Wednesday, May 28, 2008

Akad nikah

Andai Istriku Bekas … (Akad nikah - Bagian 15)

Satu per satu undangan tiba di apartemen Dave, aku sedikit kaget dan juga resah. Bagaimna tidak, yang di maksud dengan ustadz-ustadz dan guru bagi Dave ternyata ustadz-ustadz yang biasa mengisi pengajian di kampusku dulu jadinya aku mengenal mereka semua. Sesekali aku tersenyum pada tetamu yang datang semakin banyak. Kemudian tibalah Kyai Syaifullah, Kyai dari pondok pesantren tempat Sarah menimba ilmu … aku memang tidak mengenalnya, tapi saat beliau tiba, aku langsung menyambutnya dan mencium tangannya, sambil berbisik pelan, ”terima kasih Pak Kyai, terima kasih ...”. Kyai Syaifullah hanya bisa diam keheranan melihat tingkahku, lalu Dave memanggil Sarah dan memberi tahu bahwa Kyai Syaifullah datang untuk membawakan khutbah nikah bagi kami.

Aku melihat Sarah keluar dari kamarnya sambil tergopoh-gopoh menyambut punggung tangan Kyai Syaifullah dan menciumnya, aduh cantiknya Sarah ... Ibunya telah menghias Sarah menjadi Ratu dari para bidadari, tidak dirias saja sudah cantik, apatah lagi kalau sudah didandani seperti ini. Aku sedikit terpana melihatnya, lalu segera aku palingkan pandanganku, belum halal ... begitulah hatiku berbisik.

Dave: John, sebentar lagi masuk waktu sholat isya, wudhumu masih ada ...
John: Masih ada sih, tapi aku tadi memandang lekat ke arah Sarah ... apa lebih baik aku perbarui wudhuku, biar tidak ragu ...
Dave: Ya sudah, sana segera perbarui wudhumu

Dalam kamar mandi, aku memandang diriku di depan cermin. Aku berguman dalam hatiku, sesekali menyumpahi diriku sendiri, ”hey kamu, sebentar lagi kamu akan menikah, kamu akan medapatkan amanah yang dengannya kamu dapat menyempurnakan sebagian dari amalan agama yang tidak bisa kamu lakukan dengan bersendirian, jomblo forever ... selamat tinggal, gelar suami segera aku pikul di pundakku ...”. Kemudian sekelebat dia melintas dalam benakku. Dia yang pernah menancap begitu kuat di dalam hatiku, tapi segera harus aku lupakan karena aku tidak boleh berlama-lama larut dalam sedih. Semoga pernikahanku ini benar-benar bisa melupakan semua tentang dia, senyum manisnya, riang tawanya ... ah, rasanya baru kemarin aku mendengarkan kabar bahwa dia menyukai pemuda lain, dan aku mulai berangsur undur darinya. Aku mengambil PDA dari saku dan membuka folder perfect project, untuk yang terakhir aku memandang sedikit kenangan yang aku simpan dalam format digital dalam PDA ku, kemudia aku hapus semua ... tanpa sisa, karena sebentar lagi, hanya Sarah yang boleh tersimpan di dalam PDA ku ini, Sarah istriku, permataku, penyejuk pandanganku. Kemudian aku dikejutkan dengan kumandang adzah Ust Arief yang mengumandangkan adzan Isya, aku segera tersadar dan memperbarui wudhuku.
Setelah berwudhu, aku berlari kecil menuju barisan sholat yang berada di ruang tamu yang disusun sedemikian rupa hingga ke ruang tengah. Aku melirik meja kecil yang berada di samping sajadah untuk imam, aku tersenyum kecil, sebentar lagi kawan ... sebentar lagi tanganku akan berada di atasmu sambil mengucap ikrar dan mengenggam erat tangan penghulu.

