Aku masih duduk di ruang tunggu keberangkatan, pandanganku sesekali mengarah pada toko roti yang berada tepat di depan ruang tunggu. Aku jadi teringat saat dimana Dave meminta pada gadis penjaga kasir untuk melakukan scoring pada diriku, ahhhh ... aku hanya bisa tersenyum kecil, padahal aku suka sekali dengan roti itu tapi pagi ini aku enggan untuk singgah dan duduk di dalam toko roti tersebut, aku ingin melupakan semuanya.
Di dalam ruang tunggu, aku menghidupkan laptop Sarah sambil mengakses internet dengan menggunakan wifi. Sesekali aku tersenyum bila aku singgah ke situs dan blog yang menyimpan beberapa kenanganku dengan Sarah. Tanpa aku sadari, seorang Ibu dan anak gadisnya sedang memperhatikan aku, kemudian mataku tertuju pada tas punggung yang di bawa oleh anaknya, tertulis Sarah Amalia ...
Inikah Cinta? Apa saja yang berhubungan dengan yang aku cintai, akan selalu bisa menggetarkan hatiku, walau hanya sebaris nama dari kecintaanku. Tapi membaca baris nama yang tertulis pada tas punggung tersebut bukan membuat aku bahagia, aku jadi teringat Sarahku ... Kemudian mataku bertemu dengan mata gadis itu, manis ... bahkan cantik. Matanya indah sama seperti ibunya, senyumnya renyah, lalu aku coba mengajak mereka berbicara walau hanya sekedar basa-basi ...
"Mau ke Jakarta Bu?" tanyaku
"Eh, iya sebenarnya mau pulang ke Jakarta ... adik sendiri mau ke Jakarta juga?" seraya balik bertanya padaku
"Iya, ada keperluan di Jakarta ... Hanya berdua saja?" tanyaku lagi
"Iya, hanya sama anak saya ini saja. Ke Jakarta pulang kampung atau urusan bisnis?"
"Ada wawancara kerja, jadwalnya nanti sore..." ujarku
"Wah, berani sekali berangkatnya di hari yang sama... maskapai kita kan sering telat dan delay bolak-balik, kenapa tidak berangkat sejak kemarin saja..." anjurnya
"Saya baru tahu panggilan interviewnya tadi pagi, pemberitahuannya via email. Em, anak Ibu sekolah di Surabaya?" tanyaku lagi
"Ah tidak, anak Ibu ke Surabaya untuk berobat..." jelasnya
"Berobat? Memangnya di Jakarta tidak bisa? Di Jakarta kan lebih lengkap peralatan medisnya..."
"Penyakitnya khusus, ini juga rekomendasi dari teman kantor papanya..." jawabnya meluruskan
"Kalau boleh tahu, memangnya sakit apa Bu?" tanyaku penasaran
Ibu tersebut menghentikan obrolannya, memandang anaknya seperti minta persetujuan dari gadis yang duduk manis di sebelahnya tanpa banyak bicara ... kemudian melanjutkan obrolannya ...
"Anak Ibu pecandu obat, dan dia juga depresi ... ah, ini semua salah Ibu karena kurang memberikan kasih sayang padanya. Ibu terlalu sibuk bekerja, padahal anak jauh lebih berharga dari pada uang" jelasnya sambil menghela nafas
"Emmm, nama anak Ibu ... Sarah?" tebakku
"Iya, koq kamu tahu?" jawabnya keheranan
"Saya baca tulisan yang ada di tas punggungnya. Nama itu sama dengan nama istri saya..."
"Oh, adik sudah menikah! Nama istrinya Sarah juga ya... Tapi kalau Sarah lebih akrab dipanggil Amel, nama belakangnya…"
Aku melihat raut wajah gadis tersebut berubah, seperti ingin menampakkan keceriaan walau terpendam. Aku juga sedikit bingung, apa yang kurang dari Ibu ini ... sepertinya baik dan perhatian. Tutur katanya lembut, kenapa bisa anaknya terjerumus hingga menjadi pecandu obat...
John: "Setelah berobat, bagaimana keadaannya Bu"
Ny: "Mudah-mudahan lebih baik, harapan Ibu ... Sarah bisa sembuh"
John: "Mudah-mudahan Bu, kita hanya bisa berusaha dan juga berdo’a, karena kesembuhan hanya milik ALLAH saja ..."
Aku coba memandang Amel dan mencoba untuk berbicara dengannya ... ah, apa yang sedang aku lakukan? Aku hanya ingin melepas rinduku dengan berbincang dengan Sarah Amalia dan bukan Sarah Al-Bisri ...
John: "Saya boleh bicara dengan anak Ibu ...?"
Ny: "Oh boleh sekali, Mel ... itu, ada yang mau ajakin ngobrol..."
John: "Hai, aku John ... Kamu Amel ya..."
Amel: (hanya mengangguk kecil dengan bibir sedikit tersenyum)
John: "Gimana Surabaya, rame ya? Tapi Jakarta lebih rame lagi … Di Surabaya biasa nongkrong di mana saja?"
Mulanya Amel hanya bisa tersenyum saja, karena aku berondong dengan banyak pertanyaan, akhirnya Amel buka mulut juga ...
Amel: "Mmmm, aku suka jalan-jalan ke Tunjungan Plaza ..."
John: "Waw, shoping ya?"
Amel: "Ah, nggak juga ... abisnya Mama sekarang pelit, kartu kreditku diambil, jadinya aku nggak bisa belanja, hanya nonton orang belanja ..."
Ah, aku benar-benar rindu Sarah, aku melihat wajah cemberut Amel seakan aku sedang menganggu Sarah sampe manyun dan siap untuk menangis ...
John: "Emang, sepertinya begitu koq, aku bisa lihat kalau Ibumu itu pelit ... lihat aja badan Ibumu, langsing singset, untuk diri sendiri saja Ibumu males makan ..."
Amel: "Ha... ha... ha... aku sekarang punya sekutu, nggak ada yang berani bilang kalau mamaku itu pelit, kamu orang pertama yang berani bilang ... ha.. ha.. ha.."
Ny: (hanya melotot saja karena kami jadikan bahan gosip)
Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa pesawat kami segera akan berangkat. Aku mengemas barang-barangku dan berpamitan kepada Amel dan Ibunya ...
John: "Sepertinya pesawat kita sudah mau berangkat ... senang mengenal Ibu dan juga Amel ... Amel, kamu cepat sembuh ya..."
Amel: "Hi.. hi.. saya juga senang bisa ketemu kakak, bahagia sekali istrinya kakak karena punya suami yang bisa membuatnya selalu tertawa ... hi.. hi.."
