Sunday, August 31, 2008

aku bangga negeriku

Hari H (aku bangga negeriku)

Setelah 3 hari menjadi ’raja’, dan kesehatanku cukup pulih dan layak untuk pulang, akupun berpamitan dengan ’perdana menteri’, ”dokter, terima kasih karena telah merawat saya dengan sangat baik, andai semua pejabat dan petinggi negeri ini seperti anda, aku yakin kerajaan ini akan menjadi kerajaan yang sempurna dan disegani oleh semua kerajaan di alam semesta”. Dokter puskesmas itu hanya tersenyum, dan berkata, ”aku memang tidak pantas menjadi perdana menteri seperti sangkaanmu, aku hanya pantas menjadi dokter di puskesmas terpencil, aku bisa mengabdi tanpa mengharap untuk selalu diberi, dan kamu cepat besar, agar bisa menjadi sesuatu yang berarti bagi ibu pertiwi”.

Aku sedikit bingung dengan kalimat ’perdana menteriku’, sungguh orang yang sangat bijaksana. Setelah berjabat tangan, dan aku memberinya peluk hangat terbaikku sambil berkata, ”senang bisa mengenal anda, lain waktu kita bertemu kembali”. Dokter puskesmas itu hanya mengangguk kecil, dan kamipun berpisah dengan hangat.

Aku kembali menuju rumahku yang nyaman, rindu masakan Ibu yang selalu menggoda selera, rindu bertengkar dengan adikku yang lucu. Aku masih dibantu berjalan oleh teman-temanku menuju kamarku, dan akhirnya ... ah, springbed cintaku, aku rebahkan tubuhku di atasnya, lalu tanganku meraih remote TV, dengan sekali pencet ... aku mulai melihat-lihat isi dunia, khususnya berita tentang negeri ini setelah tiga hari aku tinggal jadi raja, hi.. hi.. hi..

Aku bangga negeriku, negeri yang sedang membangun, dengan keterbatasan pengalamannya, tap aku tetap bangga ... aku bangga negeriku

END

rakyat jelata

H - 1 (rakyat jelata)

Hari ini, hari ke tiga aku menjadi raja. Jin negeri kembali mendatangiku, ”katakan permintaan terakhirmu”. Aku terdiam sesaat, sudah semalaman aku berfikir tentang permintaan terakhir, lalu akupun mengucapkan permintaan terakhirku, ”aku ingin dikembalikan seperti semula, saat dimana kita pertama kali bertemu, di hari yang sama, dan aku ingin menjadi rakyat jelata, aku tidak pernah mampu menjadi raja, aku terlalu lalim, aku hanya bisa membunuh petinggi kerajaan, pemikiranku terlalu dangkal, dan aku tidak pantas menjadi raja”.

Beberapa saat kemudian, cahaya terang menyelubungi diriku, aku berada di dalam gua yang sama tetapi pada hari yang berbeda ... beberapa orang kampung menemukanku bersama dengan teman-temanku para pecinta alam yang mendaki gunung hingga tersesat dalam hujan.

Aku telah sadar dari pingsanku, aku kembali ke habitatku sebagai rakyat jelata, seorang mahasiswa, dan bukan seorang raja kerajaan tumpah darahku, kerajaan ibu pertiwi. Beberapa orang kampung datang dengan membawa tandu dan perlengkapan P3K.

Mimpi yang aneh dan panjang, aku menghela nafasku, beberapa teman menggenggam tanganku, bahkan orang tuaku telah menanti di puskesmas desa dengan sangat cemas. Setelah tiba, aku langsung dirawat dengan baik, beberapa teman datang menjenguk dan memberi semangat agar aku cepat sembuh.

Di puskesmas, aku dikejutkan dengan kedatangan dokter jaga yang wajahnya mirip sekali dengan perdana menteri, refleks aku memanggilnya, ”perdana menteri .. eh ...”, dokter puskesmas terdiam sesaat, dan berkata, ”istirahat dulu, kalau sudah sembuh baru boleh panggil saya perdana menteri”. Aku hanya tersenyum dalam hatiku, ah ... tenyata semua mimpi, aku lebih senang menjadi diriku sendiri, rakyat jelata dan bukan raja.

bersambung

Hari Eksekusi

H - 2 (Hari Eksekusi)

Hari ketiga aku menjadi raja, Jin negeri kembali menemuiku dan menanyakan permintaan ketiga dan juga terakhir, lalu aku berkata, ”bisakah aku memintanya besok, hari ini aku punya agenda kerajaan yang sangat penting”. Dengan sedikit negosiasi, akhirnya Jin negeripun bersetuju dan berjanji akan kembali esok hari.

Aku sudah berada singgahsanaku yang aku letakkan di depan lapangan upacara kerajaan, aku mengamati semua tertuduh korupsi dari kalangan pejabat tinggi kerajaan yang kembali untuk mengantarkan nyawanya. Aku menyampaikan pengumuman penting, ”adakah diantara pejabat kerajaan yang belum berkumpul?”, semua hening, senyap ... ”hari ini, aku ingin bertanya pada kalian semua, apakah kalian masih meminta ampunan dariku?”, dengan serta merta, mereka semua menangis, melolong, merengek, ”ampuni kami wahai paduka raja, ampuni kami”, tangis mereka disambut iring-iringan tangis sanak keluarga yang ikut menyaksikan prosesi ini. Istri, anak, keponakan, saudara lelaki, ayah, ibu, semua sanak keluarga mereka minta diampuni ...

Hmmmm, aku menghela nafas, aku memanggil menteri urusan pertanian dan peternakan untuk maju ke hadapan, ”apa yang kamu lakukan sehingga kalangan pemberantas korupsi memasukkanmu ke dalam daftar koruptor?”. Dengan terbata, menteri urusan pertanian berkata, ”aku membeli bibit tanaman dari negara tetangga, dan menjualnya dengan harga pantas kepada rakyat, aku juga membeli bahan baku pembuat pupuk dan aku jual pupuk itu kepada rakyat, juga dengan harga yang pantas, semua dan semua aku lakukan untuk kepentingan rakyat”. Aku terdiam sesaat, lalu aku minta seorang demonstran yang masih saja berdemo di gerbang istana dari kalangan petani dan peternak untuk berdiri di sampingku.

Seorang dari kalangan petani datang dengan hasil pertaniannya, dan seorang peternak juga datang dengan beberapa ternaknya yang kurus, aku bertanya pada petani, ”berapa harga bibit yang kamu beli dan berapa pula harga pupuk untuk menyuburkan pertanianmu”. Kemudian, petani tersebut mengeluarkan sumpas serapahnya, ”raja sialan, kami mana mampu membeli bibit tanaman yang baik dari kerajaan, harganya tinggi sampai ke langit, apalagi beli pupuk ... hey raja, apa kamu tidak tahu kalau kami sudah lama meninggalkan bertani, ini aku bawakan oleh-oleh dari hasil pertanianku, cium baunya, baunya busuk sebusuk hatimu yang membiarkan kami menderita ...” ... braaaak, sayur mayur busuk dilemparkan ke arahku, dan disambut dengan kokang senjata paspamra, tapi aku mengangkat tangan kiriku sebagai isyarat agar mereka memendam amarahnya.

