Thursday, December 10, 2009

Selamat Tinggal Surabaya

Aku masih duduk di ruang tunggu keberangkatan, pandanganku sesekali mengarah pada toko roti yang berada tepat di depan ruang tunggu. Aku jadi teringat saat dimana Dave meminta pada gadis penjaga kasir untuk melakukan scoring pada diriku, ahhhh ... aku hanya bisa tersenyum kecil, padahal aku suka sekali dengan roti itu tapi pagi ini aku enggan untuk singgah dan duduk di dalam toko roti tersebut, aku ingin melupakan semuanya.

Di dalam ruang tunggu, aku menghidupkan laptop Sarah sambil mengakses internet dengan menggunakan wifi. Sesekali aku tersenyum bila aku singgah ke situs dan blog yang menyimpan beberapa kenanganku dengan Sarah. Tanpa aku sadari, seorang Ibu dan anak gadisnya sedang memperhatikan aku, kemudian mataku tertuju pada tas punggung yang di bawa oleh anaknya, tertulis Sarah Amalia ...

Inikah Cinta? Apa saja yang berhubungan dengan yang aku cintai, akan selalu bisa menggetarkan hatiku, walau hanya sebaris nama dari kecintaanku. Tapi membaca baris nama yang tertulis pada tas punggung tersebut bukan membuat aku bahagia, aku jadi teringat Sarahku ... Kemudian mataku bertemu dengan mata gadis itu, manis ... bahkan cantik. Matanya indah sama seperti ibunya, senyumnya renyah, lalu aku coba mengajak mereka berbicara walau hanya sekedar basa-basi ...

"Mau ke Jakarta Bu?" tanyaku

"Eh, iya sebenarnya mau pulang ke Jakarta ... adik sendiri mau ke Jakarta juga?" seraya balik bertanya padaku

"Iya, ada keperluan di Jakarta ... Hanya berdua saja?" tanyaku lagi

"Iya, hanya sama anak saya ini saja. Ke Jakarta pulang kampung atau urusan bisnis?"

"Ada wawancara kerja, jadwalnya nanti sore..." ujarku

"Wah, berani sekali berangkatnya di hari yang sama... maskapai kita kan sering telat dan delay bolak-balik, kenapa tidak berangkat sejak kemarin saja..." anjurnya

"Saya baru tahu panggilan interviewnya tadi pagi, pemberitahuannya via email. Em, anak Ibu sekolah di Surabaya?" tanyaku lagi

"Ah tidak, anak Ibu ke Surabaya untuk berobat..." jelasnya

"Berobat? Memangnya di Jakarta tidak bisa? Di Jakarta kan lebih lengkap peralatan medisnya..."

"Penyakitnya khusus, ini juga rekomendasi dari teman kantor papanya..." jawabnya meluruskan

"Kalau boleh tahu, memangnya sakit apa Bu?" tanyaku penasaran

Ibu tersebut menghentikan obrolannya, memandang anaknya seperti minta persetujuan dari gadis yang duduk manis di sebelahnya tanpa banyak bicara ... kemudian melanjutkan obrolannya ...

"Anak Ibu pecandu obat, dan dia juga depresi ... ah, ini semua salah Ibu karena kurang memberikan kasih sayang padanya. Ibu terlalu sibuk bekerja, padahal anak jauh lebih berharga dari pada uang" jelasnya sambil menghela nafas

"Emmm, nama anak Ibu ... Sarah?" tebakku

"Iya, koq kamu tahu?" jawabnya keheranan

"Saya baca tulisan yang ada di tas punggungnya. Nama itu sama dengan nama istri saya..."

"Oh, adik sudah menikah! Nama istrinya Sarah juga ya... Tapi kalau Sarah lebih akrab dipanggil Amel, nama belakangnya…"

Aku melihat raut wajah gadis tersebut berubah, seperti ingin menampakkan keceriaan walau terpendam. Aku juga sedikit bingung, apa yang kurang dari Ibu ini ... sepertinya baik dan perhatian. Tutur katanya lembut, kenapa bisa anaknya terjerumus hingga menjadi pecandu obat...

John: "Setelah berobat, bagaimana keadaannya Bu"
Ny: "Mudah-mudahan lebih baik, harapan Ibu ... Sarah bisa sembuh"
John: "Mudah-mudahan Bu, kita hanya bisa berusaha dan juga berdo’a, karena kesembuhan hanya milik ALLAH saja ..."

Aku coba memandang Amel dan mencoba untuk berbicara dengannya ... ah, apa yang sedang aku lakukan? Aku hanya ingin melepas rinduku dengan berbincang dengan Sarah Amalia dan bukan Sarah Al-Bisri ...

John: "Saya boleh bicara dengan anak Ibu ...?"
Ny: "Oh boleh sekali, Mel ... itu, ada yang mau ajakin ngobrol..."
John: "Hai, aku John ... Kamu Amel ya..."
Amel: (hanya mengangguk kecil dengan bibir sedikit tersenyum)

John: "Gimana Surabaya, rame ya? Tapi Jakarta lebih rame lagi … Di Surabaya biasa nongkrong di mana saja?"