Setelah sholat Isya berjama’ah dilanjutkan dengan dzikir dan do’a, Dave maju ke hadapan dan menyampaikan sepatah kata sambutan sebelum acara akad nikah dimulai

Dave: Assakamu’alaykum warohmatullah, terima kasih atas kahadiran saudara-saudara sekalian yang menyempatkan diri untuk hadir pada acara pernikahan adik kami walau dengan undangan yang sifatnya mendadak, kami juga minta maaf kepada Bapak dan Ibu sekalian, karena kami mengundang melalui telepon. Senang rasanya malam ini kita berkumpul untuk melakukan acara yang penting, perkara yang dengannya hati menjadi tenang, menjalankan sunah Baginda Nabi Muhammad SAW, yaitu menikahkan adik kami, karena Nabi Muhammad SAW bersabda, ”siapa yang menghidupkan sunahku berarti mencintaiku dan siapa saja yang mencintaiku, akan bersamaku di dalam surga”. Apa ada cita-cita tertinggi selain bersama Nabi SAW di dalam surgaNya? Tentu saja tidak ada ... demikian sambutan dari kami, selanjutnya Kyai Syaifullah akan memberikan nasihat-nasihatnya kepada kita semua dan khususnya bagi adik-adik kami yang akan menikah ...

Aku tertawa geli melihat Dave yang biasanya usil dan penuh jahil berbicara sangat serius, sesekali Dave memandangku, sedangkan aku hanya bisa senyam senyum saja. Setelah Kyai Syaifullah menyampaikan khutbah nikahnya, mulailah aku duduk berhadap-hadapan dengan Kyai Syaifullah, ternyata beliau yang akan menjadi penghulu.

Kyai: Bagaimana? Sudah siap?
John: Eh, anu ... harus siap …!

Kyai Syaifullah mengambil gulungan kertas di sampingnya lalu memukulkannya ke kepalaku. Aku jadi heran, apa-apaan ini? Sejak kapan pembacaan ijab kabul diawali dengan pentungan ke kepala mempelai lelaki?

Kyai: Hei gundul, saya tidak menyangka Sarah bisa kepincut dengan pemuda standar seperti kamu! Padahal sudah beberapa ustadz dari pondok yang mencoba untuk melamar Sarah, tetapi Sarah selalu enggan. Eh, ternyata yang dipilih malah pemuda seperti kamu … Sarah, mungkin matanya sudah mulai rabun … ha … ha … ha …
John: Ha … ha … Pak Kyai bisa saja, saya juga nggak habis pikir kalau Sarah mau menerima pinangan saya, tapi Pak Kyai ikhlas kan!
Kyai: Ya harus ikhlas, maksudnya terpaksa ikhlas … kalau santriku bahagia, aku juga ikut bahagia, semoga pernikahan kalian diberkahi, ayo segera dimulai …
John: Iya Pak Kyai …
Kyai: Maharmu apa … eh, siapa namamu?
John: John Pak, eh … anu Joko Pak, tapi temen-temen di kantor panggil saya John
Kyai: Ya sudah, Joko alias John … apa maharmu?
John: Sepasang cincin perak seberat, em … berapa gram ya? Lima gram … iya lima gram
Kyai: Ok, lima gram perak, siap?
John: (aku mengangguk kecil) ...

Akhirnya aku mengikrarkan ijab kabul sambil dituntun oleh Pak Kyai Syaifullah, kemudian para saksi berseru berirama menyatakan, “syah ... semua syah ...”, aku tersenyum lebar, Dave datang menghampiriku dan memelukku dengan kencang seraya berbisik, “jaga Sarah, awas kalo sampe lecet”, halah ... ada-ada saja kakak ipar. Pandanganku tertuju pada Sarah yang duduk di sudut ruang tengah bersama Ibunya, kali ini aku memandangnya lekat, Sarah hanya tersenyum simpul dan tertunduk malu.