Ny: "Iya, saya juga senang bisa kenal sama adik ... sejak lama Amel tidak pernah seceria ini, eh ... kita belum berkenalan, nama saya Sri Lestari ... , punya kartu nama?"
John: "Hmmm, punya ... kartu nama dari kantor saya yang lama ... tapi nama dan nomer telponnya betul koq ..."
Ny: "Terima kasih, ini kartu nama Ibu ... kalau selama kamu di Jakarta butuh apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi kami ya ..."
John: "Iya Bu, terima kasih tawarannya ..."
Aku membiarkan Amel dan Ibunya berjalan mendahuluiku, karena aku ingin melangkah dengan bersantai sambil membiarkan penumpang lain untuk masuk ke dalam pesawat. Di dalam pesawat, aku sedang sibuk mencari tempat dudukku, 15D ... di tengah dan waw ... aku duduk tepat di seberang Amel dengan nomer seat 15C. Aku hanya bisa tersenyum saat Amel sepertinya begitu girang mengetahui aku duduk di sebelahnya, hanya dipisahkan oleh koridor di dalam pesawat saja ...
John: "Eh, ketemu lagi..."
Amel: "Kakak bohong ya, katanya namanya John ... di kartu nama kok namanya Joko?"
John: "Hi.. hi.. iya, John hanya nama panggilan saja, temen-temen di kantor suka panggil aku John, jadinya kalau kenalan sama orang pasti pake nama John ..."
Amel: "Gak pantes tau, kalau namanya John mestinya orangnya itu keren, macho, cool ... bukan lecek dan kucel seperti kakak …"
John: "Ha.. ha.. kamu bisa aja. Eh, Amel sekolah apa kuliah?"
Amel: "Seharusnya sudah kuliah, tapi Amel harus jalanin terapi obat sudah hampir satu tahun... jadinya gitu deh, sudah lulus SMU tapi belum kuliah"
John: "Oh begitu ya! Kalau kuliah mau masuk jurusan apa?"
Amel: "Amel suka gambar, lukis dan seni ... kalau tidak disain produk, mungkin mau jadi arsitek. Tapi nggak mau seperti mama, mama perancang busana ..."
John: "Kenapa nggak mau seperti mama, kan bisa tajir dan banyak duit?"
Amel: "Ogah ah, ntar anak-anakku terlantar juga seperti aku..."
John: "Eh jangan gitu sama orang tua, ayo minta maaf sama mamamu ..."
Amel: "Enak aja, mama seharusnya yang minta maaf ke aku"
Diluar dugaanku, Ibu Amel memeluk anaknya dan menangis sesegukan. Ups, apa yang sudah aku perbuat? Ahhh, jadi ikut haru deh...
John: "Iya nak, mama minta maaf... maafkan mama ya, mama janji akan selalu ada untuk kamu, tapi kamu cepat sembuh ya..."
Amel: "Iya ma, Amel juga minta maaf... sebenarnya Amel yang bandel"
Aku hanya bisa diam menyaksikan mereka menumpahkan tangisnya. Aku sandarkan punggungku lebih santai di kursi pesawat, aku pejamkan mataku perlahan. Aku sedang menahan tangis yang hampir tumpah di ujung mataku, aku kembali teringat Sarah ... Sarah bila sedang menangis, wajah meweknya bisa membuat aku tersenyum ...
Akhirnya lepas landas juga. Untuk terakhir kali aku memandang Surabaya dari atas, tanpa sadar aku melambaikan tanganku ke arah jendela, tingkahku hanya mengundang tawa Amel dan hal itu juga yang telah sadarkan lambaianku...
Amel: "Hei, ngapain pake dada dada segala?"
John: "Hi.. hi.. gak tau ya, hanya pengen dada doang"
Amel: "Memangnya gak akan balik ke Surabaya lagi?"
John: "Nggak tau juga sih, lihat nanti saja deh..."
Amel: "Memangnya tinggal di mana sih? Istrinya tinggal di mana?"
John: "Asli Jakarta, istri tinggal di Surabaya..."
Amel: "Berarti pasti balik lagi dong ke Surabaya..."
John: "Sebenarnya istri kakak sudah meninggal, dimakamkan di Surabaya ..."
Amel sejenak menghentikan obrolannya, kedua tangannya dipakai untuk menutupi mulutnya, matanya menjadi sedikit terbelalak ...
Amel: "Maaf, saya nggak tahu ... I'm sorry"
John: "Ah, nggak apa ... biasa saja cantik, kakak tidak apa-apa"
Ups, aku menyebut Amel dengan sebutan cantik. Aduh, koq bisa keceplosan begini sih ... aku memandang Amel hanya untuk melihat reaksinya ... Amel hanya diam membisu, aku coba menyapanya ...
John: "Hei, koq bengong sih?"
Amel: "Eh, anu … kaget saja, kamu panggil aku cantik …"
John: "Halah, GR lu … kamu itu cantik kalau semua stok cewek di muka bumi ini habis, baru kamu bisa dipanggil cantik …"
Amel: "Enak aja, aku kan memang cantik beneran … iya kan ma" (sambil meminta dukungan mamanya)
Ny: "Iya cantik, tapi nomer dua … mama nomer satu" (sambil tersenyum dan kerlingkan mata)
Amel: "Hu .. uh, mama koq sekongkol sama Kak John, sebel deh ..."
John: "Iya hanya becanda, iya kamu cantik beneran ... tapi seperti kata mamamu, nomer dua, dua juta sembilan ratus ribu lima belas ... hua ha ha ..."
Obrolan kami sedikit banyak membikin gaduh suasana di dalam pesawat. Sesekali pramugari menghampiri kami dan mengingatkan supaya tidak terlalu ramai kalau berbicara, tapi tetap saja kami ngobrol kesana kemari tidak tentu arah ...
John: "Tuh, diomelin sama pramugarinya ... kalau pramugari tadi cantiknya nomer berapa ya? Nomer tiga deh, tiga ratus lima belas ribu ... lebih tinggi dari rangkingmu"
Amel: "Ugh, awas ya ... ntar aku cubit pipi Kak John"
Di luar dugaanku, Amel berdiri dari tempat duduknya dan menghampiriku lalu benar-benar mencubit pipiku, aduh ... sakit banget
John: "Amel, apa-apaan sih, nggak boleh ... bukan muhrimnya ..."
Amel: "Eh, maaf Kak ... abisnya aku gemes sama kakak..."
