Monday, June 9, 2008

Singapore

Andai Istriku Bekas … (Singapore - Bagian 25)

Akhirnya kami tiba di Changi airport, aku dan Dave memutuskan untuk naik bus langsung menuju pusat kota, dan menuju hotel tempat kami menginap. Setelah masuk ke kamar, hari masih terlalu pagi dan aku sedang tidak ingin bermain dengan remote TV ...

John: Dave, aku keluar sebentar ya ...
Dave: Eh tunggu sebentar, materi paparan buat besok di mana?
John: Ada di laptopku, lihat saja di folder project2008, ntar ketemu ...
Dave: Ya sudah, ntar kalau ada masalah aku telpon ya?
John: Ok, telpon genggammu sebelum ke Singapore sudah diregistrasi kan?
Dave: Sudah lah, pengalaman tahun lalu, sampe beli perdana Singapore segala …
John: Sudah ya, aku jalan-jalan dulu ke Simlim ...
Dave: Ok, hati-hati ... paspormu nggak usah dibawa, ntar hilang repot pula ...
John: Pak Bambang ketemu kita di mana?
Dave: nanti sore, di hotel kita ...
John: Sip deh kalau begitu, jalan dulu ya ...
Dave: Sudah sana pergi, aku lagi pengen sendiri ...

Jalan ke mana ya, harus tuker duit receh nih biar kalau ke mana-mana cukup satu dollar naik bus, atau naik kereta dulu ah ... lama nggak ke Orchad Road. Aku naik kereta bawah tanah menuju Orchad Road, lalu mulai berjalan berlenggang, lagakku seperti turis saja ... aduh koq lupa minta duit ke Dave ya, ini kan perjalanan kantor. Baru satu jam berjalan, aku kembali ke kampung India dekat hotelku, seratus meter di hadapanku aku melihat ada seorang gadis berkerudung sedang dijambret, si gadis berteriak minta tolong tapi penjambret berlari lebih kencang, berlari ke arahku. Aku mengambil ancang-ancang untuk merebut kembali tas yang dijambret oleh si penjahat. Ugh, koq ramai sekali sih ... akhirnya aku putuskan untuk menendang kakinya sehingga si penjambret jatuh tersungkur. Tapi, diluar dugaanku, mereka berkomplot, tiba-tiba kepalaku perih dan aku jatuh tersungkur ...

Saat sadar, banya orang berkumpul mengerumuniku, dan kepalaku masih pusing karena seseorang memuluk kepalaku dengan balok kayu. Oh God, thanks to you ... aku masih hidup. Seorang pemuda berkulit hitam keturunan India telah menolongku, dan di sampingnya ada wanita yang tadi dijambret. Sepertinya aku mengenalnya, siapa ya? Berkerudung?

John: Maaf, apa aku mengenalmu?
Reb: John, itu kamu? Aku Rebecca, lupa ya dengan Cottage Denpasar?
John: Kamu Rebecca, tapi koq berkerudung ...?
Reb: Iya, aku sudah menjadi muslimah, kamu hidayah dari ALLAH untukku John, terima kasih ... tadi kamu yang dipukul sama penjahat tadi, bagaimana? Sudah baikan?
John: Alhamdulillah, biidznillah ... aku tidak apa-apa
Reb: Syukurlah kalau begitu, kamu ngenep di hotel mana?
John: Itu, dekat simlim ... kamu sama Mr. Frank lagi?
Reb: Iya, Mr. Frank kan boss ku. Sebenarnya mantan suamiku, tapi kami akhirnya bercerai dan aku mendapat 20% saham di perusahaannya sebagai biaya gugatan perceraian
John: Komisaris dong?
Reb: Ha ... ha ... sebenarnya sahamku bukan 20% tapi hampir 30%, aku sudah memiliki sebagian saham saat masih berstatus sebagai Nyonya Frank.
John: Ngobrolnya sambil makan siang yuk ...
Reb: Boleh ...

Kami berjalan menuju cafe di pinggir jalan yang menawarkan makanan halal khas India, aku hanya memesan chay (teh susu) dan nasi lemak daging kambing, sedangkan Rebecca sepertinya kurang berselera dengan masakan India, Rebecca hanya memesan soft drink ...