Hatiku terenyuh, lalu aku bertanya pada peternak, ”apa kabar ternakmu”. Peternak ini tidak kalah lantang dengan petani, ”raja, matamu buta ... lihat ternakku yang kurus ini, kau pasti tidak akan peduli jika aku ceritakan bahwa anak-anakku kurus kering, lebih kurus dari tenak yang aku bawa, bagaimana bisa kamu masih berdiri sebagai raja, sedangkan rakyatmu sekarat meregang nyawa.. cuiiihhhh”. Peternak itu meludahi wajahku, ah ... inilah aku, raja lembek dan payah, dan kali ini paspamra telah habis sabarnya, dengan sekali pukul peternak tadi tersungkur mencium tanah karena seorang paspamra melayangkan bogemnya. Aku meradang, ”hey, apa yang kamu lakukan, aku mencintai rakyatku lebih dari aku mencintai diriku sendiri, paspamra kurang ajar ...”. Aku menarik kerah bajunya dan merebut senjata genggam dari pinggangnya, aku menodongkan senjata itu di pelipis paspamra tersebut, tapi ujung mataku melihat perdana menteri sedang tertunduk sedih, aku bisa melihat sesekali perdana menteri menitikkan air mata dan menghapus tiap tetesnya dengan punggung tangannya.

Hatiku mulai mencair, aku lepaskan cengkram di kerah baju paspamra, tapi aku tetap mengokang senjata genggam di tanganku, aku arahkan ke wajah menteri urusan pertanian dan peternakan dan menempelkan moncongnya di kening menteri, kemudian dengan mengiba, menteri pertanian dan peternakan merengek, ”ampuni aku raja, ampuni aku paduka, hamba hanya mengikuti sistem saja, semua pejabat melakukannya”. Aku membalas rengeknya, ”minta ampunlah pada rakyat yang kelaparan, minta ampun pada peternak yang keluarganya kurus kering”.

Lalu menteri pertanian dan peternakan memeluk kaki petani dan peternak secara bergantian, sambil terus melanjutkan tangisnya, aku memberikan pistol yang telah aku kokang pada peternak yang tadi dipukul oleh paspamra, dengan sedikit ragu si peternak tadi menerima pistol tersebut dan mengarahkan moncongnya, bukan ke arah paspamra yang telah memukulnya, bukan ke arah menteri pertanian dan peternakan, tapi ke arahku.

Tingkah peternak disambut dengan ribuan kokang senjata para militer yang berada di lapangan upacara, tapi selang beberapa detik ... DOOOOR... DOOOOR... DOOOOR... DOOOOR... DOOOOR... DOOOOR... DOOOOR... DOOOOR... DOOOOR... DOOOOR... klik... klik... klik... pertanda isi magazine telah kosong, karena pelurunya telah bersarang di dalam kepala menteri pertanian dan peternakan. Sepuluh kali peluru panas menembus kepala menteri pertanian dan peternakan dan aku sedikit heran, hanya sepuluh kali, bukankah isi magazine seharusnya dua belas atau lima belas, kenapa hanya sepuluh.

Aku berkata lantang, ”mana menteri pertahanan urusan peralatan perang? maju ke hadapanku”. Kemudian maju ke hadapanku seorang dengan badan cukup tegap, tapi sepertinya telah berumur, lalu aku bertanya padanya, ”kenapa isi magazine di dalam pistol genggam paspamra hanya sepuluh butir peluru, kemana perginya peluru lainnya?”. Dengan tegas, menteri pertahanan urusan peralatan perang berkata, “karena biaya pembelian dan atau pembuatan dua peluru lainnya saya pakai untuk meningkatkan kesejahteraan personil di jajaran kementrian pertahanan”. Hmmm, aku menghela nafas cukup lama, apakah gaji mereka masih kurang, “apa lagi yang kamu lakukan untuk meningkatkan kesejahteraan personil di kementrian pertahanan?”, lalu menteri menjawab, “untuk pengadaan kendaraan perang, aku sengaja menaikkan harganya, sehingga selisihnya dapat aku simpan di dalam kas kementrian pertahanan, dan banyak lagi, semua sejenis dan seperti itu. Hal ini telah kami lakukan sejak lama paduka, sudah sejak lama”.

Kali ini, kesabaranku telah habis, aku perintahkan semua para militer yang telah siap dengan senjata terhunus untuk membantai semua menteri, pejabat tinggi, dan staf ahli mereka, semua di hukum mati dengan sekali perintah, “bunuh mereka semua, dan pastikan mereka benar-benar mati”. Hening beberapa saat, lalu berubah menjadi hingar bingar, berondong senjata, pistol, senjata otomatis, bahkan belati, semua digunakan oleh para militer untuk mengeksekusi para pejabat tinggi kerajaan tanpa terkecuali.

Hanya lima menit, lapangan upacara kerajaan telah berubah menjadi kubangan darah, sesekali masih saja aku mendengar muntahan peluru dari pistol paspamra dan para militer yang mendatangi tiap tubuh, memastikan mereka benar-benar tewas dengan muntahan peluru ke arah jantung dan kepala para menteri yang telah terkapar bersimbah darah.

Mataku tertuju pada perdana menteri yang sedari tadi diam membisu, kali ini perdana menteri bersimpuh sambil menutup wajahnya, seakan tidak percaya bahwa telah terjadi pembantaian atas semua pejabat tinggi negara yang masuk ke dalam daftar orang yang merugikan kerajaan dengan korupsi.

Jendral petinggi militer datang menghampiriku, dan berkata, ”apa yang harus aku lakukan dengan pejabat kerajaan di kampung, village, distrik dan negara bagian, apakah dieksekusi juga?”. Kali ini aku meminta pendapat dari perdana menteri, “bagaimana pendapatmu, wahai perdana menteri yang bijak”, dengan sisa isak tangisnya, perdana menteri berkata, “jangan ada lagi eksekusi, beri mereka surat peringatan, kirim mereka peti mati, tulis di atasnya, jika mereka korupsi, mengambil hak rakyat, dan menipu masyarakat, mereka juga akan menemui ajal seperti pejabat tinggi kerajaan saat ini, tidak ada peringatan kedua, sekali saja mereka korupsi walau hanya mengambil satu lembar kertas dari gudang perbendaharaan kekayaan kerajaan tanpa alasan yang jelas tentang kegunaannya, bunuh mereka, buang mayatnya ke laut, karena aku tidak sudi kerajaan ini ditumpahi darah kotor para koruptor, karena hanya darah pejuang kerajaan saja yang layak tertumpah di atas kerajaan ini, kerajaan tumpah darahku, kerajaan ibu pertiwi”.

Sungguh mengagumkan, aku terlalu menggebu dan gegabah dalam memutuskan hukuman pada para pejabat tinggi kerajaan, tidak seperti perdana menteri yang selalu bisa berkata bijak. Ah, mau bagaimana lagi, menjadi raja memang permintaan sesaatku ... sekarang, semua telah terjadi, apa yang bisa aku lakukan ...

bersambung

Rapat anti repot

H - 3 (Rapat anti repot)

Menjelang dini hari, aku memanggil 3 pejabat kerajaan yang rela mati karena merasa pantas untuk mati, kami melakukan rapat kecil di ruang tamu instana kerajaan. Dengan ditemani perdana menteri kerajaan, aku memulai pembicaraan dan membuka rapat. “tuan-tuan sekalian, apakah kalian tahu, kenapa kalian aku panggil untuk hadir ke istana kerajaan tengah malam seperti ini”. Semua senyap, tidak ada yang menjawab, “baiklah, aku selaku raja kerajaan ini, kerajaan tumpah darahku, kerajaan ibu pertiwi, ingin mengajak kalian rembuk tentang masa depan kerajaan ini, dari semua pejabat tinggi kerajaan, kalian aku anggap orang yang masih loyal pada kerajaan, kalian tidak wajib loyal padaku tapi kaliah wajib loyal pada kerajaan. Daftar nama koruptor versi kalangan pemberantas korupsi telah memasukkan semua menteri kerajaan sebagai koruptor, tadinya aku bingung, apa parameter yang mereka pakai sehingga tanpa terkecuali, semua menteri masuk ke dalam daftar nama para pejabat korup, tapi setelah aku melakukan safari keliling kerajaan bersama perdana menteri, aku temui tidaklah pejabat kecil, dari tingkat kampung, village, distrik, negara bagian, hingga pejabat tinggi kerajaan, semua koruptor dengan skala kerusakan mereka masing-masing”.