John: "Ya sudah, tuh lihat ... pramugarinya melotot ke kita, ntar kamu turun rangking lagi baru tahu rasa ..."
Amel: "Hi.. hi.." (tersenyum lebar, karena dipelototin pramugari dengan rangking tiga ratus lima belas ribu ...)
Akhirnya pesawat kami mendarat di bandara Soekarno Hatta, aku mulai berkemas dan berjalan menuju pintu keluar. Aku berpisah dengan Amel, sepertinya Amel enggan berpisah dariku ...
John: "Amel, kita berpisah di sini ya ..."
Amel: "Kak, kalau ada waktu mampir ke rumah ya..."
Ny: "Iya lho nak John, jangan sungkan ..."
John: "Iya bu, nanti kalau urusan di Jakarta sudah selesai, insya ALLAH saya mampir ke rumah Ibu. Amel, kalau aku datang, siapin makanan yang enak yah ..."
Amel: "Hi.. hi.. tenang saja Kak John, pokoknya beres ..."
Kamipun berpisah, dan sebelum benar-benar berpisah, Amel menubrukku dan memelukku. Aku sungguh kaget dibuatnya, tapi aku harus bagaimana?
John: "Amel, sudah ya ... malu dilihat orang-orang"
Amel: "Kak John, aku baru kenal Kakak, tapi aku baru kali ini kenal orang yang tulus, nggak seperti temen-temen Amel yang lain, berteman karena ingin uangnya Amel, bahkan tubuhnya Amel ..."
John: "ya sudah, lain kali hati-hati cari teman ya ... sudah yah, ditungguin mamamu tuh"
Amel hanya bisa tersenyum renyah dan mengangguk sungguh-sungguh, akupun membalas senyumnya dan kami berpisah di depan area parkiran. Aku hanya bisa melambaikan tangan saat mobil jemputan mereka menjemput, sedang aku bergegas menuju stop area bus damri.
Kamis, 10 Desember 2009
Rabu, 09 Desember 2009
Mengenang Senyummu
Akhirnya aku tiba di rumahku di bilangan Tebet, hmmm … seperti biasa, rumah selalu sepi karena penghuninya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, hanya Mbok Sum yang menyambut kedatanganku, dan setelah berbasa-basi aku segera menuju ke kamarku.
Merebahkan punggungku di kasur berpegas, memandangi langit-langit kamar dan sekali lagi senyum manis Sarah terlintas di benakku. Dengan imajinasiku, ku lukis wajahnya di langit-langit kamarku, membelai rambutnya yang indah, meraba pipinya yang merah merona, memandangi wajahnya yang selalu menyejukkan pandanganku. Sarah, aku begitu merindukanmu.
Di rumah ini lah masa kecilku dibangun, dibangun dengan penuh kasih belaian ibu, dengan jadwal padat ala militer dari bapak, dengan pola bandel bentukan aku dan adik-adikku yang terkadang jenuh dengan cara ayah membentuk kami, hi ... hi ... hi ... Bapakku kalau sudah marah, melihat diamnya saja kami semua langsung ketakutan, apalagi kalau sampai keluar sabuknya untuk menakut-nakuti kami yang telat pergi ke masjid setelah adzan subuh ...
Jadi teringat saat Sarah bercerita tentang masa kecilnya, kehidupan yang ceria tanpa pernah tahu bahwa dirinya mengidap penyakit kanker darah.
... ... ... ... ...
Sarah: "waktu kecil, aku suka sekali kalau diajak papa pergi ke taman kota, main kejar-kejaran, main ayunan, beli permen lolipop, seneng banget rasanya ..”
John: "Dave nggak ikutan...?"
Sarah: "kadang-kadang ikut, Dave nggak begitu suka jalan-jalan, sukanya sibuk sendiri di rumah, main musik bareng gank punk nya, brantakin seisi rumah”
John: "Ha.. ha.. ha.. keren dong, nanti kalau kita punya anak lelaki, kira-kira bandel seperti Dave nggak yah"
Sarah: "Aduuuhhhh, amit-amit ... Dave kecil badelnya nggak ketulungan, pernah suatu hari aku pulang belanja sama Ibu bawa kura-kura kecil, lalu aku masukin ke aquarium. Besok paginya aku hanya bisa menangis sedih karena kura-kuraku sudah mati dengan keadaan tubuhnya keluar dari cangkangnya”
John: "Koq bisa begitu?"
Sarah: "Dave bereksperimen dengan kura-kuraku, tubuh kura-kura kecilku dikeluarkan dari cangkangnya pakai obeng, lalu disiram air dingin, katanya Dave biar seger sebab kasihan lihat kura-kuranya dalam jaket batu, sepertinya kepanasan”
John: "Ha.. ha.. ha.. Dave, ada-ada saja, bandel koq sejak lahir ... sampai sekarang Dave kan masih bandel juga"
Sarah memandangku, sepertinya ingin bertanya tentang jenis kenakalan seperti apa yang dilakukan Dave sekarang ...
Sarah: "Dave nakal? Memangnya nakalnya seperti apa? Paling juga usilin kamu doang”
John: "Iya, kalau usilin aku itu sudah menu wajib, tapi kadang pak Robert diusilin juga, misalnya lagi presentasi ada lembaran slide yang menyisipkan gambar Pak Robert bertelanjang dada sedang diapit oleh Luna Maya dan Julie Estle, pokoknya usil yang bikin orang lain ketawa terpingkal-pingkal deh ..."
Sarah: "Memangnya bisa foto Pak Robert diapit oleh artis-artis gitu”
John: "Bisa banget, hari gini ada PhotoShop gitu lho ... aku juga bisa buat foto kita berdua jadi berlima, aku di tengah lalu kamu ada di samping kiri, kanan, dan depan jejer dua, jadi seperti raja minyak yang diapit oleh istri-istrinya"
Sarah: "Oh, gitu yah ... keren dong”
John: "atau begini, dalam frame ada kita berdua, lalu Lindsay Louhan, Jessica Alba, Putri Patricia, Rianti Catwright, dan Carissa Putri, semua dalam satu frame, gimana ... keren abiiiis kan"
Sarah melotot, sepertinya tidak terima kalau dirinya harus dijejer dengan gadis-gadis cantik lainnya, walau hanya dalam bingkai foto ...
