Friday, April 4, 2008

Duit buat ganjel perut

Saychu sedang memasang muka temboknya, dia mau pinjem duit utangan kepada temannya Mustain, “pinjem duitmu dong … saya mau ke Surabaya, diutus sekolah untuk main bola … pliisss deh, ntar kalau balik lagi ke sini duitnya saya balikin juga, beneran”. Mustain memandang ragu, karena dia tidak ingin menjadi ‘korban’ berikutnya, duit dipinjem tanpa bisa kembali, tapi hari itu wajah Saychu … duh sungguh nyebelin, kalau gak diberi ntar bisa lama dia setor wajah jeleknya, dan akhirnya … “nih, tapi hanya segini, kalau lebih dari ini saya gak bisa ikhlas”, Mustain menyerahkan uang 20 ribu, “waaah, sukron yang buanyak deh, semoga diterima di sisiNya”, sudah dipinjemin duit, masih aja aneh-aneh.

Dalam mobil antar jenput guru, semua teman sudah resah, “Saychu pinjem duitnya lama banget sih”, Akbar berkomentar atas temannya yang hilang sesaat, oh … ternyata yang butuh duit itu bukan hanya Saychu tapi semua kontingen yang diberangkatkan ke Surabaya untuk ikut lomba. Beberapa saat kemudian Saychu datang dengan mengkipas-kipas duit 20 ribu, “dapet men, lumayan 20 ribu, tapi kita berenam, bagaimana ya … hanya cukup buat 2 hari nih”, hi … hi … biasa anak pondok, kalau sedeng kepengen irit ternyata iritnya luar biasa. Saychu masuk ke dalam mobil tapi didorong keluar, “hoey, apaan sih”, Akbar coba memberi petuah, “Saychu, kamu harus bisa minta duit ke Pak Cecep … hanya kamu yang punya kemampuan itu, kemampuan mengubah wajah jadi muka tembok, … ayolah”. Saychu berlari ke kantor madrasah, mondar mandir mencari Pak Cecep, kemudian kembali dengan lesu, “Pak Cecep gak tau ke mana, trus bagaimana nih …”. Semua mata tertuju pada Pak Doel yang akan di antar pulang ke Surabaya, mereka berbisik-bisik menyusun strategi terbaik untuk minta duit ke Pak Doel.

Bisik-bisik mereka terdengar dengan sangat jelas, Pak Doel menyiapkan diri untuk menerima jurus-jurus ampuh santri ‘perampok’ di dalam mobil antar jemput guru.

Tangan Saychu memijit pundak Pak Doel, sambil berkata, “Pak Doel, saya itu pengen banget berbakti ke Pak Doel, mungkin yang terjadi hari ini … Dia yang mengatur, makanya hari ini kita dipertemukan, dan saya bisa pijitin Bapak”, duh merdunya rayuan gombalmu, tapi untuk urusan pijit memijit, Saychu memang jempolan, bahkan SKJ (sehat, kuat dan jempolan).

“Ehem, siapa yang mau to the point …” Pak Doel memulai pembicaraan, kemudian Akbar menyahut, “Pak, kami gak diberi ongkos sama Pak Cecep, ntar kami makan apaan selama di Surabaya”, Akbar berkata jujur, dari lubuk hati yang paling dalam, kemudian Saychu ikutan nimbrung memperjelas maksud kalimat Akbar, “jadi Pak, kami mau minta duit ke Pak Doel”. Semua murid-murid yang berkelas, Internasional banget … kemudian Pak Doel berkata, “kalau kamu ada masalah, cerita pada Allah swt, Dia Maha Kuasa, Maha Kaya, jadi jangan minta-minta ke saya … tau nggak sinetron hidayah minggu depan judulnya apaan, santri peminta-minta mati melungker”, Saychu yang sedang asyik memijat melepaskan pijatannya lalu membalas ledekan Pak Doel, “lho Bapak gak liat yang minggu lalu ya? Minggu lalu itu judulnya, guru pelit mati nyungsep”, ada-ada saja, semua yang ada di mobil ketawa-ketiwi dengan ‘debat kusir’ antara Pak Guru dan 6 murid-muridnya. Miftah menyahuti, “koq jadi saut-sautan antar guru dan murid sih, Saychu … istighfar, Pak Doel itu gurumu”. Saychu langsung menjulurkan tangannya, “Pak, maafin saya Pak … Pak Doel tambah keren deh kalo manyun begitu”, Padahal sudah pasang wajah cemberut, tapi gak kuat nahan ketawa … Pak Doel menyambut uluran tangan Saychu, langsung disambar Saychu dan berkali-kali diciumnya, “yeeeeeek, Saychu jangan norak … kamu mau salim ya salim aja, tapi jangan banyak-banyak cium tangannya!”. Perjalanpun dilanjutkan, tetap dengan ping pong argumentasi antar guru dan murid, Pak Doel memulai pembicaraan, “kalau minta itu hanya padaNya, dan kalau minta itu yang besar-besar, jangan perkara-perkara kecil kamu minta”, Saychu mengangkat tinggi tangannya, “Ya Allah, aku dan teman-teman gak diongkosin sama Pak Cecep, beri kami uang, melalui Pak Doel, sepertinya dia baik deh ya Tuhan”. Ha… ha… do’a koq pake suara kenceng, itu namanya sama aja seperti tadi, ‘ngerampok’. “jangan sekali-kali meminta selain padaNya, kamu bisa jatuh pada perbuatan syirik, takutlah pada Allah swt, mensekutukan Allah swt itu dosa yang nggak terampuni”. Saychu menyambung do’anya, “Ya Tuhan, aku hanya minta padaMu, tapi biar cepet, bisa kan beri kami uang lewat Pak Doel”. Heeeem, Pak Doel menghela nafas, murid koq badung-badung semua, nggak putra nggak putri semua badung.

Akhirnya mereka tiba di Pondok Pesantren Surabaya, sembari angkut-angkut ransel dan perbekalan, Pak Doel menyelipkan uang di saku Saychu, mata Saychu berbinar, “waaah, tengkiyu Pak, saya do’ain jadi raja minyak …”. Pak Doel hanya tersenyum kecil melihat tingkah muridnya.

No comments:

Post a Comment

Ingin berkomentar? cerita yang baik-baik saja, karena DIA suka dengan hal yang baik-baik. Siapa yang membuka aib, maka di akherat ALLAH akan membuka aibnya ...