Aku menghela nafas panjang, lalu melanjutkan kalimatku, “sebelum rapat kita lanjutkan, panggil pejabat tertinggi dari kalangan militer kerajaan untuk ikut rapat bersama kita”. Beberapa saat kemudian, datanglah seorang jendral bintang tujuh dengan puluhan bintang jasa di dadanya, setelah memberi salam kepada raja, jendral pun duduk di kursi yang kosong.

Setelah memberi penjelasan seadanya pada jendral, aku melanjutkan petuahku, “apa yang harus aku lakukan, haruskah aku membunuh mereka semua, karena dalam rapat kabinet kemarin, aku telah perintahkan untuk menghukum mati semua koruptor, pancung kepala para menteri yang memberikan izin exploitasi hasil alam negeriku, dan bunuh pejabat abdi investor ... tapi, jika aku lakukan, aku khawatir kerajaan kita akan bubar, aku akan membunuh semua pejabat kerajaan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi, dari kepala kampung, gubernur, sampai menteri, besok semua akan mati ... haruskah aku lakukan”.

Sang jendral mengomentari, “paduka jangan khawatir, aku telah menghitung semua personil dan prajurit pilihanku, jika mereka harus dikerahkan untuk membunuh para koruptor itu, dalam waktu yang tidak terlalu lama, semua mereka akan mati, para koruptor itu akan menjadi mayat ...”.

Sekali lagi aku menghela nafas, “jendral, bukan itu maksudku, apakah tindakanku ini benar? Raja macam apa aku, menurut perdana menteri, mereka ini orang-orang pilihan, haruskah aku renggut nyawa mereka dengan alasan mereka korupsi?”.

Semua masih senyap, tidak ada yang berani berkomentar dan menimpali kalimatku, “ah, sudahlah, besok ... kalian semua harus hadir dalam hari eksekusi, kita putuskan besok saja, dan kamu jendral, sebagaimana kalimatmu tadi, wujudkan sesumbarmu, siapkan semua prajurit dan personil terbaikmu di semua tempat, semua distrik, semua negara bagian, dan jaga dengan ketat lapangan upacara kerajaan, besok aku ingin melakukannya dengan benar ...”

Oh Tuhan, apa yang akan aku lakukan besok, apakah aku akan membunuh semua menteri kerajaanku, semua kepala kampung, gubernur, semua akan mati besok, karena mereka semua adalah koruptor ...

bersambung

Diam

H - 3 (Diam)

Kami melanjutkan perjalanan kami, kali ini aku singgah di sebuah kantor ibukota negara bagian, aku bertanya kepada gubernur negara bagian yang sedang berdiri di depan kantornya, ”kenapa kamu berdiri di depan kantormu, korupsi apa yang kamu lakukan?”. Dengan diawali kalimat protokoler khas pejabat gubernuran, lalu si gubernur berkata, ”aku memerintahkan agar semua dinas dan sektor pembangunan baik di bidang perencanaan maupun di bidang pembangunan fisik untuk dapat menyisihkan 10% sampai 35% dari anggaran belanja mereka, karena setelah aku terpilih menjadi gubernur aku banyak sekali mengeluarkan biaya untuk kepentingan kampanye, semua uang itu harus kembali, dan aku sebagai gubernur tidak ingin rugi”.

Aku hanya tersenyum, mataku memandang ke arah perdana menteri, tapi perdana menteri hanya tertunduk, mungkin perdana menteri sudah sangat yakin bahwa sebentar lagi tinjuku akan mendarat di wajah gubernur, dan braaaak ... kali ini tendanganku mendarat dengan sangat keras di wajah si gubernur sampai dia tersungkur, lalu aku memaki-maki si gubernur, ”jadi, itu motivasimu menjadi gubernur, untuk mengeruk keuntungan dari kerajaanku, mengambil hak rakyat miskin dengan alasan mengembalikan biaya kampanyemu? bajingan tengik”, dengan membabi buta aku menendang perut gebernur ... sekali lagi, dan lagi, lagi, lagi, lagi dan lagi ... sampai si gubernur batuk-batuk dan muntah mengeluarkan darah.

Ingin rasanya aku memecahkan kepala gubernur tengik ini seperti aku melakukannya kemarin pada dua menteri kerajaan, tapi gusarku telah ditenangkan oleh perdana menteri. ”paduka raja, kerajaan ini tidak bisa bersih dari korupsi dengan hanya membunuh para koruptor, kita perlu berfikir dengan bijak, mereka ini orang-orang pilihan, hanya saja motivasi mereka terhadap dunia yang masih salah, mereka orang-orang pintar, hanya saja mereka terlalu berambisi dengan uang”.

Aku hanya diam, mataku mengeluarkan airnya dengan deras, kemudian aku mendongak ke langit dan berkata lantang pada pemilik langit, ”oh Tuhan, kerajaan apa yang sedang aku pimpin, tidaklah pejabat kecil dan juga pejabat tinggi kerajaan, semuanya korupsi dan korupsi, pantas rakyat begitu membenci aku, aku pemimpin payah dan lembek, aku tidak bisa memberantas korupsi yang terjadi di depan mataku, aku bahkan membiarkan koruptor kerajaan tertawa terbahak sambil menginjak-injak rakyatku ...”.

Kami kembali melanjutkan perjalanan, berkeliling dari satu negara bagian menuju negara bagian lainnya, hingga aku sampai di negara bagian paling timur kerajaan. Sebuah kegiatan pertambangan tembaga dan mineral di dalamnya telah dilakukan dengan skala yang luar biasa.

Aku berkeliling menemui rakyatku yang sepertinya begitu primitif, tanpa mengenakan pakaian tapi bagian kemaluan ditutupi dengan sesuatu yang meruncing. Kulit mereka gelap dengan rambut hitam keriting, lalu aku coba berkomunikasi dengan mereka, ”apa yang kalian dapat dengan kehadiran perusahaan pertambangan pengeruk hasil bumi di dekat tempat tinggal kalian?”. Lalu, seorang kepala suku menjawab dengan suara lantang, ”kami masih bisa hidup seperti ini sudah merupakan hadiah yang luar biasa dari para penjajah kulit putih itu, jangan kejar-kejar kami seperti babi, kami masih ingin hidup bebas di kampung kami sendiri”.

Aku hanya diam, di kerajaanku ada investor asing pengeruk kekayaan kerajaan, dan rakyatku yang menjadi tetangga mereka hanya menjadi penonton, benarkah mereka dikejar-kejar seperti babi ... apa yang terjadi dengan kerajaanku, aku ini siapa? Kenapa aku hanya diam saja dengan tingkah para investor asing penjajah itu, siapa pemberi izin bagi kegiatan mereka ...

Hari telah berangsur malam, aku kembali ke istana kerajaan dengan menggunakan pesawat kerajaan agar aku bisa melakukan rapat kecil dengan pejabat-pejabat kerajaan yang masih memiliki hati nurani seperti perdana menteri ...

bersambung

Perdana Menteri

H - 3 (Perdana Menteri)

Hari ini adalah hari kedua dimana aku menjadi raja, Jin negeri kembali menemuiku dan bertanya, ”apa permintaanmu yang kedua?”. Aku menghela nafasku, lalu, ”aku ingin semua koruptor dari yang paling kecil sampai yang paling besar dan hina ... semuanya mengakui kesalahannya. Aku ingin semua mereka keluar dari rumah dan persembunyiannya, berdiri di depan pintu kantornya masing-masing ... tidak ada yang tersembunyi dan aku bisa membaca isi hati mereka yang paling tersembunyi ...”.