Mulanya Amel hanya bisa tersenyum saja, karena aku berondong dengan banyak pertanyaan, akhirnya Amel buka mulut juga ...

Amel: "Mmmm, aku suka jalan-jalan ke Tunjungan Plaza ..."
John: "Waw, shoping ya?"
Amel: "Ah, nggak juga ... abisnya Mama sekarang pelit, kartu kreditku diambil, jadinya aku nggak bisa belanja, hanya nonton orang belanja ..."

Ah, aku benar-benar rindu Sarah, aku melihat wajah cemberut Amel seakan aku sedang menganggu Sarah sampe manyun dan siap untuk menangis ...

John: "Emang, sepertinya begitu koq, aku bisa lihat kalau Ibumu itu pelit ... lihat aja badan Ibumu, langsing singset, untuk diri sendiri saja Ibumu males makan ..."
Amel: "Ha... ha... ha... aku sekarang punya sekutu, nggak ada yang berani bilang kalau mamaku itu pelit, kamu orang pertama yang berani bilang ... ha.. ha.. ha.."
Ny: (hanya melotot saja karena kami jadikan bahan gosip)

Tiba-tiba terdengar pengumuman bahwa pesawat kami segera akan berangkat. Aku mengemas barang-barangku dan berpamitan kepada Amel dan Ibunya ...

John: "Sepertinya pesawat kita sudah mau berangkat ... senang mengenal Ibu dan juga Amel ... Amel, kamu cepat sembuh ya..."
Amel: "Hi.. hi.. saya juga senang bisa ketemu kakak, bahagia sekali istrinya kakak karena punya suami yang bisa membuatnya selalu tertawa ... hi.. hi.."
Ny: "Iya, saya juga senang bisa kenal sama adik ... sejak lama Amel tidak pernah seceria ini, eh ... kita belum berkenalan, nama saya Sri Lestari ... , punya kartu nama?"
John: "Hmmm, punya ... kartu nama dari kantor saya yang lama ... tapi nama dan nomer telponnya betul koq ..."
Ny: "Terima kasih, ini kartu nama Ibu ... kalau selama kamu di Jakarta butuh apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi kami ya ..."
John: "Iya Bu, terima kasih tawarannya ..."

Aku membiarkan Amel dan Ibunya berjalan mendahuluiku, karena aku ingin melangkah dengan bersantai sambil membiarkan penumpang lain untuk masuk ke dalam pesawat. Di dalam pesawat, aku sedang sibuk mencari tempat dudukku, 15D ... di tengah dan waw ... aku duduk tepat di seberang Amel dengan nomer seat 15C. Aku hanya bisa tersenyum saat Amel sepertinya begitu girang mengetahui aku duduk di sebelahnya, hanya dipisahkan oleh koridor di dalam pesawat saja ...

John: "Eh, ketemu lagi..."
Amel: "Kakak bohong ya, katanya namanya John ... di kartu nama kok namanya Joko?"
John: "Hi.. hi.. iya, John hanya nama panggilan saja, temen-temen di kantor suka panggil aku John, jadinya kalau kenalan sama orang pasti pake nama John ..."

Amel: "Gak pantes tau, kalau namanya John mestinya orangnya itu keren, macho, cool ... bukan lecek dan kucel seperti kakak …"
John: "Ha.. ha.. kamu bisa aja. Eh, Amel sekolah apa kuliah?"
Amel: "Seharusnya sudah kuliah, tapi Amel harus jalanin terapi obat sudah hampir satu tahun... jadinya gitu deh, sudah lulus SMU tapi belum kuliah"
John: "Oh begitu ya! Kalau kuliah mau masuk jurusan apa?"
Amel: "Amel suka gambar, lukis dan seni ... kalau tidak disain produk, mungkin mau jadi arsitek. Tapi nggak mau seperti mama, mama perancang busana ..."
John: "Kenapa nggak mau seperti mama, kan bisa tajir dan banyak duit?"
Amel: "Ogah ah, ntar anak-anakku terlantar juga seperti aku..."
John: "Eh jangan gitu sama orang tua, ayo minta maaf sama mamamu ..."
Amel: "Enak aja, mama seharusnya yang minta maaf ke aku"

Diluar dugaanku, Ibu Amel memeluk anaknya dan menangis sesegukan. Ups, apa yang sudah aku perbuat? Ahhh, jadi ikut haru deh...

John: "Iya nak, mama minta maaf... maafkan mama ya, mama janji akan selalu ada untuk kamu, tapi kamu cepat sembuh ya..."
Amel: "Iya ma, Amel juga minta maaf... sebenarnya Amel yang bandel"

Aku hanya bisa diam menyaksikan mereka menumpahkan tangisnya. Aku sandarkan punggungku lebih santai di kursi pesawat, aku pejamkan mataku perlahan. Aku sedang menahan tangis yang hampir tumpah di ujung mataku, aku kembali teringat Sarah ... Sarah bila sedang menangis, wajah meweknya bisa membuat aku tersenyum ...

Akhirnya lepas landas juga. Untuk terakhir kali aku memandang Surabaya dari atas, tanpa sadar aku melambaikan tanganku ke arah jendela, tingkahku hanya mengundang tawa Amel dan hal itu juga yang telah sadarkan lambaianku...

