi pandai bersyukur, dapat rezki sedikit saja mereka pandai bersyukur, apalagi kalau banyak. Golongan pertama jumlahnya tidak banyak karena mereka segera akan diangkat ALLAH swt menjadi kaya dengan multi tafsir, bisa kaya secara lahir, dan juga batin atau kaya hati yang tidak bisa diukur dengan benda-benda dunia kekayaannya. Dan golongan kedua adalah, mereka miskin tapi angkuh, biasanya tidak punya kemampuan berpikir, tidak berdaya, ingin selalu dimuliakan, padahal dalam hatinya selalu angkuh dan congkak. Kelompok kedua ini, walau mereka ada tetapi hanya sebagai ujian untuk meningkatkan iman orang-orang di sekitarnya dengan keangkuhannya".
Aku hanya diam terpaku dan... yaaahh, tercengang lah.. masalahnya, ini masih nyambung kah dengan cerita sebelumnya??? *bingung mode on*
Akhirnya kami putuskan ganti tipok, iya nih... jutek ndas kalau membahas cerita begituan. Aku menyambung ceritanya...
"Pak Kyai kenal sama Kyai ini (hiden name)?" tanyaku
"emmm, nggak begitu sih... memangnya kenapa?" beliau bertanya balik
"Anaknya bolak-balik mengingatkanku, 'jangan pergi, jangan pergi, karena kamu akan dipermainkan, hanya akan membuat kamu malu', tapi karena saya keras kepala.. yaudah, tetep saya samperin", lalu aku menunjukkan foto gadis itu melalu layar HP pada beliau
"waaaahh, cantik mas... cantikan ini dari dia" puji beliau
"dulu sekali, 3 tahun yang lalu, saya pernah minta khusus pada ALLAH swt tentang dia, gadis yang mempermalukan aku, dan konyolnya adalah aku meminta padaNya berulang-ulang, lalu dalam sebuah isyarat mimpi saya melihat telah dibariskan bidadari dari timur sampai ke barat dan aku disuruh memilih salah satu diantaranya tapi dengan melupakannya, pesannya agar aku tidak mendapatkan kesusahan karenanya"
"waaahhh, sudah dijawab tuh.. yah ini bidadarinya" jawaban beliau sambil menuding layar di HP murahanku, sungguh spontanitas beliau membikin aku terkejut setengah semaput, hufff... iya kah demikian, dia bidadari itu???
Aku akhirnya diam, tidak melanjutkan ceritaku, beliau juga demikian... sampai ke Puncak gunung kami hanya diam saja tanpa ada percakapan yang berarti...
Jumat, 08 Januari 2010
Kalau saja
Hey.. bisakah kalian berhenti menggangguku? Aku ini sedang luka dan kalian sudah tahu sebarang apapun yang baru saja terjadi padaku. Apa? Kalian bilang aku ketus, sinis, dan seabreg kelimat tak menyenangkan lainnya kalian tumpahkan padaku... Aku sudah tidak perduli. Bisa kan kalau kalian urus saja diri kalian sendiri, karena akupun akan mengurus diriku sendiri.
Seorang gadis mermartabat karena dari kalangan pemuka agama di negeri ini telah datang padaku dan mengatakan "aku akan menolongmu, aku juga akan menyembuhkan luka di hatimu, maka terimalah aku". Aku hanya menjawab dengan bibir tersenyum getir, "Eheem, bisa minta tolong.. jangan pernah mengganggu aku... aku tidak perduli jika kau mampu melihat apa yang terjadi di depan, karena sedikitpun... kamu, aku dan kalian semua tidak bisa mengubahnya kecuali dengan keidzinan dariNya saja".
Lalu gadis itu bercerita kepada Ibunya bahwa cintanya tulus padaku, hmmmm... sebenarnya apa sih maumu? Hey, tahukah kamu... kemarin aku telah mendatangi gadis normal dengan prilaku brilliant di pandangan kebanyakan orang yang dikenalnya, lalu aku menginginkannya. Tapi catat kalimatku, dia normal, dia sangat normal sehingga dengannya dia menolakku. Dia bahkan tidak pernah menginginkan aku, mungkin di matanya aku tidak lebih daripada najis yang menempel di telapak kaki kuda pacuan. Ini semua karena keingan kita untuk memperbaiki masa depan yang ternyata kita tidak kuasa untuk mengubahnya. Ahh, aku melihatnya menangis dan mulai mengkira-kira apakah penyebabnya, aku kira dia menangis karena ini dan itu... lalu saat ayahnya datang menemui aku maka aku melihat peluang untuk menghapus air matanya dengan segala cara. Tapi, hemmmm... kamu tau kan, kalau ALLAH tidak suka maka usaha apapun yang kamu lakukan tidak akan berhasil...
Ah, sudahlah... bukan urusanku untuk menghapus air matanya... lagi pula sejak kemarin rasa enggan mengurusi urusan orang lain mulai tumbuh subur di dalam sanubariku. Walau ada orang lapar, sekarat, merintih di depanku, aku sudah bisa memandang dengan kaca mata yang berbeda, kaca mata keengganan, dengan kalimat lugas di dalamnya, 'Kalian Bukan Urusanku'.
Hufff, rasanya koq egois.. tapi lihatlah gadis yang sempat menanyakan kengininannya untuk merawat hatiku. Bahkan upaya meluluhkan hati ibunya sekalipun dia lakukan.. Hey, tidakkah kamu tahu tentang aku, cobalah melihat aku dengan kacamata mereka-mereka yang normal, tidak ada seorangpun mau dengan aku kecuali pelacur, sampah masyarakat, makhluk hina lainnya dan buka orang normal seperti kalian. Ability?? Halah, bull shit... sejak lama aku tidak menginginkan kemampuan ini.
Aku suka kata ini, lembaran baru... tapi aku punya catatan kecil tentangnya. Jika dulu hatiku bisa luluh bila seorang kaya datang padaku dan berkata, "pren, bantu aku... aku lagi nggak punya duit". Aku tidak perduli jaguar yang parkir di depan kantorku, yang aku perhatikan adalah apa yang baru saja keluar dari bibirnya, kalau dia lagi tidak punya duit. Atau seorang pelacur cantik nan seksi datang padaku sambil berkata, "tuan, aku mau bertobat, beri aku uang untuk menutupi auratku". Aku tidak perduli dengan lelaki yang berada dalam gandengannya atau pada pakaian minim yang dia kenakan, aku akan menyelesaikan masalahnya. Tapi hari ini, walau berpenampilan syeh, walau dia tidak disentuh dosa lalu datang padaku sambil berkata, "tolong selesaikan masalahku", maka aku bisa dengan tegas mengatakan, "kalian bukan urusanku".
