Friday, April 4, 2008

Pulang bareng Pak Ustadz

Pak Nurkholish sedang tersenyum simpul, ha … ha … handphone bututnya laku juga, tebak siapa yang beli …? Miss Jubel, eh enggak ding, tapi dibeli oleh Bu Nyai untuk Mak Yati, buat keperluan komunikasi yang sering byar pet antara dapur pondok Surabaya dan dapur pondok pesantren cabang puncak gunung. Mau andalin telfon pake kabel, kabelnya sering ilang dicuri orang yang butuh makan karena pemerintah kita tidak bisa (belum bisa, sabar dikit kenapa sih …) sediakan lapangan pekerjaan yang memadai buat rakyat kecil. Atau mengandalkan yang wireless? Sama juga bo’ong, sering putus nyambung juga … dan hari itu diputuskan bahwa Mak Yati punya handphone sendiri, so … kalau ada instruksi penting dari Bu Nyai, maka Mak Yati langsung siap boss. Tapi beneran lho, pernah kita disuguhi menu yang sedikit fantastis, erotis, dan tidak biasa, di atas standar ISO 2007 … bukan TT (tahu tempe) tapi 4T (baca Te Te Te Te), yaitu tahu, tempe, terong dan telur.

Makelar handphone datang membawa duit 220 ribu, kontan … “150 ribu untuk yang punya handpone”, begitu Pak Nuruddin berujar selaku broker handphone sambil menyerahkan 3 lembar uang berwarna biru tua, sedangkan Pak Nurkholish coba berdiam diri dan menahan hatinya akar tetap iklash, “muke gile, dijual dengen harga 220 ribu sama si gundul ini, sudah dibilangin jangan mahal-mahal juga … ugh, dasar botak makhluk penampakan”, begitu Pak Kholis berguman dalam hatinya. Tapi saksi mata saat itu mulai berkicau, “ehem, uang liat dan uang tutup mulut nih harus ada”, Mas Andy selaku security pondok pesantren senyam senyum sambil sedikit mengancam, “bagaimana Pak Doel, betulkan harus ada uang tutup mulutnya”, begitu Mas Andy mengajukan persyaratan sulitnya sambil kerlingkan mata ke arah Pak Doel minta dukungan, dan akhirnya, “ya sudah … buat Mas Andy 20 ribu, dan buat Pak Doel cipiki cipika dari saya …”, Pak Nuruddin menyerahkan uang tutup mulut ke Mas Andy lalu bergegas ke arah Pak Doel untuk memberikan ‘kecup mesranya’, “yeeek, najis … mending sama tembok atau sama ikan mujair yang ada di kolam depan dari pada dapet cipiki cipikanya Pak Nur, hiiii, najis”, Pak Doel bergegas meninggalkan ruang transaksi.

Pak Nurkholish yang sangat mencintai tanaman dan bunga-bungaan mulai mengkhayal, “ah … dapet fresh money buat apaan yah, angrek, pupuk, pot, pokoknya banyak deh … nih duit harus habis, semua buat bunga-bunga cintaku, kasihku”.

Skenario mulai disusun, menentukan rute pulang yang melewati stan-stan penjualan bunga di sepanjang jalan trawas menuju rumah Pak Kholish. Tapi ternyata hari itu ada sasaran empuk untuk bawain hasil belanjaan, biasa … ini hari sabtu minggu ke IV, santri dapet jadwal pulang kampung. Seonggok daging berlemak, eh maaf … maksud saya … saat itu Anya sedang kebingungan, sebab jika pulang naik bison, ntar turunnya di mana? Sebab rumah Anya sangat dekat dengan lokasi semburan lumpur lapindo, Sidoarjo. Jalan macet, rute dari Mojokerto ke Surabaya tentu saja tidak melewati jalan menuju rumahnya. Pak Nurkholis yang sedang ‘berbaik hati’ sudah bisa menebak kesusahan apa yang sedang terjadi di hati Anya, lalu mulai membuat skenario untuk mendaulat Anya sebagai tukang pembawa belanjaan Pak Kholis, yaitu bunga, pot, pupuk, dan seabrek belanjaan lain. “Anya, nungguin siapa?”, Pak Kholis berbasa-basi, lalu Anya menjawab, “Ini Pak, bingung mau pulang naik apa, kata orang tua saya sih mau dijemput di pertigaan porong, tapi saya naik apa … om bison kan nggak lewat sana”, “kalau begitu bareng Pak Kholis saja, Bapak kan rutenya nanti lewat sana”. Anya sumringah, “beneran Pak, waaaaah, thanks, arigato, sye sye, makasih, and sukron, waaah, Bapak TOP BGT deh, sumpe …”.