Sarah: "John, kamu nggak boleh melakukannya, walau hanya foto, aku pasti akan cemburu jika kamu melakukannya”
John: "Aduh, istrinya Batman belum apa-apa sudah cemburu ... sini, aku kasih peluk ala raja minyak aja deh"
Sarahpun tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dadaku, lalu melanjutkan cerita tentang masa kecilnya bersama keluarga di Jerman
Sarah: "Saat aku kecil, cita-citaku ingin menjadi guru”
John: "hi.. hi.. cita-cita yang mulia, koq bisa kepikiran jadi guru"
Sarah: "Abisnya sebel liat Dave, sekolah dasar kelas 4 masih juga belum lancar membaca, dan parahnya lagi kalau untuk urusan hitung menghitung selalu nggak mau kerjain PR, dibantuin terus sama Ibu, dan kadang tanya ke kakak perempuanku ... parah kan”
John: "Dave dulu lelet bin dudul gitu ya ..."
Sarah: "Hmmm, banget deh pokoknya”
John: "Hi... hi... hi..."
Sarah: "Sebenarnya bukan hanya itu, suatu hari aku pulang membawa buku tugas sekolah dengan nilai matematika hanya 20 saja, aduh ... Papa marah banget, tapi setelah diperiksa Papa ternyata yang salah bukan aku tapi Bu Guru di sekolah salah menilai, hanya karena beda cara mengerjakan lalu disalahkan semua”
John: "Nggak komplain ke Bu Guru mu?"
Sarah: "Sudah, Ibu yang menanyakan prihal nilaiku pada Ibu Kepala Sekolah dan jawabnya sungguh bikin aku sebal, kepala sekolahnya bilang, ‘maklumlah Bu, guru-guru kita yang sudah usia lanjut sulit mengerti dengan cara berfikir anak-anak sekarang yang selalu bisa mendapatkan cara dan metode baru dalam berhitung, mohon dimaklumi’, aku tambah sebel saja karena jawaban Ibu Kepala Sekolah, koq gitu sih???”
John: "Ha.. ha.. ada-ada saja, sampai kelas berapa punya cita-cita jadi guru?"
Sarah: "Sampai saat melihat kakakku terbaring berbulan-bulan di rumah sakit, lalu aku ganti cita-citaku, aku ingin menjadi dokter supaya tidak ada lagi orang yang sakit dan menderita seperti kakakku”
John: "cita-cita yang sungguh mulia, seorang musafir telahpun kelelahan lalu beristirahat di bawah rerindang pohon kurma sambil memandangi hamparan padang pasir dihadapannya. Musafir tadi berkata, ‘seandainya padang pasir ini adalah gandum, semuanya akan aku sedekahkan agar tidak ada lagi yang kelaparan’, dan saat dia tertidur dalam istirahatnya terdengar bisikan yang berbunyi, ‘diterima, niatmu telah diterima oleh ALLAH dan kamu mendapatkan pahala seperti orang yang bersedekah gandum sebanyak padang pasir’. Begitulah pahala niat yang diterima ALLAH"
Sarah: "Padahal si musafir kan hanya niat doang, koq bisa yah???”
John: "karena niat diberi pahala satu sedangkan niat yang diamalkan mendapatkan pahala minimal sepuluh kali lipat, atau sekehendak ALLAH"
Sarah: "Sekehendak ALLAH, maksudnya???”
John: "misalnya sholat di masjid mendapatkan pahala 27 derajat daripada sholat di rumah, sholat di masjidil Haram Mekkah akan mendapat pahala 100.000 kali, sholat saat fii sabilillah mendapat pahala 700.000 kali dan seterusnya sekehendak ALLAH"
Sarah: "subhanallah, besarnya karunia ALLAH ... sebagaimana Dia telah mengkaruniakan aku untuk mendapatkan kamu John ... ahlamdulillah”
Sarah merapatkan tubuhnya, kembali merebahkan kepalanya di dadaku dan mulai memelukku penuh mesra. Sesekali dia meraba dadaku, bermain dengan kancing bajuku, dan terakhir selalu ditutup dengan mencubit pipiku ... aduhhhh, sakit banget kalau sudah dicubit sama Sarah
Sarah: "John, kamu tahu nggak kalau Dave nggak bisa renang?”
John: "Denger-denger dari temen sekantor sih begitu, memang beneran Dave nggak bisa renang?"
Sarah: "Iya, pokoknya parah banget deh, anak laki-laki koq nggak bisa renang”
John: "Koq bisa begitu? Memangnya nggak pernah diajakin renang sama Papamu?"
Sarah: "Sering, tapi Dave nggak begitu suka main di kolam renang, lebih suka main gitar listriknya, main video game, dan kumpul sama gank-gank nya”
John: "Waaahhhh, anak-anak kita nanti harus bisa renang semua, ini sunah rasulullah supaya anak-anak diajari untuk bisa berenang"
Sarah: "John, kamu suka punya anak lelaki atau perempuan”
John: "Aku suka anak lelaki dan juga perempuan, aku suka semua"
Sarah: "Kalau punya anak, pengen punya anak berapa”
John: "Hmmm, berapa yah? Emmmm, selusin deh"
Sarah: "Whaaaa, banyak banget ... memangnya aku kucing apa beranak sampe dua belas”
John: "Kan nggak harus dari satu istri"
Sarah: "maksud loe, ughhhhhh .... John, kamu koq bikin sebel aku yahhh”
John: "aduh... aduh... ampun nona manis, ampun ratuku, sakit banget cubitanmu"
Sarah mulai mencubit apa saja bagian tubuhku yang bisa digapainya, aduuuhh sakit banget deh, lalu aku balas dengan menggelitik perutnya yang seksi hingga dia kegelian dan minta ampun. Hi.. hi.. lucu sekali ekspresi wajahnya kalau sudah lemas karena kegelian aku gelitik perutnya, dan selalu aku tutup dengan memeluk dan mencium keningnya ...
... ... ... ... ...
Hmmmm, hanya dengan mengingati kenangan indah bersama Sarah sudah cukup untuk membahagiakan hatiku. Ya ALLAH, bimbinglah aku, kuatkanlah aku karena hari ini aku sedang bimbang dan juga rapuh.
Mataku tertuju pada jam dinding di kamarku, sudah mendekati pukul 12 siang, sebentar lagi masuk waktu dzuhur di Jakarta. Akupun berbenah, membersihkan diri, pergi ke musholah komplek untuk sholat dzuhur dan bergegas ke kantor LSM tempat aku akan interview. Ya ALLAH, kuatkan aku, bimbing aku wahai Tuhan penguasa seluruh semesta alam. Sesekali aku mencium cincin perak pernikahanku, layaknya pemain Manchester United yang girang setelah membobol gawang lawan, tapi aku mencium cincin ini hanya untuk mengobati kerinduanku yang begitu besar pada Sarah. Selepas sholat dzuhur, aku memilih sepeda motor untuk bisa segera sampai di kantor LSM Penanggulangan Bencana. Wawancara dijadwal pukul 15.00 tapi aku ingin segera berada di sana sebelum waktu wawancaraku, syukurlah di rumah masih ada kendaraan yang tersisa, kalau sedang tidak ingin buru-buru mungkin aku akan memilih Baby Benz tua milik bapakku, walau tua tapi mesinnya enak dan juga terawat dengan baik.