Aku belajar egois dari hariku yang kemarin, dan ternyata berhasil... masa depan bukanlah urusanku, masa kini... bagaimana selalu mempesonakanNya dengan hidup tanpa menyusahkan orang lain, karena kalian memang bukan urusanku... mau rumahmu disegel, asetmu disita atau ditempeli papan bertulisan Dalam Pengawasan BANK... hey.. hey.. hey.., bukan urusanku tau, itu urusanmu sendiri. Dan kamu, BPR resek... jangan telpan telpon aku lagi dong, bikin sebel saja sih
Sabtu, 02 Januari 2010
Jangan terlalu baik
Kadang terlalu baik juga salah
Kadang ingin rasanya selalu membantu
Kadang pusing juga dibuatnya
.. lha, kenapa juga dipikir ... piye toh mas
Kemarin lihat ada orang naik sepeda motor bersama istri dan bayinya yang baru dilahirkan, tahu baru dilahirkan dari tas yang digantung pada sepeda motornya ada tulisan Bidan Persalinan dan sebagainya.
Yang bikin sebel adalah, ini orang tua rada gila atau memang gila... gerimis lalu pulang bawa bayi yang baru dilahirkan pake sepeda motor. Ughhh, maunya aku stop trus bilang, "pak, bu... bisa minta tolong, ini ada duit 200rb, Ibu dan bayinya naik taksi saja yah, kasihan bayinya kena hujan". Setelah lampu merah, saya pacu sepeda motor untuk menyusul kedua orang tua ndablek itu, tapi kemudian terhenti... Aku melihat si Ibu mengenakan gelang emas banyak sekali di tangan kirinya, lalu sekilas aku juga melihat si Bapak bertato di lengannya.
Lha, kalau niatan baik tadi aku teruskan, ntar dikira menghina mereka.. wah repot juga nih, akhirnya... dengan berat hati aku urungkan niat membantu si bayi malang yang dibawa pulang kedua orang tuanya saat gerimis.
Hati hanya bisa menangis, tapi khawatir salah melangkah. Sudahlah, jangan terlalu baik pada orang lain, nanti disalah tafsirkan pula... repot tau, belum lagi kalau sampai bikin malu...
Kamis, 31 Desember 2009
URL Beasiswa DIKTI
Ada beasiswa dari Jerman, India, Belanda dan tentu saja beasiswa untuk staf pengajar di Indonesia raya melalui Dirjen Pendidikan Tinggi...
Rabu, 30 Desember 2009
Sebaran penonton blog 2
Arsitekbersastra visitors, current country totals from 10 Jul 2009 to 26 Dec 2009: 1,238 visits shown aboveIndonesia (ID) 931, United States (US) 232, Malaysia (MY) 33, Norway (NO) 9, Europe (EU) 5, Singapore (SG) 4, Australia (AU) 2, Germany (DE) 2, Asia/Pacific Region (AP) 2, Qatar (QA) 2, Russian Federation (RU) 2, Brunei Darussalam (BN) 2, Egypt (EG) 2, Austria (AT) 1, France (FR) 1, Netherlands (NL) 1, Morocco (MA) 1, Taiwan (TW) 1, Angola (AO) 1, Japan (JP) 1, Turkey (TR) 1, Italy (IT) 1, dan Bulgaria (BG) 1
Selasa, 29 Desember 2009
Indonesia telah bubar!!!
Wahhh, pelecehan... siapa sih yang buat peta begini? Saya tersinggung berat, Aceh, sebagian Sumatra Utara, dan Sumatra Barat jadi negara orang lain, Kalimantan Selatan dan sekitarnya juga menggantikan Papua Timur. Yang paling menyebalkan adalah... Emmmm, Bali di mana sih? Yang bikin peta harus tanggung jawab nih, untung orientasiku tidak hanya darat, lautnya salah semua tuh... nggak ikutin daratanSakitnya teramat sakit
Tentang kalimat yang tepat
Kalimat yang sesuai untuk hatiku
Hatiku yang sedang lara
Apakah bisa disembukan?
Aku tidak tahu
Apakah bisa pulih kembali?
Aku juga tidak tahu
Aku terbiasa sakit seperti ini
Tapi kali ini...
Sakitnya teramat sakit
Luka perih mendalam
Aku sudah bersiap untuk kata TIDAK
Tapi sungguh tidak menyangka
Ternyata dia memutar balik lidahnya
Sehingga dia juga berkata TIDAK
Kalau memang TIDAK
Coba katakan sejak dulu
Jangan pernah bilang bersedia
Sekali-kali jangan pernah bilang bersedia
Mau ditaruh di mana wajah ini
Setelah berhadap-hadapan
Ternyata begitu mudah kau menafikkannya
Yang dengannya ragaku berasa tak bertulang
Seringan itukah lidahmu membalik kata
Semudah itukah kalammu bisa berkhianat
Jika kata tidak bisa lagi dipegang
Maka manusia tak ada harga
Segeralah bertobat
Atas semua tingkah di dunia
Bertobat pada sang pencipta
Juga maaf pada pemilik hati yang terluka
Note: aku belum mendapat kata apapun darinya
Senin, 28 Desember 2009
Al-Anfal 25-29
25. dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.26. dan ingatlah (hai Para muhajirin) ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di muka bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, Maka Allah memberi kamu tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya kamu rezeki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur.
27. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.
28. dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.
29. Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. dan Kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa) mu. dan Allah mempunyai karunia yang besar.
Minggu, 27 Desember 2009
Cover sering menipu, hati-hati teman
Tampilan cover memang selalu menipu... "huffff, untung nggak sempat beli", bagi yang kecewa ternyata isi buku tidak sesuai harapan, atau "aduuuhh, koq gini doang sih", bagi yang terperosok membeli buka karena tertipu cover.
