Wednesday, May 28, 2008

Melamar

Andai Istriku Bekas … (Melamar - Bagian 12)

Dave masih menunjukkan mimik seriusnya, sedangkan aku sudah bersiap dengan kemungkinan tingkah Dave untuk ngerjain aku. Kemudian, Dave memandang aku dengan lebih serius ...

Dave: John, kita harus segera menolong Sarah
John: Maksudnya apa?
Dave: Menikahlah dengan adikku, Sarah
John: Tapi Dave, kamu tahu sendiri kan, aku ini hanya arsitek lulusan sekolah pemerintah, tidak seperti adikmu yang faham dan mengerti agama, adikmu sudah sepatutnya mendapatkan pemuda sempurna seperti dia. Gadis yang baik untuk lelaki yang baik, bukan lelaki sampah seperti aku Dave ...
Dave: John, kamu terlalu merendah ... rendah hati itu baik, namanya tawadhu’, tapi kalau rendah diri itu namanya pendek tau ...
John: Ha .. ha … sempat-sempatnya kamu guyon Dave, tapi aku serius Dave …
Dave: Adikku lebih serius lagi, Sarah tidak pernah mau mengungkapkan isi hatinya, bahkan pada aku saudaranya sendiri, aku baru tahu dari surat ini kalau dia benar-benar menyukaimu John. Ayo lah, menikahlah dengan Sarah ...
John: (berfikir sejenak), bagaimana kalau nanti sepulang kantor aku mampir ke rumahmu lagi
Dave: Mau ngapain, mau menolak adikku dengan bicara face to face ...
John: Bukan begitu, tapi ini perkara penting ... aku bukannya tidak suka dengan Sarah, aku suka sekali dengannya Dave, tapi kamu juga tau kalau aku pernah disakiti oleh seorang gadis seperti dia sebelum ini. Aku tidak sanggup jika kali ini aku terluka lagi ...
Dave: Tidak John, Sarah tidak mungkin melakukannya ... dia tulus, semalam aku bangun lebih awal, pukul 03.00 dan aku dengar dari kamar Sarah kalau dia sedang menyebut-nyebut namamu dihadapanNya dalam munajatnya tadi malam...
John: (lama terdiam) sampai sebegitunya? … tapi nanti sore kita jadi kan ke rumahmu
Dave: Ok, no problemo ... tapi jangan menyakiti hati adikku
John: Nggak janji, paling nanti hanya dicubit pipinya …
Dave: (melotot ke arahku)
John: Just kidding Dave, not seriously …

Hari ini semua urusan kantor aku selesaikan lebih cepat dari biasanya, aku ingin tampil sempurna di depan Sarah. Beli apa yah buat Sarah! Aku koq jadi begini sih, sebenarnya aku masih ragu … bagaimana mungkin seorang John yang arsitek bersanding dengan Sarah yang bersemayam Qur’an di hatinya. Akhirnya aku putuskan untuk turun dari gedung kantorku dan berjalan di beberapa pertokoan Delta Plaza, aku hanya ingin berjalan-jalan sambil mencuci mata tapi kemudian perhatianku tertuju kepada cincin emas berhias permata biru. Cantik sekali, kira-kira mahal nggak yah ... maklum, arsitek dengan gaji lokal.

John: Mbak, liat yang ini ...
Mbak: Buat siapa mas, istrinya ya ...
John: Bukan, buat anu ... emmm, teman ...
Mbak: Oh, buat calon istri ...
John: Lho, koq tau sih mbak
Mbak: Saya sudah lama jualan perhiasan, dan saya tau sekali dengan model pembeli seperti anda ... tapi saya sarankan untuk membeli yang ini, karena ada sepasang walau tanpa batu permata, tapi harganya lebih murah ...
John: Bagus juga idenya, coba lihat mbak ... (aku mulai mencobanya di jariku ... not bad)
Mbak: Bagaimana mas, suka ...
John: Ini perak ya mbak ...
Mbak: Betul banget, perak terbaik ...
John: Harganya berapa duit nih?
Mbak: Em, sebentar saya liat di komputer ... (selang beberapa saat), hanya 1.25 juta saja mas, dan untuk mas saya beri diskon 30%, jadi harganya 875 ribu.
John: Ok, saya beli ... pake kartu debit bisa kan mbak
Mbak: Bisa banget, emmm ... punya kartu nama mas, buat database kami ...
John: Oh, ada ini ... (aku menyerahkan kartu debit dan juga kartu namaku)
Mbak: (sambil memperhatikan dengan seksama, kemudian) ... sepertinya mas sedang beruntung, karena mas bekerja di kantor atas ya! Kantor anda punya kerjasama khusus dengan toko kami, jadi diskon yang bisa anda dapatkan adalah 50%, jadi harganya adalah 625 ribu saja ...
John: Waw, thanks banget ...
Mbak: (setelah mengembalikan kartu debit dan menyerahkan cincin yang dibungkus dalam kotak), silahkan, ini cincinnya dan juga kartu garansinya ...
John: sekali lagi terima kasih mbak ...
Mbak: sama-sama, senang melayani anda ... jangan bosan berbelanja di tempat kami

Sambil pulang, aku sempatkan berkeliling sekali lagi, ups ... aku melihat cincin yang bentuknya sama dengan cincin yang aku beli ... aku penasaran, kemudian melihat dengan seksama label harga yang tertera ... harganya hanya 900 ribu dan ada diskon 25%. Berarti harganya adalah 675 ribu. Halah, hanya selisih 50 ribu dengan toko tempat beli pertama. Dasar pedagang, bisa-bisanya merayu dan bilang dapet diskon 50%.
Setelah kembali ke kantorku, kotak cincin itu aku simpan di dalam ransel laptopku. Aku berjalan ke ruang Dave ...

