Friday, April 4, 2008

Perpisahan (AMG)

Pertengahan Januari 2007, Perpisahan
Hari itu terasa sedikit berbeda, beberapa santri menyodorkan loose leaf untuk diisi biodata serta pesan dan kesan kepada Pak Doel. Tetapi hari itu Rara sembunyi mengurung diri, Pak Doel sempat mencari-cari batang hidungnya, koq gak ada yah, apa sakit ..? tanya Pak Doel dalam hati.

Setelah kelas bubar, Rara datang menghapiri dengan secarik kertas loose leaf yang dilipat empat, Pak Doel tidak berani memandang wajahnya, terasa sekali kesedihan di dada Rara, kanapa juga harus sedih, mungkin jawabannya ada dalam secarik kertas yang dia sodorkan. Pak Doel menerima kertas pemberian Rara dan memberikan senyum kecil pada Rara, “makasih ya …”, walau hanya sekelebat, Pak Doel melihat mata Rara yang berkaca-kaca dan tetes air mata jatuh membasahi lantai, Rara menangis? Untuk apa dia menangis, untuk diriku yang tampan inikah, hua… ha… ha… Pak Doel ke-GR-an.

Hey Pak
Duh seneng nih bisa bebas dari anak-anak MBI. Pak, U koq tega sama Q, jangan pergi dong Pak … pliiiis . Pak, besok kalau sudah nggak ngajar di sini lagi masih mau maen ke sini kan? Pak, Q pasti kangen sama Bapak, knapa sih pak Pake ke Jepang segala. Trus knapa dulu Qt pernah kenal … Huh Q sebel ama Bapak … tw g’ Pak, U tuh guru yang bisa buat aku nangis (maksudnya Q tu gak pernah nangis karena guru, aku kan bandel). Pak, kalo sudah di Jepang jangan lupa ma Q yaw … tetep sms kami biar ttp contact … Kapan-kapan kita lunch lagi yuk … enak lagi, makan gratis trus TAXI dibayarin juga seperti kemarin, he3 …
Bye2 Pak …


Ingin rasanya ikut haru biru, tapi ternyata beneran, Pak Doel itu seperi orang yang gak punya hati, ukurannya rasionalitas saja … jadi kalau gak suka sama orang, langsung to the point nyamperin orangnya biar hilang beban, luruskan jika memang ada perbedaan, dan begitu seterusnya.

Tapi untuk menenangkan dan menyenangkan Rara, tulisan Rara langsung dibalas dengan syair yang jiplak dari orang lain … hi… hi… pasti tau deh syairnya siapa

Waktu telah tiba, aku kan meninggalkan … tinggalkan kamu, tuk sementara … kau sayang aku dan bilang jangan pergi, tapi ku hanya dapat berkata … aku hanya pergi tuk sementara, bukan tuk meninggalkanmu selama, ku pasti kan kembali pada dirimu, tapi kau jangan nakal, aku pasti kembali … (Ratu)

Terbayang dalam benaknya bilamana Rara dan Merry membaca sms darinya, mereka akan membaca pesan perpisahan sambil menangis. Pak Doel berkata dalam hatinya, “maaf, aku pergi untuk ummat, untuk tegakkan agama dipuncak tertinggi kejayaan, kemuliaan yang telah dijanjikan olehNya untuk kita … tidak semua orang harus mendapat gelar doktor di ilmu sains, tapi harus ada orang yang merasa bertanggung jawab dari ummat ini, semoga aku menjadi bagian dari padanya… maaf, sekali lagi maaf”, ini bukan akhir, tetapi awal perjalanan panjang kehidupan menuju keredhoan ALLAH dalam kemuliaan agama yang sempurna.

Pak Doel mengirim sms rahasia untuk Rara, “Rara tadi nangis ya … knapa nangis, nangisin aku yah … ugh jadi gemes deh sama Rara, pengen cubit pipinya sampe ampun-ampun trus nangis lagi karena kesakitan … jangan sedih ya, salam buat Rois … bye2 jelek”. Canda sms seperti tadi mungkin akan begitu dirindukan Rara … bahkan oleh semua yang sering menerima sms iseng dari Babashong, arsitek yang mendadak guru

No comments:

Post a Comment

Ingin berkomentar? cerita yang baik-baik saja, karena DIA suka dengan hal yang baik-baik. Siapa yang membuka aib, maka di akherat ALLAH akan membuka aibnya ...