Baik luar dan juga dalam, cobalah untuk selalu mempesona. Pesona diri hanya untuk senangkan ALLAH, dan jangan pernah berkhianat pada ALLAH dan rasulNya. Tapi bila hati telah terhijab dengan dunia, seorang murid dari Nabi Isa as sekalipun berkhianat pada gurunya.
Jika memilih istri, jangan lupa istikhara... karena hanya ALLAH yang tahu luar dan dalam seorang wanita, tampang bisa saja terlihat alim, tapi isi... siapa yang bisa menduga, ALLAH saja Dzat yang Maha Tahu. Huffff, 'untung nggak jadi beli'... ahak, paragraf terakhir sudah pernah rilis di NC jilid 1, mungkin ada yang masih inget.. byuuhhh, sudah 3 tahun lalu aku melihatnya tapi sungguh takdir tidak bisa diubah kecuali dengan keidzinanNya. Allahu Akbar...
Salam dari bintang yang selalu tersenyum
Sabtu, 26 Desember 2009
Aib...
"Eh, you know nggak... hari gini, banyak sekali orang suka membuka aib?" ujarnya membuka diskusi
"iya, dan sepertinya sudah biasa banget!" sahutku
Kemudian, Jack nimbrung... secara Jack anak jebolan pondok yang penuh dalil dalam bercakap, Jack bercerita lebih rinci, "tahukah kamu, sesiapa saja membuka aib saudara muslim maka akan dibuka aibnya di dunia sampai akherat, dan sesiapa saja yang menutupi aib saudara muslim maka akan ditutupi aibnya di dunia sampai akherat selama-lamanya".
Kamipun terlihat mantuk-mantuk.. ahak, sebenernya omongannya selalu mbosenin sih, nih mantuk-mantuk bukan pertanda mengerti tapi karena ngantuk saja.
Lalu aku mengeluarkan kalimat yang membuat mereka semua berpikir tentang inti kalimat dan juga... what's wrong brother? mereka seakan bertanya, 'kamu ada masalah apa teman?'
"emmm, jika mempermalukan seorang iman, apa yang akan ALLAH timpakan pada orang tersebut?" tanyaku lugu
Samsul mengeluarkan sumpah serapahnya, "celakalah dia, laknatullah alaih... laknat ALLAH atas orang itu, karena ALLAH akan mempermalukannya sebelum dia mati". Woooow, serem banget kalimatnya
Jack coba berkata bijak, "iman... karenanya para rasul di turunkan, karena perkara iman. Ka'bah ditinggikan oleh tangan seorang Nabi Ibrahim as, tetapi bila ada yang hendak menghancurkan ka'bah maka cukup ALLAH hantar burung ababil dengan sebutir kerikil dari neraka untuk menghancurkan seluruh pasukan gajah. Sedangkan hati, ALLAH menciptanya dengan tanganNya sendiri. Maka kecelakaan apa yang akan ditimpakan pada orang yang mempermalukan orang iman? sungguh kesusahan, kesengsaraan, malapetaka yang tidak bisa dipikirkan oleh akal manusia, tidak pernah terlintas dalam benak manusia, karena sejak saat itu... cukup ALLAH yang akan putuskan apa saja yang akan ditimpakan pada orang tersebut karena memperlakukan orang iman".
Samsul bingung, Agus apalagi, sedangkan aku hanya bisa diam dengan dada bergemuruh. Samsul melirikku, "hey pren, lu ada masalah ya? Tahukah kamu, bila dua orang iman berdo'a, salah satu mengucapkan do'a dan seorang yang lain berkata 'amin' maka sungguh do'anya tidak akan ditolak, bila ada yang melukaimu, ada yang menyakitimu, kami semua akan ucapkan 'amin' untuk do'amu".
Aku hanya tersenyum dengan tawarannya, lalu aku mulai mengangkat tangan dan saudara-saudaraku yang lain duduk merapat hendak mengaminkan do'aku, "Ya Rabb, aku punya hati yang sedang terluka, wajahku telah dipermalukan, dan jasadku serasa tak bertulang... saat mereka mempermalukan aku, maka cukup Engkau saja yang memutuskan apa saja caraMu untuk membalasnya, Ya Rabb... dengan kesusahan hatiku ini, aku ingin do'aku Kau terima tanpa hisab, tanpa perhitungan... Ya Rabb, hapus semua siksa kubur, hapus semua siksa neraka, hapus neraka dari sederet makhluk-makhluk yang pernah Engkau ciptakan... Ya Rabb, sungguh aku takut salah berucap do'a... aku hanya menginginkan kebaikan atas seluruh manusia, aku hanya menginginkan agar semua manusia berkumpul bersama rasulullah saw dalam naungan yang sama, nanti di dalam surgaMu".
Semua teman hanya berkata amin dengan lirih, seseorang diantara mereka memegang pundakku, sepertinya hendak membaca hatiku, sepertinya dia ingin ikut terlibat dengan mengetahui masalahku saat ini. Tapi pegangan tangannya aku tepis, ini masalahku sendiri dan hanya antara aku dengan ALLAH, Rabb hatiku...
Cukup ALLAH yang putuskan mau diapakan dia, cukup ALLAH saja, cukup ALLAH
Kamis, 24 Desember 2009
Kenalan dong!!!
Dilihat lebih lama seperti itu membuatku panas, "nih orang natangin amat sih" begitu pikirku. Akupun membalas pandangan matanya, kami saling melotot, aku melihat matanya tajam dan dia melihat aku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Ughhhhh, minta dihajar nih orang.
Secara postur tubuh, aku memang sedikit berperut (baca: berlemak.. hi3x, asal bukan bergajih saja dah), sedangkan dia... uiihhh, body ateletis, tangan kekar, dada bidang, perut datar, pasti rajin ke Gym nih buat body build.
Karena kesal, akupun menghampirinya... dengan tangan terkepal, jaga-jaga kalau ternyata dia mau pukul aku duluan, lalu setelah berhadapan akupun bertanya padanya, "ada apa ya? apa kamu ada masalah dengan aku?". Dia diam sejenak, lalu mengulurkan tangannya sambil berucap, "kenalan dong, aku Andre.. kamu siapa?". Aku yang tadi marah langsung nggak bisa ngomong... speechless, lhaaaa... ini orang ternyata berhati gadis remaja walau berbadan kekar. Ampun deh, gubraaaaakkkk... kabuuurr ajaaaaa
Kamis, 17 Desember 2009
Aku tidak begitu
2 hari yang lalu
Kau berujar panjang lebar tentang kondisi kesehatanmu, "Tensiku drop, hanya 80/60 saja. Dokter yang periksa aku sampai bingung dan heran, bagaimana mungkin aku masih kuat berdiri".