Aku pacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang, sambil kembali mengingat-ingat ruas jalan di kota super sibuk seperti Jakarta. Memang hidup di Jakarta begitu melelahkan, dengan rutinitas harian seperti macet, kendaraan padat, polusi, dan banyak lagi masalah sosial penyertanya, membuat aku tidak terlalu suka untuk tinggal di Jakarta.
Ruas jalan tempat kantor LSM Penanggulangan Bencana sudah ada di depan trafict light, hanya tinggal belok kiri dan sampailah aku. Hmmm, semoga saja wawancara hari ini berjalan dengan baik, semua sudah aku serahkan padaNya, semoga selalu diberi jalan yang terbaik.
Merebahkan punggungku di kasur berpegas, memandangi langit-langit kamar dan sekali lagi senyum manis Sarah terlintas di benakku. Dengan imajinasiku, ku lukis wajahnya di langit-langit kamarku, membelai rambutnya yang indah, meraba pipinya yang merah merona, memandangi wajahnya yang selalu menyejukkan pandanganku. Sarah, aku begitu merindukanmu.
Di rumah ini lah masa kecilku dibangun, dibangun dengan penuh kasih belaian ibu, dengan jadwal padat ala militer dari bapak, dengan pola bandel bentukan aku dan adik-adikku yang terkadang jenuh dengan cara ayah membentuk kami, hi ... hi ... hi ... Bapakku kalau sudah marah, melihat diamnya saja kami semua langsung ketakutan, apalagi kalau sampai keluar sabuknya untuk menakut-nakuti kami yang telat pergi ke masjid setelah adzan subuh ...
Jadi teringat saat Sarah bercerita tentang masa kecilnya, kehidupan yang ceria tanpa pernah tahu bahwa dirinya mengidap penyakit kanker darah.
... ... ... ... ...
Sarah: "waktu kecil, aku suka sekali kalau diajak papa pergi ke taman kota, main kejar-kejaran, main ayunan, beli permen lolipop, seneng banget rasanya ..”
John: "Dave nggak ikutan...?"
Sarah: "kadang-kadang ikut, Dave nggak begitu suka jalan-jalan, sukanya sibuk sendiri di rumah, main musik bareng gank punk nya, brantakin seisi rumah”
John: "Ha.. ha.. ha.. keren dong, nanti kalau kita punya anak lelaki, kira-kira bandel seperti Dave nggak yah"
Sarah: "Aduuuhhhh, amit-amit ... Dave kecil badelnya nggak ketulungan, pernah suatu hari aku pulang belanja sama Ibu bawa kura-kura kecil, lalu aku masukin ke aquarium. Besok paginya aku hanya bisa menangis sedih karena kura-kuraku sudah mati dengan keadaan tubuhnya keluar dari cangkangnya”
John: "Koq bisa begitu?"
Sarah: "Dave bereksperimen dengan kura-kuraku, tubuh kura-kura kecilku dikeluarkan dari cangkangnya pakai obeng, lalu disiram air dingin, katanya Dave biar seger sebab kasihan lihat kura-kuranya dalam jaket batu, sepertinya kepanasan”
John: "Ha.. ha.. ha.. Dave, ada-ada saja, bandel koq sejak lahir ... sampai sekarang Dave kan masih bandel juga"
Sarah memandangku, sepertinya ingin bertanya tentang jenis kenakalan seperti apa yang dilakukan Dave sekarang ...
Sarah: "Dave nakal? Memangnya nakalnya seperti apa? Paling juga usilin kamu doang”
John: "Iya, kalau usilin aku itu sudah menu wajib, tapi kadang pak Robert diusilin juga, misalnya lagi presentasi ada lembaran slide yang menyisipkan gambar Pak Robert bertelanjang dada sedang diapit oleh Luna Maya dan Julie Estle, pokoknya usil yang bikin orang lain ketawa terpingkal-pingkal deh ..."
Sarah: "Memangnya bisa foto Pak Robert diapit oleh artis-artis gitu”
John: "Bisa banget, hari gini ada PhotoShop gitu lho ... aku juga bisa buat foto kita berdua jadi berlima, aku di tengah lalu kamu ada di samping kiri, kanan, dan depan jejer dua, jadi seperti raja minyak yang diapit oleh istri-istrinya"
Sarah: "Oh, gitu yah ... keren dong”
John: "atau begini, dalam frame ada kita berdua, lalu Lindsay Louhan, Jessica Alba, Putri Patricia, Rianti Catwright, dan Carissa Putri, semua dalam satu frame, gimana ... keren abiiiis kan"
Sarah melotot, sepertinya tidak terima kalau dirinya harus dijejer dengan gadis-gadis cantik lainnya, walau hanya dalam bingkai foto ...
Sarah: "John, kamu nggak boleh melakukannya, walau hanya foto, aku pasti akan cemburu jika kamu melakukannya”
John: "Aduh, istrinya Batman belum apa-apa sudah cemburu ... sini, aku kasih peluk ala raja minyak aja deh"
Sarahpun tersenyum dan menyandarkan kepalanya di dadaku, lalu melanjutkan cerita tentang masa kecilnya bersama keluarga di Jerman
Sarah: "Saat aku kecil, cita-citaku ingin menjadi guru”
John: "hi.. hi.. cita-cita yang mulia, koq bisa kepikiran jadi guru"
Sarah: "Abisnya sebel liat Dave, sekolah dasar kelas 4 masih juga belum lancar membaca, dan parahnya lagi kalau untuk urusan hitung menghitung selalu nggak mau kerjain PR, dibantuin terus sama Ibu, dan kadang tanya ke kakak perempuanku ... parah kan”
John: "Dave dulu lelet bin dudul gitu ya ..."
Sarah: "Hmmm, banget deh pokoknya”
John: "Hi... hi... hi..."
Sarah: "Sebenarnya bukan hanya itu, suatu hari aku pulang membawa buku tugas sekolah dengan nilai matematika hanya 20 saja, aduh ... Papa marah banget, tapi setelah diperiksa Papa ternyata yang salah bukan aku tapi Bu Guru di sekolah salah menilai, hanya karena beda cara mengerjakan lalu disalahkan semua”
John: "Nggak komplain ke Bu Guru mu?"