Padahal di dalam hatinya Pak Kholish sudah tertawa lebar, “he… he… rasain, ntar angkutin belanjaanku, oh my sweety honey, sabar yah, ntar kamu dipangku makhluk itu (sambil melirik ke arah Anya), kamu jangan takut ketularan gendut wahai bunga sayangku, sabar, hanya beberapa menit koq”.
Perjalananpun dimulai, dengan kendaraan produksi negeri Sakura kesayangan, Pak Kholish menghidupkan mesin sepeda motornya dengan sekali pencet … brum, lalu … “Ayo Nya, naik di belakang, jangan sembarangan pegang ya, Bapak nih masih normal banget”, lalu Anya membalik ransel jeleknya sehingga menghadap ke depan … dengan hirarki Pak Kholish, Ransel dan Anya, mereka memulai perjalanan turun gunungnya dengan rasa dongkol di ‘hati’ supra fit, kendaraan Pak Kholish. Bagaimana tidak … kalau Pak Kholish sih enteng-enteng aja, tapi setelah ada Anya dan Ransel berisi pakaian kotor … kalau bisa bicara pasti si supra sudah bilang begini, “oh Tuhan, kasihanilah diriku ini, aku memang terbuat dari besi dan sedikit kaca, karet, serta plastik, tapi aku juga makhlukMu dan sedang teraniaya, Pak Kholish sih enteng aja, tapi makhluk yang ada di belakangnya … siapa dia, sudah berat, bau, nyebelin pula, dari tadi knalpotku itu diinjek-injek, tidak berperasaan, padahal untuk foot step sudah ada masih juga injak knalpot, oh Tuhan sungguh ini sudah melebihi batas mampuku, tapi karena aku sudah terlanjur jadi sepeda motor, maka … kuatkan aku Tuhan dengan dera derita yang sedang menerpa diriku yang malang ini … tapi Tuhan, benarkah bahwa dari setiap seruan hambaMu yang teraniaya maka do’a-do’anya diijabah, dikabulkan tanpa perhitungan, jika memang demikian, aku ingin jadi mercy saja, supaya aku lebih kuat dan beroda empat …”.

Ciiiit, rem diinjak keras, Pak Kholish melotot melihat bunga angrek berwarna ungu, “waaaaaa, cantik nian … kita liat bunga dulu Nya”, Anya hanya mengangguk dan turun dari sepeda motor, supra yang sedari tadi nahan nafas akhirnya menghelanya juga, “fuiiiih … anak gajah turun juga, tapi sepertinya hanya sebentar deh”, begitu komentar supra setelah kehilangan sedikit beban dipundaknya.

Pak Kholish mondar-mandir melihat-lihat bunga-bunga kesukaannya, duh sudah serasa di syurga yang bertabur bunga, lalu mulailah Pak Kholish coba menghitung uang hasil penjualan handphone dengan jumlah bunga yang bisa di borong, tapi ternyata skenario berubah, Pak Kholish hanya membeli satu pot bunga angrek, tapi dengan setumpuk kantong plastik yang berisi sekam, pupuk, pot plastik, dan banyak lagi. Dan Anya hanya bisa melotot melihat belanjaan Pak Kholis, “ini belanjaan mau diletakkan di mana?”, begitu fikiran yang terlintas di benaknya. “Ok, Nyak ini semua belanjaan dipangku, mari kita kemon”, Anya mulai kebingungan dengan tambahan beban berat yang harus dipangkunya, mau bawa diri sendiri saja berat eh sekarang angkut belanjaan Pak Kholish segala … Seharusnya yang berkeluh-kesah itu adalah supra, mulanya supra hanya bersiap dengan perkiraan beban yang akan ditimpakan di atas punggungnya kurang-lebih seperti tadi, tapi ternyata … “oh Tuhan percepat, percepat tuk kabulkan do’a hamba, aku sudah tidak kuat lagi …”, begitulah kira-kira supra berkata dan menyambung do’anya.

Belum jauh dari tempat pembelian bunga dan ciiiiit, rem diinjak lebih keras, “ada apa Pak, ada yang lupa dibeli, ini belanjaan sudah banyak banget, mau diletakkan di mana lagi?”, Anya protes dengan aksi injak rem Pak Kholish, lalu Pak Kholis menyahut, “kita beli duren dulu …”, sebelum Anya kaget ternyata supra sudah pingsan duluan, “ya Tuhan, Engkau sebaik-baik pencipta … jika harus ditambah duren, aku dijatuhkan ke jurang aja deh … oh Tuhan kasihanilah hamba”. Ternyata Anya juga berfikir sama layaknya supra, “haaa, durennya mau dipangku juga pak, saya bisa bocor trus langsing …”, ternyata dugaan mereka ‘berdua’ meleset, Pak Kholish ajakin Anya makan duren di TKP (tempat kejadian penjualan), “ya nggak lah, kita makan duren di sini aja, kamu suka duren kan”, “yeeee, suka banget”, Anya akhirnya sedikit lega. Ternyata duren disini murah banget, pohon duren Bu Nyai yang kemarin berbuah banyak tidak ada yang sempat untuk mencicipi buahnya, semua digondol Bu Nyai ke Surabaya, ya dengan terpaksa semua santri hanya bisa mencium baunya. Tapi kali ini, makan duren gratis, dibeliin Pak Ustadz, Tiga duren sudah di kupas, seluruh sudut ruang dalam lambung Anya sudah terisi dengan duren gratisan. “Ah enak banget, huuueeeeeek …”, Anya bersendawa sambil memegang perutnya.