Aku hanya bisa menghela nafas dan berkata, "banyakin do'a, semoga selalu dalam perlindungan ALLAH".
1 Bulan yang lalu
Aku susah dengan masalahku saat ini lalu coba melegakan sedikit hatiku dengan bercerita pada ALLAH dan juga padanya...
"aku ada masalah, ayah dari temanku berhutang hingga puluhan juta rupiah dan aku sedang tidak punya cukup uang untuk membayarnya... hmmfff, padahal ayah dari temanku itu datang menemuiku, bukankah hal itu menunjukkan bahwa ALLAH memilih aku untuk menyelesaikan masalahnya".
Lalu dia mengucapkan kalimat yang membuat aku terperangah, "aku bisa membantumu, aku akan melunasi hutang ayah temanmu itu, tetapi dengan satu syarat... nikahi aku, jadikan aku istrimu dan aku akan tunaikan hak dan kewajibanku sebagai istri".
Aku terperanjat, lalu meluncur begitu saja sebaris kalimat balasan untuknya, "aku tidak bisa, aku tidak bisa karena hatiku tidak pernah condong padamu".
1 hari lalu
Aku belum lagi menjawab tawarannya untuk menjadikannya sebagai istriku, aku hanya bisa terenyuh melihat kondisinya yang kian paraha. Di seberang sana, dia kembali bertanya dengan suara lirih...
"Bagaimana, jadilah imam bagi diriku yang lemah ini, walau hanya sekejab".
"maaf, aku tidak bisa" begitu jawabku singkat
Lalu kalimat yang tertahan di dadanya tumpah ruah, walau masih dengan tutur kata halus dan diatur hirarkis, dia mulai berkata-kata, "aku bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan hatimu, kau bahkan tidak perlu menikahiku asalkan kau melupakannya, kau melupakan temanmu yang ingin kau bantu ayahnya".
Aku hanya diam, diam yang lama tanpa menjawabnya...
Hari ini...
Aku masih diam, tidak mampu menjawab tanya darinya. Hanya bisa mengucapkan kalimat yang sama dengan kemarin, "maaf, aku tidak bisa, hatiku tidak bisa dipaksa untuk condong padamu".
Sempat terbersit dalam benakku bagaimana jika Sarahku melihat kondisiku saat ini, ahhh... apakah hanya gadis sekarat saja yang mau mencintaiku apa adanya, bagaimana jika kalimat itu aku lontarkan pada Sarah...
Malamnya
Aku berjumpa dengan Sarahku, lalu dia memelukku dari belakang. Sarah memelukku dengan erat, bahkan sangat erat. Aku merasakan punggunggu hangat, punggungku basah karena air matanya mulai keluar dan dia tumpahkan dipunggungku sembari memelukku erat.
Sarah mulai berkata-kata, "tidak John, aku tidak begitu.. aku mencintaimu sebelum aku berjumpa denganmu, walau aku tidak sekarat, sungguh aku bersumpah.. demi Dzat yang jiwaku berada dalam genggamanNya, aku akan tetap mencintaimu... karena memang aku sungguh mencintaimu dari dasar hatiku.. tolong jangan pernah kau ragukan aku, jangan pernah pula kau samakan aku dengan mereka, karena aku selalu akan mencintaimu".
Aku ikut menangis dalam mimpiku, "Sarah, maafkan aku... maafkan aku sayang, maafkan aku"...
*Maaf ini untuk Sarah
Kamis, 10 Desember 2009
Selamat Tinggal Surabaya
Di dalam ruang tunggu, aku menghidupkan laptop Sarah sambil mengakses internet dengan menggunakan wifi. Sesekali aku tersenyum bila aku singgah ke situs dan blog yang menyimpan beberapa kenanganku dengan Sarah. Tanpa aku sadari, seorang Ibu dan anak gadisnya sedang memperhatikan aku, kemudian mataku tertuju pada tas punggung yang di bawa oleh anaknya, tertulis Sarah Amalia ...
Inikah Cinta? Apa saja yang berhubungan dengan yang aku cintai, akan selalu bisa menggetarkan hatiku, walau hanya sebaris nama dari kecintaanku. Tapi membaca baris nama yang tertulis pada tas punggung tersebut bukan membuat aku bahagia, aku jadi teringat Sarahku ... Kemudian mataku bertemu dengan mata gadis itu, manis ... bahkan cantik. Matanya indah sama seperti ibunya, senyumnya renyah, lalu aku coba mengajak mereka berbicara walau hanya sekedar basa-basi ...
"Mau ke Jakarta Bu?" tanyaku
"Eh, iya sebenarnya mau pulang ke Jakarta ... adik sendiri mau ke Jakarta juga?" seraya balik bertanya padaku
"Iya, ada keperluan di Jakarta ... Hanya berdua saja?" tanyaku lagi
"Iya, hanya sama anak saya ini saja. Ke Jakarta pulang kampung atau urusan bisnis?"
"Ada wawancara kerja, jadwalnya nanti sore..." ujarku
"Wah, berani sekali berangkatnya di hari yang sama... maskapai kita kan sering telat dan delay bolak-balik, kenapa tidak berangkat sejak kemarin saja..." anjurnya
"Saya baru tahu panggilan interviewnya tadi pagi, pemberitahuannya via email. Em, anak Ibu sekolah di Surabaya?" tanyaku lagi
"Ah tidak, anak Ibu ke Surabaya untuk berobat..." jelasnya
"Berobat? Memangnya di Jakarta tidak bisa? Di Jakarta kan lebih lengkap peralatan medisnya..."
"Penyakitnya khusus, ini juga rekomendasi dari teman kantor papanya..." jawabnya meluruskan
"Kalau boleh tahu, memangnya sakit apa Bu?" tanyaku penasaran
Ibu tersebut menghentikan obrolannya, memandang anaknya seperti minta persetujuan dari gadis yang duduk manis di sebelahnya tanpa banyak bicara ... kemudian melanjutkan obrolannya ...