Aku keluar dari istana kerajaan, menuju lapangan upacara yang masih penuh dengan para tertuduh koruptor, semuanya masih berdiri dengan ketakutan ... semua takut mati. Hari ini aku masih ingin menginterogasi mereka, kenapa mereka bisa disebut koruptor ... tapi hari ini aku putuskan untuk berjalan keliling kerajaan dari satu distrik ke distrik lainnya, dari satu negara bagian menuju negara bagian lainnya. Sedangkan para tertuduh korupsi, aku persilahkan pulang ke rumah mereka untuk berpamitan dengan keluarga mereka, karena besok semuanya akan aku hukum mati ...

Dengan cucuran air mata, semuanya pulang ke rumah mereka masing-masing. Tiada henti-hentinya mereka menangis, lalu apakah mereka tidak berfikir untuk melarikan diri saja? Aku tersenyum dengan kemungkinan itu, lalu aku memberi pengumuman, ”siapa saja diantara kalian yang tidak kembali ke lapangan upacara kerajaan esok hari untuk dihukum mati, maka seluruh militer kerajaan akan memburu mereka, membunuh mereka, keluarganya, dan tetangganya, sehingga bila kalian temui mereka bersembunyi, seret paksa mereka untuk kembali ke sini, karena selama ini mereka telah sengsarakan rakyat, maka besok merupakan hari kebebasan rakyat dari penderitaan”. Tangisan kembali pecah, tersedu-sedu, pilu, menyayat hati, tapi sayang ... aku lebih peduli dengan rakyatku, bukan dengan tangis para koruptor ...

Aku memulai perjalananku, dan aku ditemani oleh perdana menteri. Aku heran, kenapa perdana menteri tidak masuk dalam daftar nama tertuduh korupsi, ”perdana menteri, kenapa kamu tidak masuk ke dalam daftar pejabat kerajaan yang korup”. Dengan penuh wibawah, perdana menteri menjawab, ”saya tidak tahu, saya juga heran, seharusnya nama saya masuk dalam urutan teratas, tapi ternyata tidak ada ... saya sudah membaca daftar nama dari kalangan pemberantas korupsi 3x berulang-ulang tapi tetap nama saya tidak ada, saya juga menyesal ...”. Aku heran dengan kalimat perdana menteri, ”berapa gajimu sebulan?”. Lalu, ”em, gaji saya sangat besar, sekitar 200 juta, tapi saya hanya mengambil 10% nya saja, karena saya rasa 20 juta lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saya, 90% dari gaji hamba telah disedekahkan untuk rakyat miskin sebagai bekalanku di kehidupan setelah mati ...”.

Aku semakin heran, dan melanjutkan tanyaku, ”apa anakmu tidak sekolah?”. Perdana menteri hanya tersenyum, dan dengan penuh sopan menjawab tanyaku, ”tadinya aku sekolahkan di sekolah internasional, sekolah terbaik di kerajaan ini, tapi aku takut anakku akan menjadi pejabat dan berbuat curang pada rakyat, sehingga sekarang mereka aku sekolahkan ke sekolah agama saja, agar bila aku telah mati, mereka bisa mendo’akan aku dengan benar, dan bukan menambah siksaku di dalam kubur karena mereka menjadi koruptor dan mengabil hak rakyat kecil”.

”Ha ha ha”, aku tertawa lantang, lalu, ”perdana menteri ... apa kamu tidak tahu, kelompok dari kalangan agama juga berebut jabatan di kerajaanku ini, mereka juga hobi untuk saling hujat dan menjatuhkan dalam dunia politik mereka, dan kalau sudah bertengkar salah satu dari mereka, tidak ada kata islah, intinya ... sekolah dimanapun anakmu, semua tetap beresiko untuk jadi pejabat korup, mengerti kamu perdana menteri”, perdana menteri hanya menunduk dan sedikit mengangguk.

Tapi sebenarnya, aku sungguh kagum dengan perdana menteri kerajaanku, aku melanjutkan berondong tanyaku padanya, ”lalu kamu tinggal di mana?”, kemudian perdana menteri menjawab, ”aku tinggal di rumah kontrakan sebelah barat istana”. Aku bertambah heran, ”bukankah ada rumah dinas dari kerajaan, kenapa tinggal di rumah kontrakan”, dengan sedikit takut, perdana menteri menjawab, ”karena aku merasa tidak pantas tinggal di rumah mewah dan megah, aku hanya rakyat kecil yang dipercaya menjadi perdana menteri, aku lebih suka tinggal di rumah kontrakan dan berada dekat dengan rakyat, sehingga aku bisa rasakan apa yang mereka rasa, pedih sebagaimana mereka pedih, dan lapar sebagaimana mereka lapar”.

Aku menitikkan air mata mendengarkan penjelasan dari perdana menteri kerajaan, ”perdana menteri, kau begitu baik dan sempurna, seharusnya engkaulah yang pantas menjadi raja, bukan aku ...”. Perdana menteri hanya diam, lalu, ”tuanku juga baik, sejak kemarin tuanku mejadi sosok yang luar biasa dan perhatian pada rakyat, maafkan kelancangan hamba”.

Ah, aku kira semua pejabat kerajaanku bermental tempe, ternyata masih ada berlian dalam kubangan lumpur sistem negeri yang penuh korupsi. Aku melihat ke luar jendela kendaraan kerajaan, dan aku melihat banyak sekali orang yang berdiri di depan gedung perkantoran, di semua gedung kantor kerajaan berdiri puluhan orang, entah kenapa. Akhirnya aku putuskan untuk singgah di sebuah kantor distrik tempat pengurusan kartu identitas rakyat kerajaan (KIR-K). Aku berjalan ke arah mereka dan menanyai mereka, ”kenapa berdiri di depan pintu kantor kerajaan? kenapa tidak bekerja?”. Orang yang aku tanyai hanya bisa diam, mungkin ingin berbicara, tapi karena begitu takutnya, dia hanya bisa diam dengan kaki bergetar. Aku memandang sorot matanya, dan zaaapppp ... aku bisa membaca isi hatinya, dalam hatinya dia berkata ...”aku yang bertugas membuat kartu identitas rakyat kerajaan (KIR-K), perintah dari kerajaan, biayanya hanya 2500, tapi aku sudah terbiasa menerima biaya pembuatan KIR-K sebesar 25.000 sampai 200.000, bahkan lebih, ampuni aku raja ...”.

Hatiku yang tadinya sejuk setelah berbincang dengan perdana mentari kembali bergejolak dan berkecamuk, ”bangsat, kalian ini hanya pejabat kecil di distrik ini, kalian juga korupsi, mental tempe”. Aku melayangkan tamparanku, dan plak ... bapak paruh baya itu terpelanting dan terjerembab mencium tanah, masih dengan mulut bisunya yang terkunci rapat karena ketakutan ... Perdana menteri berlari kecil untuk menolong pejabat kecil di distrik pinggir kota, membersihkan debu yang melekat di wajahnya dan menyapu darah yang mengalir dari bibirnya dengan sapu tanngan putih dari sakunya, sambil berbisik, ”maafkan paduka raja, paduka sedang kesal karena terlalu banyak tindakan korupsi di kerajaannya”.

Aku sedikit kesal dengan tindakan perdana menteri, lalu memerintahkannya untuk kembali melanjutkan perjalanan, ”perdana menteri, kita lanjutkan perjalanan”. Sekelebat aku melirik ke arah bapak yang aku tampar sampai tersungkur, dia hanya berdiri dan sedikit membungkuk ke arah kendaraan kami memberi penghormatan.

bersambung

Interogasi & Eksekusi

H - 4 (Interogasi & Eksekusi)
Aku sungguh bingung dengan mental para pejabat di kerajaanku, ratusan orang dari kalangan pejabat tinggi dan abdi negeri, hanya 3 yang merasa bersalah dan rela di hukum mati atas kesalahannya, sedangkan lainnya … mental tempe, pengecut, bajingan tengik.