Amel: "Hei, ngapain pake dada dada segala?"
John: "Hi.. hi.. gak tau ya, hanya pengen dada doang"
Amel: "Memangnya gak akan balik ke Surabaya lagi?"
John: "Nggak tau juga sih, lihat nanti saja deh..."
Amel: "Memangnya tinggal di mana sih? Istrinya tinggal di mana?"
John: "Asli Jakarta, istri tinggal di Surabaya..."
Amel: "Berarti pasti balik lagi dong ke Surabaya..."
John: "Sebenarnya istri kakak sudah meninggal, dimakamkan di Surabaya ..."

Amel sejenak menghentikan obrolannya, kedua tangannya dipakai untuk menutupi mulutnya, matanya menjadi sedikit terbelalak ...

Amel: "Maaf, saya nggak tahu ... I'm sorry"
John: "Ah, nggak apa ... biasa saja cantik, kakak tidak apa-apa"

Ups, aku menyebut Amel dengan sebutan cantik. Aduh, koq bisa keceplosan begini sih ... aku memandang Amel hanya untuk melihat reaksinya ... Amel hanya diam membisu, aku coba menyapanya ...

John: "Hei, koq bengong sih?"
Amel: "Eh, anu … kaget saja, kamu panggil aku cantik …"
John: "Halah, GR lu … kamu itu cantik kalau semua stok cewek di muka bumi ini habis, baru kamu bisa dipanggil cantik …"
Amel: "Enak aja, aku kan memang cantik beneran … iya kan ma" (sambil meminta dukungan mamanya)
Ny: "Iya cantik, tapi nomer dua … mama nomer satu" (sambil tersenyum dan kerlingkan mata)
Amel: "Hu .. uh, mama koq sekongkol sama Kak John, sebel deh ..."
John: "Iya hanya becanda, iya kamu cantik beneran ... tapi seperti kata mamamu, nomer dua, dua juta sembilan ratus ribu lima belas ... hua ha ha ..."

Obrolan kami sedikit banyak membikin gaduh suasana di dalam pesawat. Sesekali pramugari menghampiri kami dan mengingatkan supaya tidak terlalu ramai kalau berbicara, tapi tetap saja kami ngobrol kesana kemari tidak tentu arah ...

John: "Tuh, diomelin sama pramugarinya ... kalau pramugari tadi cantiknya nomer berapa ya? Nomer tiga deh, tiga ratus lima belas ribu ... lebih tinggi dari rangkingmu"
Amel: "Ugh, awas ya ... ntar aku cubit pipi Kak John"

Di luar dugaanku, Amel berdiri dari tempat duduknya dan menghampiriku lalu benar-benar mencubit pipiku, aduh ... sakit banget

John: "Amel, apa-apaan sih, nggak boleh ... bukan muhrimnya ..."
Amel: "Eh, maaf Kak ... abisnya aku gemes sama kakak..."
John: "Ya sudah, tuh lihat ... pramugarinya melotot ke kita, ntar kamu turun rangking lagi baru tahu rasa ..."
Amel: "Hi.. hi.." (tersenyum lebar, karena dipelototin pramugari dengan rangking tiga ratus lima belas ribu ...)

Akhirnya pesawat kami mendarat di bandara Soekarno Hatta, aku mulai berkemas dan berjalan menuju pintu keluar. Aku berpisah dengan Amel, sepertinya Amel enggan berpisah dariku ...

John: "Amel, kita berpisah di sini ya ..."
Amel: "Kak, kalau ada waktu mampir ke rumah ya..."
Ny: "Iya lho nak John, jangan sungkan ..."
John: "Iya bu, nanti kalau urusan di Jakarta sudah selesai, insya ALLAH saya mampir ke rumah Ibu. Amel, kalau aku datang, siapin makanan yang enak yah ..."
Amel: "Hi.. hi.. tenang saja Kak John, pokoknya beres ..."

Kamipun berpisah, dan sebelum benar-benar berpisah, Amel menubrukku dan memelukku. Aku sungguh kaget dibuatnya, tapi aku harus bagaimana?

John: "Amel, sudah ya ... malu dilihat orang-orang"
Amel: "Kak John, aku baru kenal Kakak, tapi aku baru kali ini kenal orang yang tulus, nggak seperti temen-temen Amel yang lain, berteman karena ingin uangnya Amel, bahkan tubuhnya Amel ..."
John: "ya sudah, lain kali hati-hati cari teman ya ... sudah yah, ditungguin mamamu tuh"

Amel hanya bisa tersenyum renyah dan mengangguk sungguh-sungguh, akupun membalas senyumnya dan kami berpisah di depan area parkiran. Aku hanya bisa melambaikan tangan saat mobil jemputan mereka menjemput, sedang aku bergegas menuju stop area bus damri.

No comments:

Post a Comment

Ingin berkomentar? cerita yang baik-baik saja, karena DIA suka dengan hal yang baik-baik. Siapa yang membuka aib, maka di akherat ALLAH akan membuka aibnya ...