"Anak Ibu pecandu obat, dan dia juga depresi ... ah, ini semua salah Ibu karena kurang memberikan kasih sayang padanya. Ibu terlalu sibuk bekerja, padahal anak jauh lebih berharga dari pada uang" jelasnya sambil menghela nafas
"Emmm, nama anak Ibu ... Sarah?" tebakku
"Iya, koq kamu tahu?" jawabnya keheranan
"Saya baca tulisan yang ada di tas punggungnya. Nama itu sama dengan nama istri saya..."
"Oh, adik sudah menikah! Nama istrinya Sarah juga ya... Tapi kalau Sarah lebih akrab dipanggil Amel, nama belakangnya…"
Aku melihat raut wajah gadis tersebut berubah, seperti ingin menampakkan keceriaan walau terpendam. Aku juga sedikit bingung, apa yang kurang dari Ibu ini ... sepertinya baik dan perhatian. Tutur katanya lembut, kenapa bisa anaknya terjerumus hingga menjadi pecandu obat...
John: "Setelah berobat, bagaimana keadaannya Bu"
Ny: "Mudah-mudahan lebih baik, harapan Ibu ... Sarah bisa sembuh"
John: "Mudah-mudahan Bu, kita hanya bisa berusaha dan juga berdo’a, karena kesembuhan hanya milik ALLAH saja ..."
Aku coba memandang Amel dan mencoba untuk berbicara dengannya ... ah, apa yang sedang aku lakukan? Aku hanya ingin melepas rinduku dengan berbincang dengan Sarah Amalia dan bukan Sarah Al-Bisri ...
John: "Saya boleh bicara dengan anak Ibu ...?"
Ny: "Oh boleh sekali, Mel ... itu, ada yang mau ajakin ngobrol..."
John: "Hai, aku John ... Kamu Amel ya..."
Amel: (hanya mengangguk kecil dengan bibir sedikit tersenyum)
John: "Gimana Surabaya, rame ya? Tapi Jakarta lebih rame lagi … Di Surabaya biasa nongkrong di mana saja?"
Mulanya Amel hanya bisa tersenyum saja, karena aku berondong dengan banyak pertanyaan, akhirnya Amel buka mulut juga ...
Amel: "Mmmm, aku suka jalan-jalan ke Tunjungan Plaza ..."
John: "Waw, shoping ya?"
Amel: "Ah, nggak juga ... abisnya Mama sekarang pelit, kartu kreditku diambil, jadinya aku nggak bisa belanja, hanya nonton orang belanja ..."
Ah, aku benar-benar rindu Sarah, aku melihat wajah cemberut Amel seakan aku sedang menganggu Sarah sampe manyun dan siap untuk menangis ...
John: "Emang, sepertinya begitu koq, aku bisa lihat kalau Ibumu itu pelit ... lihat aja badan Ibumu, langsing singset, untuk diri sendiri saja Ibumu males makan ..."
Amel: "Ha... ha... ha... aku sekarang punya sekutu, nggak ada yang berani bilang kalau mamaku itu pelit, kamu orang pertama yang berani bilang ... ha.. ha.. ha.."
Ny: (hanya melotot saja karena kami jadikan bahan gosip)
Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa pesawat kami segera akan berangkat. Aku mengemas barang-barangku dan berpamitan kepada Amel dan Ibunya ...
John: "Sepertinya pesawat kita sudah mau berangkat ... senang mengenal Ibu dan juga Amel ... Amel, kamu cepat sembuh ya..."
Amel: "Hi.. hi.. saya juga senang bisa ketemu kakak, bahagia sekali istrinya kakak karena punya suami yang bisa membuatnya selalu tertawa ... hi.. hi.."
Ny: "Iya, saya juga senang bisa kenal sama adik ... sejak lama Amel tidak pernah seceria ini, eh ... kita belum berkenalan, nama saya Sri Lestari ... , punya kartu nama?"
John: "Hmmm, punya ... kartu nama dari kantor saya yang lama ... tapi nama dan nomer telponnya betul koq ..."
Ny: "Terima kasih, ini kartu nama Ibu ... kalau selama kamu di Jakarta butuh apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi kami ya ..."
John: "Iya Bu, terima kasih tawarannya ..."
Aku membiarkan Amel dan Ibunya berjalan mendahuluiku, karena aku ingin melangkah dengan bersantai sambil membiarkan penumpang lain untuk masuk ke dalam pesawat. Di dalam pesawat, aku sedang sibuk mencari tempat dudukku, 15D ... di tengah dan waw ... aku duduk tepat di seberang Amel dengan nomer seat 15C. Aku hanya bisa tersenyum saat Amel sepertinya begitu girang mengetahui aku duduk di sebelahnya, hanya dipisahkan oleh koridor di dalam pesawat saja ...
John: "Eh, ketemu lagi..."
Amel: "Kakak bohong ya, katanya namanya John ... di kartu nama kok namanya Joko?"
John: "Hi.. hi.. iya, John hanya nama panggilan saja, temen-temen di kantor suka panggil aku John, jadinya kalau kenalan sama orang pasti pake nama John ..."
Amel: "Gak pantes tau, kalau namanya John mestinya orangnya itu keren, macho, cool ... bukan lecek dan kucel seperti kakak …"
John: "Ha.. ha.. kamu bisa aja. Eh, Amel sekolah apa kuliah?"
Amel: "Seharusnya sudah kuliah, tapi Amel harus jalanin terapi obat sudah hampir satu tahun... jadinya gitu deh, sudah lulus SMU tapi belum kuliah"
John: "Oh begitu ya! Kalau kuliah mau masuk jurusan apa?"
Amel: "Amel suka gambar, lukis dan seni ... kalau tidak disain produk, mungkin mau jadi arsitek. Tapi nggak mau seperti mama, mama perancang busana ..."
John: "Kenapa nggak mau seperti mama, kan bisa tajir dan banyak duit?"
Amel: "Ogah ah, ntar anak-anakku terlantar juga seperti aku..."
John: "Eh jangan gitu sama orang tua, ayo minta maaf sama mamamu ..."
Amel: "Enak aja, mama seharusnya yang minta maaf ke aku"
Diluar dugaanku, Ibu Amel memeluk anaknya dan menangis sesegukan. Ups, apa yang sudah aku perbuat? Ahhh, jadi ikut haru deh...