Aku coba tenangkan amarahku, lalu aku perintahkan orang pertama dari ketiga pejabat yang rela dihukum mati tersebut untuk maju ke hadapanku dan aku mulai menanyainya, “hey kamu … apa jabatanmu?”. Lalu orang tersebut berkata, “aku menteri keamanan dan stabilitas nasional”. Aku melihat perawakannya yang tinggi besar, dan sepertinya tak kenal takut, heeeeh … pantas saja tidak takut mati, mungkin dari kalangan militer. Aku membentaknya, “apa saja yang kamu lakukan untuk kerajaan ini dengan jabatanmu”, lalu dia menjawab, “semua aku lakukan agar negeri ini aman dan stabil tanpa gejolak”. Aku geram dengan jawabannya, “apa maksudmu dengan semua kamu lakukan”. Lalu, “ya, semuanya … menyiksa, membunuh, intimidasi, menculik, semuanya … asalkan negeri ini aman dan stabil”. Aku coba untuk sabar dan tidak menambah amarahku, aku mengepalkan tanganku lalu … buuuk, dengan sekuat tenaga aku memukul dadanya, tapi dia tidak bergeming dari posisinya. Aku mengambil jarak sekitar 5 meter darinya lalu aku menendangnya dengan kaki lurus dan penuh hentakkan, tepat di ulu hatinya, tapi sayang dia hanya meringis walau terlihat sedikit kesakitan. Aku cukup kelelahan walau hanya melakukan dua serangan, lalu aku kembali bertanya, “bagaimana, apa sakit saat aku pukul … bagaimana rasanya saat aku tendang ulu hatimu?”. Dia diam sesaat, kemudian menjawab dengan kalimat yang meninggikan martabatku sebagi raja, “untuk kemajuan kerajaan ini, akan aku singkirkan semua penghalang, orang yang tidak ingin tanahnya dibebaskan dengan harga tinggi akan aku bunuh, PKL yang tidak mau ditertibkan akan aku bantai, begitu juga penebang hutan tanpa izin akan aku penggal kepalanya. Apa ruginya kerajaan ini jika hanya kehilangan orang-orang serakah yang menghalangi majunya negeri ini. Raja mungkin lupa, rakyat kita sulit diatur, atas nama hak demokrasi, mereka tidak takut pada kerajaan”.

Hemmm, orang ini cukup idealis, tapi sayang ... cara dia menstabilkan kerajaan dengan kekerasan, apakah benar rakyatku tidak bisa diatur. Aku berjalan ke arah kerumunan rakyat yang sedang berdemonstrasi di depan pagar istana kerajaan, langkahku dihalangi oleh perdana menteri sambil berkata, ”tuanku raja jangan ke sana, rakyat sangat membenci tuanku”. Aku melotot, bagaimana bisa rakyatku membenci rajanya ... aku sangat mencintai rakyatku, ah .. harus verifikasi, lalu ... crooot, telur busuk pecah di kepalaku, seorang demonstran melempar aku dengan telur busuk. Aku mencari arah pelempar telur ini, belum sempat aku mendapatkannya, telah mendarat tomat, kentang, lobak, wortel, semua hasil pertanian rakyat kecil yang telah membusuk dilemparkan ke arahku. Aku hanya diam, membiarkan mereka menumpahkan amarahnya.

Beribu pasukan anti huru hara datang, dua unit panser water canon menyemprotkan air dengan deras ke arah rakyat yang sedang berdemonstrasi di luar gerbang istana. Aku terhenyak, aku murka dan berlari ke arah panser penyemprot air, ”hey kamu, keluar dari kendaraan ini, siapa yang perintahkan kamu melakukannya?”. Kemudian seorang pemuda dengan seragam muliter keluar dengan wajah ketakutan, lalu dia berkata, ”aku ingin membubarkan demonstrasi”. Aku semakin marah lalu menampar mulutnya berulang-ulang hingga berdarah, ”siapa yang perintahkan kamu melakukannya, mana komandanmu?”. Dengan wajah masih bersimbah darah, dia menunjuk seorang berpangkat kolonel di sebelahnya. Aku membanting orang tersebut dan berjalan menuju si kolonel, ”hey, apa motifmu membubarkan para demonstran”, dengan suara terputus putus, kolonel itu menjawab, ”agar mereka tidak melempari paduka dengan hasil pertanian mereka yang telah membusuk ...”.

Busuk? Hasil pertanian mereka busuk ..? Aku kembali berjalan menuju rakyatku, lalu aku menaiki panser water canon dan dengan megaphone ditanganku, aku berkata pada semua rakyat yang sedang berdemonstrasi, ”kenapa kalian membenci aku, aku sangat mencintai kalian, kenapa kalian begitu membenci aku ...”. Semua menjadi hening, sunyi ... lalu terdengar suara seorang anak kecil kepada ibunya, ”mak, aku lapar ... makan mak”.

Aku tersentak, hatiku menangis, lalu aku berkata, ”apakah karena lapar ... apakah kalian kelaparan?”, kemudian seorang pemuda tanggung dengan badan kurus maju ke hadapan dan mulai berkata-kata dengan dibayangi moncong senapan serbu para militer kerajaan, lalu pemuda itu berkata, ”wahai raja, kami lapar ... kami dengan kerelaan hati mengganti minyak tanah dengan elpiji, dengan alasan minyak tanah sudah tidak disubsidi kerajaan, tapi nyatanya apa ... harga elpiji juga meroket, kami lapar paduka ... sangat lapar ...”. Jawaban si pemuda disambut teriakan demonstran lainnya dengan teriakan-teriakan lantang, teriakan yang sama, ”hidup rakyat, bebaskan penderitaan rakyat, hidup rakyat, bebaskan penderitaan rakyat”

Oh Tuhan, negeri apa yang sedang aku pimpin, aku kira ini negeri ibu pertiwi ternyata aku berada di negeri tempe ... Aku bergegas kembali menuju lapangan upacara, lalu aku berkata pada semua tertuduh korupsi, ”siapa menteri urusan minyak tanah dan gas elpiji? mana menteri perdagangan? maju ke hadapanku, sekarang”. Kemudian maju ke hadapanku dua orang paruh baya dengan kepala nyaris botak. Aku membentak menteri urusan minyak tanah dan elpiji, ”apa yang telah kamu lakukan? menipu rakyat? membohongi rakyat?”. Kemudian menteri urusan minyak tanah mengeluarkan kata-kata pembelaannya, ”ini adalah kesempatan emas tuanku, saat mereka mulai berbondong-bondong beralih pada elpiji untuk memasak, aku menaikkan harganya, semua agar kerajaan semakin kaya”.

Sungguh jawaban yang membuat aku semakin murka, aku melayangkan bogemku, telak ke arah hidung peseknya ... menteri itu jatuh tersungkur, lalu mengeluarkan rintihnya, ”ampun paduka, ampuni aku”. Aku mengeluarkan kalimat lantangku lainnya, ”apakah sakit? rakyatku kelaparan dan sakitnya lapar lebih dari sakit? kau telah memukul jutaan rakyatku, dan kamu masih minta diampuni?”. Tetap saja menteri urusan minyak tanah dan elpiji mengiba minta dikasihani, mataku tertuju pada pasukan pengamanan raja (paspamra), aku memanggil satu dari mereka dan aku mengambil senjata genggam yang ada di pinggangnya, aku kokang dan aku todongkan ke arah kepala menteri urusan minyak tanah dan elpiji, lalu aku berkata, ”pedihnya penderitaan rakyatku tidak akan bisa ditebus dengan darahmu yang kotor, aku menjatuhimu hukuman mati dan aku sendiri yang mengeksekusimu” ... DOOOR DOOOR DOOOR

Setelah mengeksekusi menteri urusan minyak tanah dan elpiji, aku merasa berdosa. Bukankah dia punya keluarga, punya anak dan istri ... ah, apa yang aku lakukan.