Sarah: "Sudah, Ibu yang menanyakan prihal nilaiku pada Ibu Kepala Sekolah dan jawabnya sungguh bikin aku sebal, kepala sekolahnya bilang, ‘maklumlah Bu, guru-guru kita yang sudah usia lanjut sulit mengerti dengan cara berfikir anak-anak sekarang yang selalu bisa mendapatkan cara dan metode baru dalam berhitung, mohon dimaklumi’, aku tambah sebel saja karena jawaban Ibu Kepala Sekolah, koq gitu sih???”
John: "Ha.. ha.. ada-ada saja, sampai kelas berapa punya cita-cita jadi guru?"
Sarah: "Sampai saat melihat kakakku terbaring berbulan-bulan di rumah sakit, lalu aku ganti cita-citaku, aku ingin menjadi dokter supaya tidak ada lagi orang yang sakit dan menderita seperti kakakku”
John: "cita-cita yang sungguh mulia, seorang musafir telahpun kelelahan lalu beristirahat di bawah rerindang pohon kurma sambil memandangi hamparan padang pasir dihadapannya. Musafir tadi berkata, ‘seandainya padang pasir ini adalah gandum, semuanya akan aku sedekahkan agar tidak ada lagi yang kelaparan’, dan saat dia tertidur dalam istirahatnya terdengar bisikan yang berbunyi, ‘diterima, niatmu telah diterima oleh ALLAH dan kamu mendapatkan pahala seperti orang yang bersedekah gandum sebanyak padang pasir’. Begitulah pahala niat yang diterima ALLAH"
Sarah: "Padahal si musafir kan hanya niat doang, koq bisa yah???”
John: "karena niat diberi pahala satu sedangkan niat yang diamalkan mendapatkan pahala minimal sepuluh kali lipat, atau sekehendak ALLAH"
Sarah: "Sekehendak ALLAH, maksudnya???”
John: "misalnya sholat di masjid mendapatkan pahala 27 derajat daripada sholat di rumah, sholat di masjidil Haram Mekkah akan mendapat pahala 100.000 kali, sholat saat fii sabilillah mendapat pahala 700.000 kali dan seterusnya sekehendak ALLAH"
Sarah: "subhanallah, besarnya karunia ALLAH ... sebagaimana Dia telah mengkaruniakan aku untuk mendapatkan kamu John ... ahlamdulillah”
Sarah merapatkan tubuhnya, kembali merebahkan kepalanya di dadaku dan mulai memelukku penuh mesra. Sesekali dia meraba dadaku, bermain dengan kancing bajuku, dan terakhir selalu ditutup dengan mencubit pipiku ... aduhhhh, sakit banget kalau sudah dicubit sama Sarah
Sarah: "John, kamu tahu nggak kalau Dave nggak bisa renang?”
John: "Denger-denger dari temen sekantor sih begitu, memang beneran Dave nggak bisa renang?"
Sarah: "Iya, pokoknya parah banget deh, anak laki-laki koq nggak bisa renang”
John: "Koq bisa begitu? Memangnya nggak pernah diajakin renang sama Papamu?"
Sarah: "Sering, tapi Dave nggak begitu suka main di kolam renang, lebih suka main gitar listriknya, main video game, dan kumpul sama gank-gank nya”
John: "Waaahhhh, anak-anak kita nanti harus bisa renang semua, ini sunah rasulullah supaya anak-anak diajari untuk bisa berenang"
Sarah: "John, kamu suka punya anak lelaki atau perempuan”
John: "Aku suka anak lelaki dan juga perempuan, aku suka semua"
Sarah: "Kalau punya anak, pengen punya anak berapa”
John: "Hmmm, berapa yah? Emmmm, selusin deh"
Sarah: "Whaaaa, banyak banget ... memangnya aku kucing apa beranak sampe dua belas”
John: "Kan nggak harus dari satu istri"
Sarah: "maksud loe, ughhhhhh .... John, kamu koq bikin sebel aku yahhh”
John: "aduh... aduh... ampun nona manis, ampun ratuku, sakit banget cubitanmu"
Sarah mulai mencubit apa saja bagian tubuhku yang bisa digapainya, aduuuhh sakit banget deh, lalu aku balas dengan menggelitik perutnya yang seksi hingga dia kegelian dan minta ampun. Hi.. hi.. lucu sekali ekspresi wajahnya kalau sudah lemas karena kegelian aku gelitik perutnya, dan selalu aku tutup dengan memeluk dan mencium keningnya ...
... ... ... ... ...
Hmmmm, hanya dengan mengingati kenangan indah bersama Sarah sudah cukup untuk membahagiakan hatiku. Ya ALLAH, bimbinglah aku, kuatkanlah aku karena hari ini aku sedang bimbang dan juga rapuh.
Mataku tertuju pada jam dinding di kamarku, sudah mendekati pukul 12 siang, sebentar lagi masuk waktu dzuhur di Jakarta. Akupun berbenah, membersihkan diri, pergi ke musholah komplek untuk sholat dzuhur dan bergegas ke kantor LSM tempat aku akan interview. Ya ALLAH, kuatkan aku, bimbing aku wahai Tuhan penguasa seluruh semesta alam. Sesekali aku mencium cincin perak pernikahanku, layaknya pemain Manchester United yang girang setelah membobol gawang lawan, tapi aku mencium cincin ini hanya untuk mengobati kerinduanku yang begitu besar pada Sarah. Selepas sholat dzuhur, aku memilih sepeda motor untuk bisa segera sampai di kantor LSM Penanggulangan Bencana. Wawancara dijadwal pukul 15.00 tapi aku ingin segera berada di sana sebelum waktu wawancaraku, syukurlah di rumah masih ada kendaraan yang tersisa, kalau sedang tidak ingin buru-buru mungkin aku akan memilih Baby Benz tua milik bapakku, walau tua tapi mesinnya enak dan juga terawat dengan baik.
Aku pacu sepeda motorku dengan kecepatan sedang, sambil kembali mengingat-ingat ruas jalan di kota super sibuk seperti Jakarta. Memang hidup di Jakarta begitu melelahkan, dengan rutinitas harian seperti macet, kendaraan padat, polusi, dan banyak lagi masalah sosial penyertanya, membuat aku tidak terlalu suka untuk tinggal di Jakarta.