John: "Iya nak, mama minta maaf... maafkan mama ya, mama janji akan selalu ada untuk kamu, tapi kamu cepat sembuh ya..."
Amel: "Iya ma, Amel juga minta maaf... sebenarnya Amel yang bandel"
Aku hanya bisa diam menyaksikan mereka menumpahkan tangisnya. Aku sandarkan punggungku lebih santai di kursi pesawat, aku pejamkan mataku perlahan. Aku sedang menahan tangis yang hampir tumpah di ujung mataku, aku kembali teringat Sarah ... Sarah bila sedang menangis, wajah meweknya bisa membuat aku tersenyum ...
Akhirnya lepas landas juga. Untuk terakhir kali aku memandang Surabaya dari atas, tanpa sadar aku melambaikan tanganku ke arah jendela, tingkahku hanya mengundang tawa Amel dan hal itu juga yang telah sadarkan lambaianku...
Amel: "Hei, ngapain pake dada dada segala?"
John: "Hi.. hi.. gak tau ya, hanya pengen dada doang"
Amel: "Memangnya gak akan balik ke Surabaya lagi?"
John: "Nggak tau juga sih, lihat nanti saja deh..."
Amel: "Memangnya tinggal di mana sih? Istrinya tinggal di mana?"
John: "Asli Jakarta, istri tinggal di Surabaya..."
Amel: "Berarti pasti balik lagi dong ke Surabaya..."
John: "Sebenarnya istri kakak sudah meninggal, dimakamkan di Surabaya ..."
Amel sejenak menghentikan obrolannya, kedua tangannya dipakai untuk menutupi mulutnya, matanya menjadi sedikit terbelalak ...
Amel: "Maaf, saya nggak tahu ... I'm sorry"
John: "Ah, nggak apa ... biasa saja cantik, kakak tidak apa-apa"
Ups, aku menyebut Amel dengan sebutan cantik. Aduh, koq bisa keceplosan begini sih ... aku memandang Amel hanya untuk melihat reaksinya ... Amel hanya diam membisu, aku coba menyapanya ...
John: "Hei, koq bengong sih?"
Amel: "Eh, anu … kaget saja, kamu panggil aku cantik …"
John: "Halah, GR lu … kamu itu cantik kalau semua stok cewek di muka bumi ini habis, baru kamu bisa dipanggil cantik …"
Amel: "Enak aja, aku kan memang cantik beneran … iya kan ma" (sambil meminta dukungan mamanya)
Ny: "Iya cantik, tapi nomer dua … mama nomer satu" (sambil tersenyum dan kerlingkan mata)
Amel: "Hu .. uh, mama koq sekongkol sama Kak John, sebel deh ..."
John: "Iya hanya becanda, iya kamu cantik beneran ... tapi seperti kata mamamu, nomer dua, dua juta sembilan ratus ribu lima belas ... hua ha ha ..."
Obrolan kami sedikit banyak membikin gaduh suasana di dalam pesawat. Sesekali pramugari menghampiri kami dan mengingatkan supaya tidak terlalu ramai kalau berbicara, tapi tetap saja kami ngobrol kesana kemari tidak tentu arah ...
John: "Tuh, diomelin sama pramugarinya ... kalau pramugari tadi cantiknya nomer berapa ya? Nomer tiga deh, tiga ratus lima belas ribu ... lebih tinggi dari rangkingmu"
Amel: "Ugh, awas ya ... ntar aku cubit pipi Kak John"
Di luar dugaanku, Amel berdiri dari tempat duduknya dan menghampiriku lalu benar-benar mencubit pipiku, aduh ... sakit banget
John: "Amel, apa-apaan sih, nggak boleh ... bukan muhrimnya ..."
Amel: "Eh, maaf Kak ... abisnya aku gemes sama kakak..."
John: "Ya sudah, tuh lihat ... pramugarinya melotot ke kita, ntar kamu turun rangking lagi baru tahu rasa ..."
Amel: "Hi.. hi.." (tersenyum lebar, karena dipelototin pramugari dengan rangking tiga ratus lima belas ribu ...)
Akhirnya pesawat kami mendarat di bandara Soekarno Hatta, aku mulai berkemas dan berjalan menuju pintu keluar. Aku berpisah dengan Amel, sepertinya Amel enggan berpisah dariku ...
John: "Amel, kita berpisah di sini ya ..."
Amel: "Kak, kalau ada waktu mampir ke rumah ya..."
Ny: "Iya lho nak John, jangan sungkan ..."
John: "Iya bu, nanti kalau urusan di Jakarta sudah selesai, insya ALLAH saya mampir ke rumah Ibu. Amel, kalau aku datang, siapin makanan yang enak yah ..."
Amel: "Hi.. hi.. tenang saja Kak John, pokoknya beres ..."
Kamipun berpisah, dan sebelum benar-benar berpisah, Amel menubrukku dan memelukku. Aku sungguh kaget dibuatnya, tapi aku harus bagaimana?
John: "Amel, sudah ya ... malu dilihat orang-orang"
Amel: "Kak John, aku baru kenal Kakak, tapi aku baru kali ini kenal orang yang tulus, nggak seperti temen-temen Amel yang lain, berteman karena ingin uangnya Amel, bahkan tubuhnya Amel ..."
John: "ya sudah, lain kali hati-hati cari teman ya ... sudah yah, ditungguin mamamu tuh"
Amel hanya bisa tersenyum renyah dan mengangguk sungguh-sungguh, akupun membalas senyumnya dan kami berpisah di depan area parkiran. Aku hanya bisa melambaikan tangan saat mobil jemputan mereka menjemput, sedang aku bergegas menuju stop area bus damri.
Rabu, 09 Desember 2009
Mengenang Senyummu
Akhirnya aku tiba di rumahku di bilangan Tebet, hmmm … seperti biasa, rumah selalu sepi karena penghuninya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, hanya Mbok Sum yang menyambut kedatanganku, dan setelah berbasa-basi aku segera menuju ke kamarku.Merebahkan punggungku di kasur berpegas, memandangi langit-langit kamar dan sekali lagi senyum manis Sarah terlintas di benakku. Dengan imajinasiku, ku lukis wajahnya di langit-langit kamarku, membelai rambutnya yang indah, meraba pipinya yang merah merona, memandangi wajahnya yang selalu menyejukkan pandanganku. Sarah, aku begitu merindukanmu.