John: Bagaimana ceritanya?
Reb: Apanya?
John: Keislamanmu, koq tiba-tiba sekali?
Reb: Tidak tiba-tiba, aku belajar sedikit demi sedikit
John: Pendapat Mr. Frank bagaimana?
Reb: Frank, senang sekali dengan keislamanku, aku jadi tidak centil dan genit lagi, dan aku selalu berkerudung kalau ke kantor. Pakaian panjang hingga mata kaki, dan sesekali aku kombinasi dengan selendang dari Sidoarjo
John: Sidoarjo? Kapan kamu ke sana?
Reb: Setelah dari Bali kemarin, aku mencoba melihat kemungkinan investasi di Surabaya dan sekitarnya, tapi sepertinya kurang menarik. Tapi aku sempat membeli beberapa cindera mata khas Sidoarjo, apa namanya ... bordir?
John: Iya, kain bordir Sidoarjo ...
Reb: John, kamu sama Dave ya?
John: Iya, Dave aku tinggal di kamar, masih sibuk latihan paparan sebelum show time besok. Yang jadi juru bicaranya kan Dave ...
Reb: Ha ha ha, belajar ya! Kamu nggak presentasi saja aku sudah percaya koq, aku suka dengan hasil karyamu ...
John: Maaf, bukan hasil karyaku tapi hasil karya kami ...
Reb: Jangan merendah, aku tahu kalau kamu yang merancang semua bangunan untuk proyek-proyek khusus, betulkan ...
John: Besok, schedulnya jam berapa ya?
Reb: Biasa, jam 10.30 ... Frank biasanya bangun agak siang, aku kan mantan istrinya. Gimana John, kamu sudah menikah?
John: Alhamdulillah sudah, ini ... (aku menunjukkan cincin perak di jari manisku)
Reb: Wah, selamat ya ... aku nggak diberi tahu? Siapa gadis beruntung yang bisa merebut hatimu?
John: Sarah, adiknya Dave ...
Reb: Oh begitu ya, sudah kenal sejak lama dong?
John: Nggak juga, baru kenal beberapa hari lalu langsung aku lamar, gitu ...
Reb: Nggak apa kalau begitu?
John: Sepertinya tidak apa-apa, asalkan syaratnya terpenuhi. Kamu bagaimana Reb, sudah laku belom? Wanita cantik seperti kamu pasti banyak yang suka, kaya raya, cantik, seksi, apa yang kurang?
Reb: Kurang banyak John, aku kurang faham dengan agama yang baru aku peluk. Aku suka Islam karena tidak ada paksaan di dalamnya, dan yang paling penting sesuai dengan akal sehat, tidak mengada-ada ...
John: Maksudnya?
Reb: Seperti penjelasanmu dulu, tentang jejak kaki, gubuk dalam hutan, semua bisa diterima dengan akal sehat. Dan yang paling menyentuh hatiku adalah permata
John: Reb, sudah dulu ya. Aku mau balik ke hotel, Dave pasti lagi bingung sendirian
Reb: Ok, besok ketemu di hotelmu ya ... dan jangan telat
John: Insya ALLAH, assalamu’alaykum
Reb: Wa’alaikum salam ...

Hati ini memang dalam genggamannya. Kalau Dia berkehendak, seorang Rebecca sekalipun bisa menerima Islam. Aku kira semua orang Amerika menganggap Islam identik dengan teroris, tetapi ternyata tidak semua. Aku yakin masih banyak Rebecca Rebecca lain yang pengedepankan akal sehatnya daripada tuduhan keji tanpa bukti. Iraq teroris, ternyata mau sedot minyaknya. Iran teroris, ups nggak berani karena punya nuklir. Indonesia sarang teroris, lalu ... kita sejak dulu sudah dikuasai oleh mereka, apa keuntungan yang didapatkan oleh masyarakat papua dan sekitarnya dengan kehadiran Freeport? Koteka! hanya koteka saja, sisanya apa? Secuil emaspun kita tidak boleh ambil, kalau berani ambil maka tentara-tentara bayaran Freeport akan memburu penduduk asli yang katanya ‘atas nama hukum’ lalu dikejar seperti memburu binatang buruan. Ah, bingung dengan kebijakan politik dan ekonomi negeri ini. Sudah ah, aku jadi arsitek yang baik dan benar saja ...

No comments:

Post a Comment

Ingin berkomentar? cerita yang baik-baik saja, karena DIA suka dengan hal yang baik-baik. Siapa yang membuka aib, maka di akherat ALLAH akan membuka aibnya ...