Kemudian aku mulai mendekati menteri perdagangan, ”hey, apa yang telah kamu lakukan dengan jabatanmu? kenapa harga kebutuhan pokok selalu naik dan naik? apa usahamu agar harga untuk rakyat bisa stabil?”. Dengan ketakutan, menteri perdagangan berupaya mengeluarkan kalimat terbaiknya dengan sesekali melirik teman menterinya yang telah menjadi mayat, ”aku membeli beras dan sembako dari kerajaan tetangga, dan kementrian kami mengambil selisih dari perdagangan ini, semua untuk kepentingan kerajaan tuanku, aku bersumpah semua untuk kepentingan kerajaan”. Aku coba mencerna kalimat yang meluncur dari bibirnya, lalu aku berkata, ”kenapa tidak membeli hasil pertanian dari rakyatku sendiri?”. Lalu menteri perdagangan menjawab, ”karena harga dari petani lebih mahal tuanku, dan kualitasnya jauh di bawah kualitas hasil pertanian dari kerajaan tetangga”. Mataku melotot, aku sungguh marah dengan jawaban asal bunyi dari seorang menteri kerajaanku. Aku mengambil senjata otomatis dari seorang paspamra dan menembakkannya ke langit ... treeettteeeteeeettt ... treeettteeeteeeettt ... treeettteeeteeeettt ... tembakan itu telah mengagetkan para tertuduh korupsi lainnya dan dengan serta merta, mereka kembali minta dikasihani, mengiba, meraung, sambil mencucurkan air mata, mereka semua berkata, ”ampuni kami ya raja, ampuni kami paduka”.

Dasar, mental tempe ... makan uang rakyat, korupsi harta kerajaan, tapi semua takut mati ... Aku mengarahkan moncong senjata otomatis tersebut ke wajah menteri perdagangan dan ... treeettteeeteeeettt ... Hari ’pertama’ aku menjadi raja, telah dua menteri yang aku renggut nyawanya ... ah, raja macam apa aku ...

Aku palingkan wajahku pada semua paspamra dan berkata, ”pastikan keduanya benar-benar telah mati, dan kuburkan mayatnya dengan layak”. Beberapa orang dari paspamra memeriksa kedua mayat itu dan tiba-tiba seorang pasukan mengambil senjata genggamnya dan menembakkan kepala dan jantung kedua mayat menteri tersebut berkali-kali sehingga tiada keraguan lagi bahwa mereka telah tewas ...

bersambung

Friday, August 29, 2008

Menjadi Raja

H - 4 (Menjadi Raja)

Aku sedang traveling, keluar masuk hutan dan tiba-tiba hujan turun dengan deras .. aku bingung 7 lapangan tenis dan bergegas menuju sebuah goa yang sepertinya aman untuk berteduh. Tiba-tiba aku jatuh terperosok ke dalam sistem gulita, entah apa .. aku terjatuh dan pingsan. Dalam mimpiku, aku dibangunkan makhluk raksasa hitam berbaju putih, akupun tersentak dan diselubingi rasa takut yang luar biasa, aku beranikan diri berkata, "siapa kamu?", makhluk itu menjawab dengan tenang, "aku adalah jin negeri, penunggu tumpah darah ibu pertiwi". Aku sedikit tenang mendengar jawabannya, lalu aku kembali bertanya, "apakah aku mengganggumu, apakah engkau marah padaku?", jin negeri hanya tersenyum dan nampaklah baris giginya yang rapi, lalu menjawab, "aku akan mengabulkan 3 permintaanmu yang paling esensi, tapi khusus bagi ibu pertiwi".

Aku sedang berfikir, permintaan apa yang pantas aku minta, lalu terlintas dalam benakku begitu menderitanya rakyat di negeri ini, kemudian aku meminta permintaan pertama, "permintaan pertama, aku ingin menjadi raja dari negeri ini, tumpah darah ibu pertiwi, raja yang ditakuti .. tolong dicatet .. raja yang ditakuti semua mentri dan pejabat-pejabat negaranya tapi tidak ditakuti oleh rakyatnya, karena saat aku memerintah negeri, rakyatku boleh menghujatku, mencercaku, bahkan meludahi aku, sesuka mereka asalkan untuk kepentingan negeri". Dengan serta merta tubuhku berkilau, pakaian, celana, ransel bututku, semua lenyap dan berganti menjadi pakaian rapih berpeci, aku duduk di atas sebuah singgah sana megah, tapi aku masih terdiam dan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kemudian seorang mentri mengagetkanku, "tuanku raja, apakah paduka sakit ...?". Aku tersentak dan sadarku telah pulih, aku benar-benar menjadi seorang raja di negeri ibu pertiwi.

Aku hanya bisa memandangi tiap pasang mata para undangan yang hadir dalam majelis yang sedang aku pimpin dengan seksama, ternyata aku sedang memimpin rapat kabinet. Aku berdiri, lalu aku berkata lantang, "dimanakah orang yang bertanggung jawab dalam membuat perundangan negeri ini, siapa yang bertugas mengadili, dan siapa yang bertugas untuk menuntut orang yang bersalah". Kemudian majulah beberapa orang dari kalangan hakim agung, mahkamah agung, jaksa agung, dan banyak lagi perangkat hukum dengan titel agung. Aku berkata lantang pada mereka, "aku perintahkan pada kalian, hukum mati semua koruptor, pancung kepala para mentri yang memberikan izin expoitasi hasil alam negeriku, dan bunuh pejabat abdi investor".

Wajah para pejabat pemegang kebijakan hukum tersebut menjadi merah padam, semua bungkam, sedangkan para mentri dan para pejabat dalam rapat kabinet menjadi ketakutan bukan kepalang. Aku menjadi gusar, "ayo, tunggu apa lagi .. lakukan sekarang sebelum aku berdiri dari singgahsanaku, semua nama para koruptor dan penjual aset negara harus sudah ada di depan mataku".

Selang beberapa saat, satu lembar kertas telah disuguhkan dihadapanku, aku mengamati nama-nama yang tertera di atasnya. Aku semakin murka, "kenapa hanya sedikit ... mana kalangan pemberatas korupsi, panggil mereka semua ...". Kemudian datanglah sekelompok orang dengan wajah tertunduk hadir dihadapanku, aku mengulangi perintahku, "berikan padaku daftar nama para perusak negeri ini". Seorang pemuda dari kalangan pemberantas korupsi mengeluarkan PDA-nya dan menyerahkan daftar nama para koruptor.

Mataku tertuju pada pejabat militer yang hadir dalam rapat akbar itu, lalu aku berkata pada mereka, "panggil semua orang yang ada dalam daftar ini, sekarang ...". Dengan cekatan, dan segala potensi dikerahkan, dalam waktu tidak begitu lama, telah berkumpul sekelompok lelaki dan wanita paruh baya dengan mata penuh linangan ait mata, sesekali aku mendengar rintih tangis mereka, "ampuni kami, raja .. ampuni kami".

Aku berdiri dari singgahsanaku, dan memerintahkan agar para militer menggiring mereka semua ke lapangan upacara. Setelah mereka berbaris di lapangan, aku pandangi mata mereka satu persatu, aku membentak meraka, "siapa yang minta aku ampuni ... siapa?", semua mereka minta ampunan kecuali 3 orang saja ... aku mendekati 3 orang yang tidak minta diampuni, aku bertanya pada mereka, "kenapa engkau tidak minta aku ampuni", orang pertama berkata, "hak untuk mengampuni mutlak milik pencipta diriku". Lalu orang kedua berkata, "aku memang berdosa, aku layak mati", dan orang ke tiga punya kalimat yang berbeda tapi senada, "mati lebih baik bagiku daripada hidup dengan malu".