Di rumah ini lah masa kecilku dibangun, dibangun dengan penuh kasih belaian ibu, dengan jadwal padat ala militer dari bapak, dengan pola bandel bentukan aku dan adik-adikku yang terkadang jenuh dengan cara ayah membentuk kami, hi ... hi ... hi ... Bapakku kalau sudah marah, melihat diamnya saja kami semua langsung ketakutan, apalagi kalau sampai keluar sabuknya untuk menakut-nakuti kami yang telat pergi ke masjid setelah adzan subuh ...
Jadi teringat saat Sarah bercerita tentang masa kecilnya, kehidupan yang ceria tanpa pernah tahu bahwa dirinya mengidap penyakit kanker darah.
... ... ... ... ...
Sarah: "waktu kecil, aku suka sekali kalau diajak papa pergi ke taman kota, main kejar-kejaran, main ayunan, beli permen lolipop, seneng banget rasanya ..”
John: "Dave nggak ikutan...?"
Sarah: "kadang-kadang ikut, Dave nggak begitu suka jalan-jalan, sukanya sibuk sendiri di rumah, main musik bareng gank punk nya, brantakin seisi rumah”
John: "Ha.. ha.. ha.. keren dong, nanti kalau kita punya anak lelaki, kira-kira bandel seperti Dave nggak yah"
Sarah: "Aduuuhhhh, amit-amit ... Dave kecil badelnya nggak ketulungan, pernah suatu hari aku pulang belanja sama Ibu bawa kura-kura kecil, lalu aku masukin ke aquarium. Besok paginya aku hanya bisa menangis sedih karena kura-kuraku sudah mati dengan keadaan tubuhnya keluar dari cangkangnya”
John: "Koq bisa begitu?"
Sarah: "Dave bereksperimen dengan kura-kuraku, tubuh kura-kura kecilku dikeluarkan dari cangkangnya pakai obeng, lalu disiram air dingin, katanya Dave biar seger sebab kasihan lihat kura-kuranya dalam jaket batu, sepertinya kepanasan”
John: "Ha.. ha.. ha.. Dave, ada-ada saja, bandel koq sejak lahir ... sampai sekarang Dave kan masih bandel juga"
Sarah memandangku, sepertinya ingin bertanya tentang jenis kenakalan seperti apa yang dilakukan Dave sekarang ...
Sarah: "Dave nakal? Memangnya nakalnya seperti apa? Paling juga usilin kamu doang”
John: "Iya, kalau usilin aku itu sudah menu wajib, tapi kadang pak Robert diusilin juga, misalnya lagi presentasi ada lembaran slide yang menyisipkan gambar Pak Robert bertelanjang dada sedang diapit oleh Luna Maya dan Julie Estle, pokoknya usil yang bikin orang lain ketawa terpingkal-pingkal deh ..."
Sarah: "Memangnya bisa foto Pak Robert diapit oleh artis-artis gitu”
John: "Bisa banget, hari gini ada PhotoShop gitu lho ... aku juga bisa buat foto kita berdua jadi berlima, aku di tengah lalu kamu ada di samping kiri, kanan, dan depan jejer dua, jadi seperti raja minyak yang diapit oleh istri-istrinya"
Sarah: "Oh, gitu yah ... keren dong”
John: "atau begini, dalam frame ada kita berdua, lalu Lindsay Louhan, Jessica Alba, Putri Patricia, Rianti Catwright, dan Carissa Putri, semua dalam satu frame, gimana ... keren abiiiis kan"
Sarah melotot, sepertinya tidak terima kalau dirinya harus dijejer dengan gadis-gadis cantik lainnya, walau hanya dalam bingkai foto ...
Sarah: "John, kamu nggak boleh melakukannya, walau hanya foto, aku pasti akan cemburu jika kamu melakukannya”
John: "Aduh, istrinya Batman belum apa-apa sudah cemburu ... sini, aku kasih peluk ala raja minyak aja deh"
Sarahpun tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dadaku, lalu melanjutkan cerita tentang masa kecilnya bersama keluarga di Jerman
Sarah: "Saat aku kecil, cita-citaku ingin menjadi guru”
John: "hi.. hi.. cita-cita yang mulia, koq bisa kepikiran jadi guru"
Sarah: "Abisnya sebel liat Dave, sekolah dasar kelas 4 masih juga belum lancar membaca, dan parahnya lagi kalau untuk urusan hitung menghitung selalu nggak mau kerjain PR, dibantuin terus sama Ibu, dan kadang tanya ke kakak perempuanku ... parah kan”
John: "Dave dulu lelet bin dudul gitu ya ..."
Sarah: "Hmmm, banget deh pokoknya”
John: "Hi... hi... hi..."
Sarah: "Sebenarnya bukan hanya itu, suatu hari aku pulang membawa buku tugas sekolah dengan nilai matematika hanya 20 saja, aduh ... Papa marah banget, tapi setelah diperiksa Papa ternyata yang salah bukan aku tapi Bu Guru di sekolah salah menilai, hanya karena beda cara mengerjakan lalu disalahkan semua”
John: "Nggak komplain ke Bu Guru mu?"
Sarah: "Sudah, Ibu yang menanyakan prihal nilaiku pada Ibu Kepala Sekolah dan jawabnya sungguh bikin aku sebal, kepala sekolahnya bilang, ‘maklumlah Bu, guru-guru kita yang sudah usia lanjut sulit mengerti dengan cara berfikir anak-anak sekarang yang selalu bisa mendapatkan cara dan metode baru dalam berhitung, mohon dimaklumi’, aku tambah sebel saja karena jawaban Ibu Kepala Sekolah, koq gitu sih???”
John: "Ha.. ha.. ada-ada saja, sampai kelas berapa punya cita-cita jadi guru?"
Sarah: "Sampai saat melihat kakakku terbaring berbulan-bulan di rumah sakit, lalu aku ganti cita-citaku, aku ingin menjadi dokter supaya tidak ada lagi orang yang sakit dan menderita seperti kakakku”
John: "cita-cita yang sungguh mulia, seorang musafir telahpun kelelahan lalu beristirahat di bawah rerindang pohon kurma sambil memandangi hamparan padang pasir dihadapannya. Musafir tadi berkata, ‘seandainya padang pasir ini adalah gandum, semuanya akan aku sedekahkan agar tidak ada lagi yang kelaparan’, dan saat dia tertidur dalam istirahatnya terdengar bisikan yang berbunyi, ‘diterima, niatmu telah diterima oleh ALLAH dan kamu mendapatkan pahala seperti orang yang bersedekah gandum sebanyak padang pasir’. Begitulah pahala niat yang diterima ALLAH"
Sarah: "Padahal si musafir kan hanya niat doang, koq bisa yah???”