Ruas jalan tempat kantor LSM Penanggulangan Bencana sudah ada di depan trafict light, hanya tinggal belok kiri dan sampailah aku. Hmmm, semoga saja wawancara hari ini berjalan dengan baik, semua sudah aku serahkan padaNya, semoga selalu diberi jalan yang terbaik.
Sabtu, 28 November 2009
Jiah, parah amat dah...
Agenda ke luar kota saat itu adalah, menyelesaikan urusan orang lain. Karena jarak TKP (Tempat Kejadian Perkara) terbilang jauh, menempuh jarah lebih dari 350 km dari Surabaya, akhirnya bermalam di sana.
Tiba pukul 22.00 lebih sedikit, disambut makan malam (alamak, tadi kan sudah makan), lalu dapet kamar VIP di pojokan. Mulai rehat 23.00 hingga 02.00 dini hari dan seperti biasa, berdo'a dan meminta padaNya. Sedih, sendu, minta lagi, minta lagi, dan lagi, dengan kalimat yang sama, "selesaikan masalah ini dengan caraMu".
Menjelang subuh, aku mau perbarui wudhuku, karena perbarui wudhu adalah nur diatas nur (hi3x.. sebenernya ragu sih, perasaan tadi keluar deh anginnya... jiah ha3x... full AJ cuiy, jendela kamar dibuka supaya angin sepoi-sepoi leluasa masuk, lah... malah jadi masuk angin), saat perbarui wudhu masuk kamar mandi yang pintunya nggak ada hendle nya dan cklek.. huaaaaa, aku terkunci di kamar mandi, ampun2x dah... hadooooowwww, siapakah gerangan yang akan lewat depan kamar mandi dan menolong orang kusilitan. OMG.. Beberapa saat kemudian, ada juga yang liwat, "mas, tulung, ahak... gak bisa buka pintunya, bukain dong". Ternyata di sini terkunci di kamar mandi sudah biasa, dengan sedikit ketrampilan McGyver mereka lalu tadaaa, kamar mandipun terbuka dan aku keluar. Setelah di luar aku memandang pintu kamar mandi itu sekali lagi dan berkata, "aku haramkan diri ini masuk ke kamar mandi tanpa handle seperti kamu" (ahak, lebay...).
Tuh foto di atas lagi narsis bareng Nobel di depan TKP, dan kamar mandi itu tepat berada di belakang kami. Hemmmm... lain kali liat dulu, bisa buka kamar mandinya nggak... fuiiiihhh, alhamdulillah... tapi lumayan, jadi obat nyengir setelah dirundung sedih seraya bermanja-manja denganNya 2 jam belakang. Udahan dulu yak...
Tiba pukul 22.00 lebih sedikit, disambut makan malam (alamak, tadi kan sudah makan), lalu dapet kamar VIP di pojokan. Mulai rehat 23.00 hingga 02.00 dini hari dan seperti biasa, berdo'a dan meminta padaNya. Sedih, sendu, minta lagi, minta lagi, dan lagi, dengan kalimat yang sama, "selesaikan masalah ini dengan caraMu".
Tuh foto di atas lagi narsis bareng Nobel di depan TKP, dan kamar mandi itu tepat berada di belakang kami. Hemmmm... lain kali liat dulu, bisa buka kamar mandinya nggak... fuiiiihhh, alhamdulillah... tapi lumayan, jadi obat nyengir setelah dirundung sedih seraya bermanja-manja denganNya 2 jam belakang. Udahan dulu yak...
Diabaikan
Kesedihan yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata, kesedihan yang dahsyat... Jika aku berdo'a padaNya Ya ALLAH, Ya ALLAH, Ya ALLAH... maka Dzat yang Maha Pengasih itu selalu punya secuil waktu untuk membalas sapaku...
Tapi kini, satu hurufpun dia tidak pernah membalas sapaku! Kalian bertanya, "apakah aku sedih?", jawabnya, "tentu saja, aku sedih, aku sangat sedih karenanya". Ingin memangis, air mata sudah mengering, isi dada ini rasanya selalu bergemuruh, ahh... apakah aku mengacaukannya? Begitu payahnya aku ini? Ya Rabb, tunjukkan QurdatMu, aku ingin masalah ini segera selesai, dengan QudratMu, dengan Maha Dahsyatnya ketentuan-ketentuanMu
Beberapa saat lalu, aku memang pernah bermimpi, telah dibariskan para bidadari dari timur hingga barat dan diperintahkan padaku untuk memilih salah satu dari mereka lalu diberi nama sebagaimana namanya. seruan itu berbunyi seperti ini, "hai kamu, ALLAH saja pemilik khazanah kebaikan, pilih salah satu dari mereka dan beri nama sebagaimana namanya, karena Dia tidak menginginkan kesusahan atas dirimu".
Kesusahan? Kesusahan apakah? Ah, tidak... akan aku hadapi kesusahan itu, aku mengembalikan semua yang ditawarkan padaku, aku masih inginkan dia, aku tidak peduli dengan kesusahan dan kesulitan yang akan aku hadapi jika aku memilikinya karena aku hanya menginginkannya, bukan pengganti dirinya.
Tapi hari ini, saat pesan tidak dijawab saja aku sudah sedih... aku terabaikan! ALLAH, Kau selalu saja Maha Tahu, apa yang terjadi sekarang dan akan datang, maka Engkau telah mengetahui sebarang kebaikan atau keburukan yang ada di dalamnya. Aku memang tercipta dengan watak yang keras kepala, bahkan dengan isyarat-isyarat dariMu sekalipun aku kadang masih saja keras kepala. Hmmmm, Ya ALLAH... aku serahkan masalah ini padaMu, aku tidak akan menanyakan perihalnya lagi padaMu, habis sudah, jika di dalamnya terdapat kesusahan dan Engkau tahu bahwa aku tidak sanggup menghadapinya, sudah sepatutnya aku menghindari kesusahan ini. Ya Rabb, pertemukan aku dengan kekasihku dalam keadaan baik, kesukaanku hanya dalam menyebut namaMu, penantianku hanya pada hari dimana aku berjumpa dengan kekasihku, jumpa dengan rasulullah saw, kesukaanku hanya dalam menanti hari dimana Engkau membuka hijabMu di hadapan kami, nanti di dalam surga.