Aku kembali berdiri di hadapan mereka, dengan suara lantang aku perintahkan ketiganya keluar dari barisan, "kalian bertiga, keluar dari barisan .. ", sedangkan sisanya masih saja dengan tanpa malu meraung, melolong, minta diampuni ...

Monday, August 11, 2008

Tahukah Kamu

Tahukah kamu ...
Saat aku melihat syair di papan itu
Aku tahu, bait syair itu milikku
Aku hanya bisa tersenyum getir

Tahukah kamu ...
Syair itu untukmu bukan untuk orang lain
Aku bahkan bersumpah pada para pencinta syurga
Syair itu hanya untukmu, bukan untuk orang selain kamu

Tahukah kamu ...
Saat aku membaca bait syairku sendiri
Aku tersenyum hambar
Ada yang berbeda ...

Tahukah kamu ...
Aku melihat hatimu dalam tiap goresannya
Cantik, kenapa engkau menangis
Apa aku penyebabnya?

Tahukah kamu ...
Aku merasakan titik air matamu di atas lembar itu
Aku coba menghapusnya dengan punggung tanganku
Aku meraba 'pipimu' dan berkata, "maafkan aku sayang"

Tahukah kamu ...
Aku sedang berbenah
Aku harus segera bangkit
Agar tidak terperosok lebih dalam

END

AKUMULASI

Marah, gusar, dia mencercaku, dia menganggap semua ini telah terakumulasi … akumulasi? Ya, karena dia tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan uneg-uneg yang dia pendam sendiri. Sebenernya aku ingin berkata, “apa yang bisa aku bantu?”, tapi lidahku kelu, rahangku beku, bahkan kakiku kaku, tidak mampu berjalan mendekatinya walau hanya berkata, “hey, kayfa …”

Cukup lama aku enggan membaca surat darinya, hanya aku pegang, ku simpan, tanpa ada keinginan untuk dibaca. Dengan menyentuhnya saja aku bisa merasakan murkanya … ah, kenapa aku jadi begini?

Lalu tibalah waktu dimana aku sudah siap, aku membaca lembaran itu, satu kali, dua kali, hingga lima kali aku masih belum faham.

Aku hanya bisa memahami beberapa baris saja, seperti …
Aku tidak sekuat yang kamu duga
Saya yakin, anda bisa lebih dewasa
Aku tidak bermaksud mengganggu hidupmu

Tentang kalimat panjang lebar yang dia tulis dengan penekanan kalimat di sana sini, lalu diakhiri dengan ALLAAH ...

Atau tentang pengulangan kalimatku ...
Tidak ada yang perlu diluruskan

Aku terdiam, aku terpaku, termenung dan hanya bisa mengelus lembaran itu dengan punggung tanganku, sembari berkata, “maafkan aku”. Aku mengela nafasku hingga panjang, aahhhhh ... apakah sudah berakhir? Sepertinya sudah berakhir, dan memang harus berakhir ...

Dia memang cukup sopan untuk tidak berkata jujur, tapi aku membaca kalimat yan berbeda dari cerca yang ia tuangkan ...

S: Aku tidak sekuat yang kamu duga
T: Aku ini lemah, kamu salah duga

S: Saya yakin, anda bisa lebih dewasa
T: Kamu terlalu kekanak-kanakan, bersikaplah dewasa

S: Aku tidak bermaksud mengganggu hidupmu
T: Kamu selalu saja mengganggu hidupku

S: ALLAAH ...
T: Kalau kamu terus begini, hanya ALLAH yang bisa bantu ...

S: Tidak ada yang perlu diluruskan
T: Tidak, semua ini harus diluruskan, kamu terlalu egois sampai aku tidak diberi kesempatan untuk berkata-kata ...

Aku kembali terdiam dengan setiap cerca yang dia tumpahkan dalam suratnya. Aku tidak menemukan kata yang di-setting hiperbolik, tapi semua jujur dan apa adanya ...

Sepertinya, ini adalah akhir ... semua telah berakhir, aku hanya bisa menyebut satu kalimat jelas dan lugas untukmu, “maaf, tidak akan pernah aku ulangi lagi, dan aku tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi, maafkan aku”.

END

nb: S = inisial namanya, T = translate of her text

Thursday, August 7, 2008

AISHITERU (with comments)

Menyesal aku pernah mengatakannya. Sungguh ini penyesalan yang sempurna, kata itu tidak bisa ditarik, kata itu juga … yang telah pengaruhi separuh dari hidupku, aishiteru … Bagaimana aku bisa menebusnya? Mana bisa aku menghapus masa lalu! Masa lalu telah tergores dalam lembar hidupku, dan walau sejengkal tidak bisa dibuang beitu saja …

(Hua ha ha,wak kak kak … mau hapus sejarah? Mana bisa? Sejarah hanya bisa jadi pelajaran, ambil pelajaran darinya)

Andai aku bisa kembali ke masa lalu, akan aku hapus sejak awal kata itu sehingga ia tidak pernah terucap untuk selamanya, tidak ada kata aishiteru …

(Begitu ya, ck ck ck … tidak ada aishiteru)

Aku bisa larut dalam galau yang luar biasa ... galau yang sempurna. Saat dia bersikeras tidak mau menerima aishiteru, aku tetap kukuh dan teguh pendirian bahwa akan tiba masanya dia dengan kerelaan hati menerima kata ini, dan memang tidak sekarang. Ah … bodohnya aku, bagaimana bisa aku mendahului mauNya, celakalah aku, celaka …

(Goblik lu, udah tau ditolak masih ngotot juga, mending ambil kaca yang gedhe trus liat bentuk lu di cermin, pantes nggak? Dan parahnya lagi, lu cerita tentang perkara-perkara yangg nggak masuk akal. Ok, mungkin ada saja chanche dia mau terima kamu, tapi nanti... kalo onta bisa masuk ke lubang jarum, baru dia mau terima aisiteru darimu, ha ha ha...)

Atau, saat dia mulai membahas tentang ‘nggak level’ …yang ini lebih menyakitkan lagi, aku ini siapa? Atau tentang akumulasi? Dengan baris kalimat, “bukan maksudku untuk mengganggu hidupmu …” dan seterusnya dan seterusnya ... Jadi selama ini, aku bukan hanya sebongkah kerikil yang menghalangi jalan hidupnya, tapi batu gunung raksasa yang karenanya hidupnya terganggu ...? OK, aku bersumpah, tidak akan pernah ada lembaran walau hanya secuil kertas untuknya, tidak akan pernah ada lagi ...

(Ughh, pemilihan kata yang cantik ... jadi selama ini, masih sering kirim tulisan ke dia? Aduh men ...mbok yo sadar, naik kereta ke surabaya, jangan lupa karcisnya juga, lu nggak pernah ngaca ya, atau lupa kalo dicuekin sama dia? Wak kak kak kak)

Kamu tahu rasa sakitnya? Seperti bambu yang diasah ujungnya tetapi tidak sampai tajam, hanya meruncing tapi tidak tajam, lalu bambu tumpul itu dihujamkan ke dadaku, dengan perlahan tapi dihentakkan hingga tembus dari jantung sampai hati. Belum cukup, bukan hanya itu ... bambu itu ditarik dengan sekuat tenaga lalu ikut pula jantung dan hatiku bersamanya. Aku masih bernyawa, aku melihat jantungku masih berdetak, tapi hatiku sudah hancur terserak. Dengan sisa denyutnya, aku hanya bisa tersenyum hambar menyaksikan jantungku mulai berhenti berdegub, denyutnya hilang ... dengan dada yang masih berongga, dadaku tetap menyemburkan darah segar dari rongganya. Kakiku berjalan ke arah hatiku dan menginjaknya hingga lumat, sedangkan jantungku yang sudah hilang denyutnya ... aku ambil dengan tangan kiriku dan aku serahkan untuk anjing-anjing jalanan yang kelaparan, aku paksakan mataku untuk mnyaksikan sorak gembira anjing-anjing jalanan, saling berebut, mengoyak dan mengunyah jantungku ... aku hanya tersenyum melihatnya ... serpihan jantungku berada di lambung anjing-anjing lapar. Mata mereka memandangku, seperti ingin memintang jantung lainnya karena mereka masih lapar, lalu aku berkata, “maaf, sudah tidak bersisa”

(Uihhh, sadis ... ada pertanyaan? Anjingnya jenis apaan sih? Koq doyan makan jeroan, nggak takut kolesterol? Hua ha ha ...)