Aku mulai bersalaman dengan teman-temanku, para undangan, para ustadz dan mungkin juga dulunya adalah mereka-mereka yang pernah ditolak Sarah, hi... hi... beberapa diantara mereka menggenggam erat tanganku, bahkan sangat erat, mungkin geram, sebel, marah campur aduk, karena Sarah lebih memilih aku daripada mereka. Mendapatkan erat genggam tangan mereka, aku hanya bisa meringis kecil tapi tetap dengan senyum terlebar milikku, hatiku tertawa terpingkal-pingkal melihat tingkah mereka, ternyata para ustadz juga manusia.

Setelah makan malam selesai, satu per satu para undangan pulang, sehingga tingallah kami ‘sekeluarga’, telpon genggamku berbunyi, memang sedari tadi berbunyi, karena sms, telpon dari temen-temen kampus, tapi kali ini orang tuaku menelpon dan menyatakan restunya.

Bapak: Joko, kamu akhirnya kawin juga ya
John: Iya Pak, Bapak nggak ke Surabaya ... nengokin mantu Bapak nih ...
Bapak: Iya nanti lah, kamu sih nikahnya ndadak, Bapak sudah ada janji dengan rekan bisnis, jadi nggak mungkin digeser jadwalnya ... apa nggak sebaiknya kamu yang ke Jakarta untuk acara resepsi di sini, sekalian pengumuman dengan tetangga dan teman-temanmu di sini ... bagaimana?
John: Iya Pak boleh saja, jadwalnya terserah Bapak saja deh ...
Bapak: Kalau begitu minggu depan, bagaimana?
John: Minggu depan? Nggak bisa Pak, Joko mau ke Singapura untuk urusan kantor, ada proyek properti di sana …
Bapak: Kalau begitu terserah kamu saja deh, kapan kamu punya waktu luang, segera hubungi keluarga di sini ya ..
John: Iya Pak, terima kasih restunya ... salam untuk adek-adek di Jakarta
Bapak: Iya, nanti Bapak sampaikan, adik-adikmu masih di rumah sakit, giliran jaga …
John: Ha ... ha ... belum lulus juga kuliahnya, mereka tadi sempat sms ucapin selamat
Bapak: Ya sudah, jaga diri baik-baik ya, salam juga untuk keluargamu yang di Surabaya, kamu sekarang sudah jadi suami, jangan suka boros dan habisin duit hanya untuk ganti laptopmu, saatnya hidup hemat …
John: Iya Pak, terima kasih Pak ...

Bapakku, ya begitu itu ... sebenarnya tajir, tapi Bapak lebih suka hidup sederhana dan tidak seperti orang kaya. Kalau mau dibilang pelit, mungkin ada benarnya juga, tapi kalau untuk urusan pendidikan anak-anaknya, semua bisa bagi Bapak. Kedua adikku masih berkutat sebagai dokter muda di rumah sakit, supaya dapat gelar dokter penuh. Dari semua keluargaku, hanya aku saja yang tidak ingin menjadi dokter seperti kemauan Ibuku, aku ingin menjadi arsitek dan bukan dokter.

Malam semakin larut, aku, Dave dan keluarganya masih sibuk dengan beres-beres rumah setelah acara selesai, kemudian Dave menghampiriku ...

Dave: John, sana ke kamarmu, Sarah sudah menunggu dari tadi ...
John: Eh ... nggak apa-apa nih, kan masih berantakan!
Dave: Halah, sok rapi lu ... sudah nggak usah pake malu ...
John: Gitu ya, ok deh ...

Setelah berpamitan dengan semua, aku berjalan menuju kamar pengantinku. Jantungku tiada henti bergemuruh, berdegup kencang dan bertalu-talu. Ughh, benar-benar mendebarkan. Tok tok tok ... aku mengetuk kamar Sarah ... lalu ... terdengar suara merdu dari dalam kamar sebagai isyarat memperbolehkan aku masuk

No comments:

Post a Comment

Ingin berkomentar? cerita yang baik-baik saja, karena DIA suka dengan hal yang baik-baik. Siapa yang membuka aib, maka di akherat ALLAH akan membuka aibnya ...