John: Dave, nggak pulang?
Dave: Ya sebentar, 5 menit lagi ...
John: Lagi ngapain sih?
Dave: Buat schedule untuk besok, ada klien yang mau datang ke kantor kita
John: Oh, begitu ya ...
Dave: Tunggu sebentar ya!

Setelah menunggu beberapa saat, aku lihat raut wajah Dave masih dengan performa yang kusut dan sibuk, memangnya schedule apaan sih …

John: Kelihatannya ribet banget sih?
Dave: Iya, aku mau pindah divisi, jadi aku harus prepare laporan lengkap untuk pertanggung jawaban sebelum di pindah ke divisi lain …
John: Mau dipindah? Ke mana? Masih di kantor kita kan?
Dave: Iya, masih di kantor kita, tapi aku nggak tau akan dipindah ke mana!
John: Kita itu harus bisa terima semua, semua itu sebenarnya takdir dariNya …
Dave: Halah, sok ceramah segala … kamu tuh mau dipindah juga tau, minggu depan mutasi kantor besar-besaran, bahkan beberapa nama masuk dalam daftar PHK …
John: Haaa, PHK … beneran!
Dave: Iya beneran, alasannya sih produktifitas
John: EGP, emang gue pikirin …
Dave: Ya sudah kalau EGP, pulang yuk … tadi hilang kemana John, koq nggak kelihatan?
John: anu, jalan-jalan di bawah …
Dave: Jalan-jalan, tumben banget … jam kantor lagi, apa bukan korupsi waktu!
John: Eh, kerjaan kanotr aku selesaikan lebih cepat, makanya berani jalan-jalan
Dave: Oh, begitu ya ...

Selama perjalanan, Dave tampak masih bingung dengan urusan laporan pertanggung jawabannya, mau menawarkan bantuan tapi khawatir dia tersinggung. Tiba-tiba mimik wajahnya berubah, dia mengagetkanku ...

Dave: John, thanks ya yang kemarin ...
John: kemarin apaan sih
Dave: Hasil browsingmu di hotel Denpasar, masih inget nggak ...
John: Oh tentang itu, foreplay ya ...
Dave: Iya, sukses banget ... memang sepertinya aku kurang peduli tentang masalah ini, ternyata hasilnya luar biasa ...
John: Apanya yang luar biasa?
Dave: Seperti jadi pengantin baru lagi, istriku sangat bersemangat …
John: Hebat dong, memang dalam sunah ada kejayaan, ada janji kesuksesan. Banyakin pemanasan juga sunah yang diajarkan oleh Nabi SAW ...
Dave: Oh, begitu ya ...
John: Ya iya lah, masak ya iya dong, ha ... ha … ha …
Dave: Nanti mau ngomong dengen Sarah ya? Mau ngobrol apaan? Nggak bisa lewat telpon atau via sms saja?
John: Nggak bisa, ini urusannya penting banget, harus ketemu langsung
Dave: Oh, begitu ya ... ok kalau begitu, up to you ...

Sesampai di apartemen Dave, aku duduk sesaat di ruang tamunya yang nyaman. Kemudian Sarah keluar sambil membawa suguhan untuk tamu …

John: Sarah, thanks ya nasi padang ya, enak banget …
Sarah: Iya, sama-sama … kamu suka ya
John: Suka banget, emmm ... ibumu ada di mana? Dave koq nggak kelihatan!
Sarah: Katanya Dave, kamu ingin ngobrol sama aku ...
John: Ah nggak juga, aku mau ngomong dengan semua ...
Sarah: tunggu sebentar ya, aku panggilin dulu ...

Selang beberapa menit, Dave dan Ibunya duduk di ruang tamu menemaniku. Kami bercerita kesana-kemari sampai akhirnya aku bertanya kepada Dave ...

John: Sarah mana? Aku ingin bicara pada semuanya ...
Dave: Oh, kirain sama kita bedua aja ...
Ibu: Dave, ayo panggilkan Sarah

Setelah lengkap berkumpul, kemudian akupun menyampaikan maksud tujuanku datang ke apartemen Dave hari ini ...

John: Jadi, maksud tujuan saya bertamu hari ini adalah untuk melamar Sarah ...

No comments:

Post a Comment

Ingin berkomentar? cerita yang baik-baik saja, karena DIA suka dengan hal yang baik-baik. Siapa yang membuka aib, maka di akherat ALLAH akan membuka aibnya ...