Malam itu adalah malam terakhir aku melihat dia dalam mimpiku, karena setelah malam itu, aku sudah tidak ingin lagi ada aishiteru ... kata itu sudah aku hapus dalam kosa kata hatiku, lagi pula hatiku sudah hancur aku injak-injak ... paginya, dengan kesungguhan diri, aku juga meminta padaNya, “Wahai pemilik nyawaku, aku tidak pernah memiliki amalan khas yang dengannya bisa mencuri sedikit perhatianMu. Wahai penguasa jiwaku, aku mengumpulkan semua keberkahan amalanku dari yang terkecil sampai yang terbesar yang pernah aku lakukan, sejak aku lahir hingga detik ini, semua aku kumpulkan menjadi satu, timbanglah ... aku ingin semuanya ditukar dengan satu perkara, cukup dengan satu perkara saja ... cabut rasa itu dari hatiku ... bila rasa itu menghujam terlalu keras hingga berakar, aku ingin semua tercabut tanpa bekas, aku ingin semuanya tercabut dari hatiku ... aku tidak pernah memanggilmu Rabb, karena aku merasa tidak pernah pantas menjadi hambaMu, tapi untuk kali ini, Ya Rabbi ... aku persembahkan semua keberkahan amalanku yang hanya segenggam ini, tukar dengan kebebasan hatiku ... apa masih kurang? Apa masih kurang penderitaan dan kesusahan hatiku di hadapanMu, jika masih kurang ... beri aku jalan yang dengannya aku bisa lupakan dia selamanya ... Ya Rabbi, aku tidak pernah memaksakan do’aku, tapi kali ini ... aku minta padaMu, aku minta dengan sangat, dengan kesungguhan jiwa ragaku, hapus dia dari hatiku, selamanya ... selamanya ... amiin”.

(Hiks, lagi ikut terharu nih ... hmmm, tambahin dikit boleh ya! “Wahai Tuhan yang baik, sebenernya aku sadar kalo amalanku hanya seiprit, bukan segajah seperti bonusnya flexy. Karena hanya seiprit, terima ya? Itu sudah maksimalnya aku lho Tuhan, jadi mau bagaimana lagi, ... ini kalo bisa lho Tuhan, cewek kan banyak di dunia, walau aku sudah nggak pake aishiteru, aku terbuka banget kalo ada cewek cantik, seksi, pinter & juga alim mau sama aku yang tampan, keren, genius, pokoknya aku lagi narsis deh Tuhan, boleh ya, pliiiis, janji ngak nakal lagi” ... he he, do’a tambahannya sudah aneh belum?...)

Malam itu aku pandang kerling gemintang di langit, aku tersenyum pada bintang utara, bintang yang tidak pernah bergeser dari posisinya, karena sebenarnya dia bukanlah bintang, tetapi hanya planet lain yang berada dalam sistem tata surya ini ...

Aku menyapanya, tersenyum padanya ... lalu aku berkata, “wahai bintang, malam ini dan malam-malam setelah ini, aku tidak punya syair cinta untukmu, karena aku sudah tidak punya cinta, aku sudah tidak berhati dan tanpa jantung, tahukah kamu kalau beberapa detik yang lalu, aku memintanya dengan sungguh-sungguh pada penciptaMu, kamu tahu apa yang aku persembahkan? Semua amalanku, semua amalanku dari yang kecil sampai yang besar, semua aku serahkan dan ingin aku ganti dengan raga tanpa cinta ...”.

(ciye, syair cinta apaan? buat siapa? CDL tau ... Cucian Deh Loe)

Kemudian,bintang itu bersinar lebih terang ... seperti ingin menemani aku tersenyum, aku tetap memandanginya, hingga tanpa terasa mataku berlinang, dan airnya tumpah dari kedua hujungnya ... Ah, do’aku telah diterima ... Tarima kasih Ya Rabbul ’alamin

(Lu optimis banget do’amu diterima? Lu nangis mungkin bukan tanda do’amu ketrima, tapi karena kamu aja cengeng, banci lu ...)

Kamu tahu rasanya, saat orang yang kamu cintai jiwa raganya menganjurkan agar aku menemui psikiater? Atau menghubungkan pertanyaan bilangan prima dangan psikologi jiwa? Apa masih ada alasan sempurna untuk tetap mencintainya? Apa aku harus tetap dan bersikeras untuk memaksakannya?

(Hua ha ha, itu pendapat orang lain? Jadi,menurut aku emang bener, hua ha ha ... lu itu sakit, tau sakit apaan? Sakit jiwa ... hua ha ha, itu menurut orang lain lho!)

Ada dua perkara yang selalu aku nanti dalam hidupku, yang pertama adalah hari dimana aku berpisah dari dunia lalu disebut mati dan yang kedua hari dimana saat aku berkunjung untuk mengatur perkerjaan para tukang di akademi jubel raya, aku sudah tidak menemukan angkatan pertama, aku menanti hari dimana mereka semua sudah hengkang dari jubel raya sehingga aku benar-benar tidak berjejak tentang mereka, apalagi dia ...

(Hemmm,begitu ya? Emang kalo mati sekarang udah siap? Btw, iya ... yang ini aku setuju banget, sumpek liat anak-anak angkatan pertama tuh, resek, ribet, bawel, semua deh, intinya mereka tuh emang bikin sebel ... hue he he ...piss men)

Tidak akan pernah ada lembar-lembar yang aku selipkan dalam qur’an berwarna merah hati dengan tulisan tangan hazihi min fadhli rabbi, secuilpun tidak pernah ada lagi. Berusaha untuk memandang gantungan resliting ESQ itupun sudah sirna ... karena aku sudah tidak berjantung dan tanpa hati ... karena, baginya aku hanya beban dan penghalang langkah hidupnya ... kenapa tidak sejak dulu dia sampaikan, kenapa baru sekarang ...

(yup, bentul ... setuju, mending lu konsen sama karir lu yang mulai nggak keurus, ngapain juga urusin dia, dia aja nggak peduli sama elu ... cucian deh elu ... )

Aku memang tercipta dengan hati yang kuat, hingga aku bisa merasakan saat kakinya menginjak bumi dan melangkah menuju musholah, tapi aku sudah tidak berkeinginan untuk mengikuti langkahnya atau hanya sekedar melihat kelebatnya dengan ujung mataku.

(Eleh, eleh ... sampe segitunya ya?)

Wahai bumi, jika kau temui aku melangkah ke arahnya, telanlah aku
Wahai langit, jika kau saksikan aku memangdangnya, runtuhlah di atasku
Wahai bebatuan, jika kalian mendengar hatiku terbersit tentang dia, rajamlah aku
Wahai penduduk langit, jika kalian melihat aku bersyair untuknya, makilah aku

(Nah,kalo yang terakhir nih, nggak berani komentar ... hiii, tatut ...)