John: "karena niat diberi pahala satu sedangkan niat yang diamalkan mendapatkan pahala minimal sepuluh kali lipat, atau sekehendak ALLAH"
Sarah: "Sekehendak ALLAH, maksudnya???”
John: "misalnya sholat di masjid mendapatkan pahala 27 derajat daripada sholat di rumah, sholat di masjidil Haram Mekkah akan mendapat pahala 100.000 kali, sholat saat fii sabilillah mendapat pahala 700.000 kali dan seterusnya sekehendak ALLAH"
Sarah: "subhanallah, besarnya karunia ALLAH ... sebagaimana Dia telah mengkaruniakan aku untuk mendapatkan kamu John ... ahlamdulillah”
Sarah merapatkan tubuhnya, kembali merebahkan kepalanya di dadaku dan mulai memelukku penuh mesra. Sesekali dia meraba dadaku, bermain dengan kancing bajuku, dan terakhir selalu ditutup dengan mencubit pipiku ... aduhhhh, sakit banget kalau sudah dicubit sama Sarah
Sarah: "John, kamu tahu nggak kalau Dave nggak bisa renang?”
John: "Denger-denger dari temen sekantor sih begitu, memang beneran Dave nggak bisa renang?"
Sarah: "Iya, pokoknya parah banget deh, anak laki-laki koq nggak bisa renang”
John: "Koq bisa begitu? Memangnya nggak pernah diajakin renang sama Papamu?"
Sarah: "Sering, tapi Dave nggak begitu suka main di kolam renang, lebih suka main gitar listriknya, main video game, dan kumpul sama gank-gank nya”
John: "Waaahhhh, anak-anak kita nanti harus bisa renang semua, ini sunah rasulullah supaya anak-anak diajari untuk bisa berenang"
Sarah: "John, kamu suka punya anak lelaki atau perempuan”
John: "Aku suka anak lelaki dan juga perempuan, aku suka semua"
Sarah: "Kalau punya anak, pengen punya anak berapa”
John: "Hmmm, berapa yah? Emmmm, selusin deh"
Sarah: "Whaaaa, banyak banget ... memangnya aku kucing apa beranak sampe dua belas”
John: "Kan nggak harus dari satu istri"
Sarah: "maksud loe, ughhhhhh .... John, kamu koq bikin sebel aku yahhh”
John: "aduh... aduh... ampun nona manis, ampun ratuku, sakit banget cubitanmu"
Sarah mulai mencubit apa saja bagian tubuhku yang bisa digapainya, aduuuhh sakit banget deh, lalu aku balas dengan menggelitik perutnya yang seksi hingga dia kegelian dan minta ampun. Hi.. hi.. lucu sekali ekspresi wajahnya kalau sudah lemas karena kegelian aku gelitik perutnya, dan selalu aku tutup dengan memeluk dan mencium keningnya ...
... ... ... ... ...
Hmmmm, hanya dengan mengingati kenangan indah bersama Sarah sudah cukup untuk membahagiakan hatiku. Ya ALLAH, bimbinglah aku, kuatkanlah aku karena hari ini aku sedang bimbang dan juga rapuh.
Mataku tertuju pada jam dinding di kamarku, sudah mendekati pukul 12 siang, sebentar lagi masuk waktu dzuhur di Jakarta. Akupun berbenah, membersihkan diri, pergi ke musholah komplek untuk sholat dzuhur dan bergegas ke kantor LSM tempat aku akan interview. Ya ALLAH, kuatkan aku, bimbing aku wahai Tuhan penguasa seluruh semesta alam. Sesekali aku mencium cincin perak pernikahanku, layaknya pemain Manchester United yang girang setelah membobol gawang lawan, tapi aku mencium cincin ini hanya untuk mengobati kerinduanku yang begitu besar pada Sarah. Selepas sholat dzuhur, aku memilih sepeda motor untuk bisa segera sampai di kantor LSM Penanggulangan Bencana. Wawancara dijadwal pukul 15.00 tapi aku ingin segera berada di sana sebelum waktu wawancaraku, syukurlah di rumah masih ada kendaraan yang tersisa, kalau sedang tidak ingin buru-buru mungkin aku akan memilih Baby Benz tua milik bapakku, walau tua tapi mesinnya enak dan juga terawat dengan baik.
Aku pacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang, sambil kembali mengingat-ingat ruas jalan di kota super sibuk seperti Jakarta. Memang hidup di Jakarta begitu melelahkan, dengan rutinitas harian seperti macet, kendaraan padat, polusi, dan banyak lagi masalah sosial penyertanya, membuat aku tidak terlalu suka untuk tinggal di Jakarta.
Ruas jalan tempat kantor LSM Penanggulangan Bencana sudah ada di depan trafict light, hanya tinggal belok kiri dan sampailah aku. Hmmm, semoga saja wawancara hari ini berjalan dengan baik, semua sudah aku serahkan padaNya, semoga selalu diberi jalan yang terbaik.
Sabtu, 28 November 2009
Jiah, parah amat dah...
Tiba pukul 22.00 lebih sedikit, disambut makan malam (alamak, tadi kan sudah makan), lalu dapet kamar VIP di pojokan. Mulai rehat 23.00 hingga 02.00 dini hari dan seperti biasa, berdo'a dan meminta padaNya. Sedih, sendu, minta lagi, minta lagi, dan lagi, dengan kalimat yang sama, "selesaikan masalah ini dengan caraMu".
Tuh foto di atas lagi narsis bareng Nobel di depan TKP, dan kamar mandi itu tepat berada di belakang kami. Hemmmm... lain kali liat dulu, bisa buka kamar mandinya nggak... fuiiiihhh, alhamdulillah... tapi lumayan, jadi obat nyengir setelah dirundung sedih seraya bermanja-manja denganNya 2 jam belakang. Udahan dulu yak...