Setelah membayar secukupnya ke Ibu penjual duren, Pak Kholish memberi komando untuk segera melanjutkan perjalanan, “Anya, ayo kita berangkat …”, dengan sedikit kebingungan, Anya mulai menata ransel, pot, bunga, kantong plastik, dan sebagainya … semua disusun menggunung di pangkuannya, perjalananpun dimulai, brumm …. Tariiiiik. Pemandangan indah Trawas dan sekitarnya meminimalkan kepenatan yang hinggap dikepala Anya karena dapet ‘tugas’ penting untuk membawa barang belanjaan Pak Kholish, sesekali Pak Kholish melihat santrinya dari kaca spion … duh kasian Anya, pasti duduknya sudah di ujung banget, dikebut biar cepet sampe, ntar Anya jatoh … wah lebih beresiko, pelan-pelan aja deh.
Akhirnya penghunjung perjalanan menuju rumahpun tiba, Pak Kholis berhenti di pertigaan porong, “Anya, kamu turun di sini ya?”, Pak Kholis bertanya pada Anya, sedangkan Anya masih bingung … koq gak ada yang ngejemput yah, “em, iya Pak, saya turun di sini saja, rumah saya sudah deket koq, hanya satu kali naik kendaraan umum”. Bukan hanya Anya yang berasa lega, supra akhirnya bisa meluruskan punggungnya, “aahhh, anak gajah sudah turun, akhirnya aku bebaas, terima kasih Tuhan …”.
Setelah beberapa menit memastikan bahwa Anya benar-benar nggak dijemput, Anya memutuskan ikut ngompreng truk sapi yang bergerak sejalan dengan arah rumahnya, setelah dekat dengan gang masuk menuju rumah … brak … brak, Anya memukul bak truk sapi sekuat tenaga sebagai tanda kalau Anya sebagai ‘penumpang’ ingin turun. Truk sapi akhirnya melambatkan lajunya, “ayo mbak, loncat aja, nggak apa-apa koq, negara gak akan rugi kehilangan orang seperti mbak …”, kernet truk ‘mempersilahkan’ Anya untuk loncat dari truk sapi mereka. Anya hanya menghela nafas, dan satu … dua … tiga …, Anya meloncat dan … hup, mendarat dengan kaki duluan, untung bukan jidat duluan, bisa benjol …

Assalamu’alaikum … Anya berteriak sambil mengetuk pintu rumahnya. “Koq gak ada yang bukain ya … Apa sedang pergi semua nih seisi rumah?”, Anya kebingungan karena salamnya tidak dijawab, tapi sayup-sayup dia mendengar, “wa’alaikum salam, siapa yah?”, Dek Mira menyahut dari dalam rumah, Anya kegirangan, “Ini Mbak Anya, bukain pintu dong …”, pinta Anya pada Mira, ternyata Mira tidak mudah percaya dengan bujuk rayu ‘tamu’ di depan rumah, “alah bohong, rupanya hari gini pengemis pake ngaku-ngaku sebagai Mbak Anya segala, memang sih Mbak Anya bertampang pengemis, tapi plis deh … kamu yang diluar jangan ngaku-ngaku sebagai Mbak Anya-ku”, mendengar jawaban dari Mira, Anya akhirnya naik pitam lalu berteriak lantang, “Deeek Miiraaaaaa jeeleeeeeek, ini Mbakmu Anyaaaaa”. Mendengar gelegar suara Kakak perempuannya, Mira semakin ketakutan dan melaporkan kejadian tersebut pada orang tuanya, pertama Mira menghampiri Ayahnya, “Ayah, ada orang ngaku-ngaku Mbak Anya, trus dia teriak-teriak …”, Ayah yang sedang asyik nonton TV cuek bebek, “bilangin ke Ibumu, trus siapin duit receh biar orang yang di depan rumah kita cepet pergi …”, dek Mira menyambut baik usul ayahnya dan menuju dapur menghampiri ibunya, “Bu, ada orang ngaku-ngaku sebagai Mbak Anya di luar, kata Ayah kasih duit receh aja biar cepet pergi …”, Ibunda Anya masuk kamar dan mengambil 3 keping duit cepekan, lalu setelah buka pintu … dipandanginya Anya sudah berasap-asap … “lho, Anya … pulang koq nggak bilang-bilang, santri koq pulangnya sering banget, memangnya di pondok nggak ada kegiatan?”. Anya yang sedang memendam dongkolnya di hati langsung nyelonong masuk ke dalam rumah dengan mata melotot mencari-cari adiknya Mira. Tapi sayang, Dek Mira sudah melarikan diri ke tempat pengaduan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang terdekat untuk mencari perlindungan.

Ah, … Anya sudah sampai di rumah, mau mandi ntar aja deh, ditotal besok pagi aja, sekarang bobo dulu, sweet dream and nice ler (tambahin I di depan ler) … dasar TT (tukang tidur).

No comments:

Post a Comment

Ingin berkomentar? cerita yang baik-baik saja, karena DIA suka dengan hal yang baik-baik. Siapa yang membuka aib, maka di akherat ALLAH akan membuka aibnya ...