Hati ini sering tersayat, tapi kali ini... dia telah terkoyak
Tapi kini, satu hurufpun dia tidak pernah membalas sapaku! Kalian bertanya, "apakah aku sedih?", jawabnya, "tentu saja, aku sedih, aku sangat sedih karenanya". Ingin memangis, air mata sudah mengering, isi dada ini rasanya selalu bergemuruh, ahh... apakah aku mengacaukannya? Begitu payahnya aku ini? Ya Rabb, tunjukkan QurdatMu, aku ingin masalah ini segera selesai, dengan QudratMu, dengan Maha Dahsyatnya ketentuan-ketentuanMu
Beberapa saat lalu, aku memang pernah bermimpi, telah dibariskan para bidadari dari timur hingga barat dan diperintahkan padaku untuk memilih salah satu dari mereka lalu diberi nama sebagaimana namanya. seruan itu berbunyi seperti ini, "hai kamu, ALLAH saja pemilik khazanah kebaikan, pilih salah satu dari mereka dan beri nama sebagaimana namanya, karena Dia tidak menginginkan kesusahan atas dirimu".
Kesusahan? Kesusahan apakah? Ah, tidak... akan aku hadapi kesusahan itu, aku mengembalikan semua yang ditawarkan padaku, aku masih inginkan dia, aku tidak peduli dengan kesusahan dan kesulitan yang akan aku hadapi jika aku memilikinya karena aku hanya menginginkannya, bukan pengganti dirinya.
Tapi hari ini, saat pesan tidak dijawab saja aku sudah sedih... aku terabaikan! ALLAH, Kau selalu saja Maha Tahu, apa yang terjadi sekarang dan akan datang, maka Engkau telah mengetahui sebarang kebaikan atau keburukan yang ada di dalamnya. Aku memang tercipta dengan watak yang keras kepala, bahkan dengan isyarat-isyarat dariMu sekalipun aku kadang masih saja keras kepala. Hmmmm, Ya ALLAH... aku serahkan masalah ini padaMu, aku tidak akan menanyakan perihalnya lagi padaMu, habis sudah, jika di dalamnya terdapat kesusahan dan Engkau tahu bahwa aku tidak sanggup menghadapinya, sudah sepatutnya aku menghindari kesusahan ini. Ya Rabb, pertemukan aku dengan kekasihku dalam keadaan baik, kesukaanku hanya dalam menyebut namaMu, penantianku hanya pada hari dimana aku berjumpa dengan kekasihku, jumpa dengan rasulullah saw, kesukaanku hanya dalam menanti hari dimana Engkau membuka hijabMu di hadapan kami, nanti di dalam surga.
Hati ini sering tersayat, tapi kali ini... dia telah terkoyak
Selasa, 24 November 2009
Aku dan Ibuku
Aku punya seorang Ibu yang begitu aku sayangi, hanya saja aku sering sekali tidak sejalan dalam ide perjuangan dengan Ibu, walau pada akhirnya diluruskan bersama.
Suatu hari Ibu memarahi ku karena saat liburan kuliah aku tidak pulang ke rumah, aku malah pergi untuk urusan agama ke Indonesia bagian timur. Liburan sisa satu minggu, aku pun pulang dan bertemu Ibuku. Mulailah beliau bercerita dengan nada sedikit marah tentang ini, itu, dan sebagainya. Lalu aku pun menjawab, “Bu, apakah selama aku pergi untuk urusan agama, Ibu selalu menangis dan menangis sambil berdo’a dan bermunajat untuk kebaikanku?”, lalu dijawab dengan singkat, “iya, memang seperti itu setiap hari”. Aku pun melanjutkan kalimatku, “demikianlah janji ALLAH, sesiapa saja yang keluar di jalan ALLAH, semata mencari keredhoan ALLAH, maka ALLAH akan mendidik ahli rumah sebagaimana ALLAH mendidik keluarga Ibrahim as, hati, diri dan jiwa akan dicondongkan selalu pada ALLAH, sehingga sedikit demi sedikit iman Ibu pun meningkat sampai kepada tingkat iman yang dikehendaki olehNya”.
Ibu ku terdiam sesaat, mungkin ingin menimpali kalimatku, tetapi tidak dilakukannya. Aku pun kembali berkata-kata, “Bu, tahukah Ibu apa itu wanita mandul?”, Ibuku terlihat ingin menjawab, tetapi suaranya tercekat dan terhenti dengan isak tangisnya. Aku memang sudah pernah menyampaikan perkara ini sebelumnya pada Ibuku melalui surat. Karena diam saja, akupun menjelaskan,”wanita mandul adalah wanita yang dari rahimnya tidak lahir para pejuang agama, tidak lahir para syuhada, yang dengan kurban mereka maka tegaklah agama ini”.
Kami berduapun diam sambil menahan tangis kami masing-masing, Ibuku sudah hilang marahnya dan akupun sedikit lega karenanya.
*Seraya mengenang Ibu (alm)
Suatu hari Ibu memarahi ku karena saat liburan kuliah aku tidak pulang ke rumah, aku malah pergi untuk urusan agama ke Indonesia bagian timur. Liburan sisa satu minggu, aku pun pulang dan bertemu Ibuku. Mulailah beliau bercerita dengan nada sedikit marah tentang ini, itu, dan sebagainya. Lalu aku pun menjawab, “Bu, apakah selama aku pergi untuk urusan agama, Ibu selalu menangis dan menangis sambil berdo’a dan bermunajat untuk kebaikanku?”, lalu dijawab dengan singkat, “iya, memang seperti itu setiap hari”. Aku pun melanjutkan kalimatku, “demikianlah janji ALLAH, sesiapa saja yang keluar di jalan ALLAH, semata mencari keredhoan ALLAH, maka ALLAH akan mendidik ahli rumah sebagaimana ALLAH mendidik keluarga Ibrahim as, hati, diri dan jiwa akan dicondongkan selalu pada ALLAH, sehingga sedikit demi sedikit iman Ibu pun meningkat sampai kepada tingkat iman yang dikehendaki olehNya”.
Ibu ku terdiam sesaat, mungkin ingin menimpali kalimatku, tetapi tidak dilakukannya. Aku pun kembali berkata-kata, “Bu, tahukah Ibu apa itu wanita mandul?”, Ibuku terlihat ingin menjawab, tetapi suaranya tercekat dan terhenti dengan isak tangisnya. Aku memang sudah pernah menyampaikan perkara ini sebelumnya pada Ibuku melalui surat. Karena diam saja, akupun menjelaskan,”wanita mandul adalah wanita yang dari rahimnya tidak lahir para pejuang agama, tidak lahir para syuhada, yang dengan kurban mereka maka tegaklah agama ini”.
Kami berduapun diam sambil menahan tangis kami masing-masing, Ibuku sudah hilang marahnya dan akupun sedikit lega karenanya.
*Seraya mengenang Ibu (alm)
Langgan:
Entri (Atom)
